18 Warga Barru Tertahan di Filipina – Pare Pos
Metro Pare

18 Warga Barru Tertahan di Filipina

Ilustrasi

Gagal Menunaikan Ibadah Haji

BARRU, Parepos.co.id — Sebanyak 18 Warga asal Kabupaten Barru, tertahan di Filipina. Mereka diduga akan menunaikan ibadah haji menggunakan paspor Filipina. 18 CJH itu, tertahan di Imigrasi negara itu, setelah ketahuan menggunakan paspor palsu. Puluhan CJH itu, sebelumnya sudah berada di atas pesawat. Mereka akan diterbangkan menuju Madinah.Tiba-tiba disuruh turun untuk dilakukan pemeriksaan ulang.

Para calon jamaah haji ini awalnya masuk Filipina hanya jalan-jalan. Di Filipina mereka didaftar sebagai CJH seolah-olah warga Filipina yang akan menunaikan ibadah haji dengan menggunakan visa. Para calon jemaah haji ini, rela membayar antara Rp 150 juta hingga Rp 160 juta per orang.

Seorang keluarga Calon Jemaah Haji (CJH) jalur Filipina, Mahmud, yang ditemui di kediamannya, Senin, 22 Agustus, mengaku, telah berkomunikasi dengan saudaranya yang akan berangkat ke tanah suci melalui jalur Filipina. Perbincangan melalui via telepon dengan saudaranya mengaku, saat ini rombongannya berada di KBRI Filipina.

“Tadi malam saya sempat berbicara dengan sauadara saya, katanya sekarang dia ada di KBRI, di Filipina bersama dengan rombongan,” katanya.

Menurutnya, terkait dengan keberangkatan ke tanah suci itu, sudah dipastikan gagal. Padahal menurut dia saudaranya sudah membayar sebanyak Rp150 juta. Ia menceritakan, keberangkatan saudaranya itu melalui salah satu travel haji dan umrah di Barru. Travel itu diduga memfasilitasi keberangkatan calon jemaah haji asal Kabupaten Barru.

“Visa dan paspornya sudah jadi. Tapi tiba-tiba ia batal berangkat,”ungkapnya.

Sementara itu salah satu pemilik travel di kota Barru yang diduga memfasilitasi keberangkatan calon jemaah haji melalui jalur Filipina berinisial HM yang dihubungi via telepon Senin, 22 Agustus mengaku, dirinya hanya sebatas memperkenalkan saja warga dengan seseorang di Filipina.

“Setelah itu kami serahkan sepenuhnya kepada orang di Filipina. Jadi saya hanya memperkenalkan saja dengan seseorang dan terdaftar 18 orang di Kabupaten Barru,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangkep, Jamaruddin, mengakui, pihaknya belum mengetahui secara pasti adanya warga Pangkep yang berangkat haji melali Filipina.

“Kami belum mendapat kabar bahwa diantara ke 177 warga SulSel, yang ditahan di Bandara Manila Filipina itu, ada warga Pangkep. Semoga tidak ada warga Pangkep,” kata Jamaruddin.

Menurutnya, warga SulSel yang berangkat haji melalui Filipina, di luar kontrol Kemenag.
“Saya juga heran kenapa mereka berangkat haji menggunakan paspor Filipina. Kan, kita punya E-KTP,” katanya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pangkep, Mustari, mengungkapkan, sampai saat ini tidak ada warga Pangkep yang terdata pindah kewarganegaraan ke Filipina.

Salah satunya Travel Haji dan Umroh Tzakiyah Global Mandiri cabang Pangkep, mengaku tidak pernah melayani travel tour Haji dan umrah melalui jalur Filipina. Sebanyak 177 WNI diperiksa intensif saat melakukan check in di Bandara Filipina untuk pergi ke Jeddah. Mereka dicurigai imigrasi setempat sehingga otoritas terkait menginterogasi dan melakukan verifikasi. Hasilnya diketahui, para WNI ini diyakini akan menunaikan ibadah haji menggunakan quota Filipina.

“Mereka diduga kuat menggunakan dokumen palsu yang diatur oleh sindikat di Filipina,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal seperti dilansir jpnn.

Menurut Iqbal, KBRI Manila telah berkoordinasi dengan otoritas imigrasi Filipina terkait hal ini. Bantuan logistik dan komunikasi juga telah dilakukan oleh KBRI Manila.

Sekedar info, imigrasi Filipina memberi sinyal akan membereskan kasus sindikat kuota haji ini. Caranya dengan meneruskan kasus ini ke pengadilan agar sehingga sindikat tersebut terbongkar. (awi-mad/ril)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!