Jalan Ilegal Menuju Tanah Suci – Pare Pos
Nasional

Jalan Ilegal Menuju Tanah Suci

Safaruddin

60 Warga Wajo Terdampar di Manila

WAJO, Parepos.co.id — Sebanyak 177 Calon Jamaah Haji (CJH) asal Indonesia yang menggunakan kuota Filipina harus terhenti. Mereka diduga menjadi korban penipuan sindikat di Filipina. Dari 177 CJH itu, sebagian besar berasal dari Sulsel. Informasi yang dihimpun PARE POS, sebanyak 60 orang, berasal dari Kabupaten Wajo dan 18 orang asal Barru.

“Ada itu orang Wajo yang diberangkatkan pagi-pagi, di Islamic Center dan manasiknya dilaksanakan di salah satu hotel, di Kota Sengkang. Jumlahnya sekitar 60,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya.

Seorang korban, kata dia, warga asal Bottotene, Desa Ujungpero, Kecamatan Sabbangparu, diketahui bernama Rosdiana (30). Mereka diduga berangkat haji melalui jasa Travel AA dengan pembayaran sebesar Rp135 juta yang diangsur sebanyak tiga kali. Sebelum berangkat, mereka menggelar manasik di sebuah hotel SMN, Sengkang.

“Istri saya yang turut dalam rombongan JCH yang dicegat di Filipina ” kata, Amriadi, suami korban yang masih tertahan di Imigrasi Manila.

Camat Sabbangparu Andi Ismirar Sentosa, membenarkan salah satu warganya menjadi bagian dari CJH yang dicegat di Manila, Filipina. Rosdiana tinggal di Desa Ujungpero, Kecamatan Sabbangparu.  Selain Rosdiana, kata Andi Ismirar, sebanyak 5 warga dari Kecamatan Sabbangparu, juga berangkat haji menggunakan jalur Filipina.

“Itu betul ada warga saya yang turut dicegat di Filipina. Sekarang saya sedang di lokasi ketemu Pak Desanya (Kades), salah satunya itu atas nama Rosdiana. Empat warga lainnya berasal dari Desa Bentenlompoe. Identitasnya belum diketahui,” katanya.

Andi Ismirar mengaku, kabar adanya warga Wajo yang menjadi korban, tidak diketahui kepala desa (Kades) karena mereka berangkat haji melalui Filipina.
“Pemerintah setempat, hanya mengetahui yang berangkat ke tanah suci melalui Embarkasi Hasanuddin. Besok, saya infokan kembali dek, kalau sudah terkonfirmasi semuanya,” kata Andi Ismirar.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wajo, melalui Bagian Humas dan Protokoler, Hasri As mengatakan, saat ini pihaknya menunggu laporan dari Kementerian Agama (Kemenag) dan travel yang memberangkatkan para CJH tersebut.

“Kami berharap pihak keluarga korban JCH yang melalui Filipina, segera melapor agar kita bisa bantu. Pemkab sangat menyayangkan kejadian tersebut,” katanya.

Ia mengimbau, masyarakat berangkat haji sesuai ketentuan pemerintah dan menghindari nakal. Kepala Seksi (Kasi) Haji dan Umroh Kemenag Wajo, Suhdy Malik, mengatakan, pihaknya belum mengetahui adanya JCH asal Wajo yang dicegat Imigrasi Filipina.

“Mereka yang menggunakan jalur Filipina, menggunakan cara ilegal. Kami tidak tahu, itu ilegal,” singkat H Suhdy

Sebelumya, sebanyak 18 warga asal Kabupaten Barru, juga tertahan di Filipina. Para calon jemaah haji ini, rela membayar antara Rp150 juta hingga Rp160 juta per orang.
Sementara itu, Kantor Imigrasi Kelas II Kota Parepare, terus melakukan penyelidikan terkait adanya 177 CJH yang tertahan di Filipina. Di mana lebih dari 50 persen, CJH yang berpaspor Filipina merupakan warga Sulsel.

“Kita belum mendapat informasi dari kantor pusat yakni Direktorat Jenderal Imigrasi,” kata Heykel, Kepala Kantor Imigrasi II Parepare, Selasa, 23 Agustus, seperti dilansir pojok sulsel.
Saat ini, kata dia, pihaknya masih mencari informasi adanya CJH di Filipina, yang masuk dalam wilayah Kabupaten/kota yang dibawahi Keimigrasian Parepare termasuk dalam 177 CJH di Filipina.

“Jika ada kami temukan pasti akan kita informasikan dan kita akan membantu proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” katanya.

Korban Sindikat
Inspektur Jenderal Kementerian Agama M Jasin menyayangkan kejadian 177 JCH Indonesia yang berangkat menggunakan kuota Filipina. Para calon tamu Allah itu diduga memakai dokumen palsu. Menurut Jasin, mereka merupakan korban bujukan sindikat penipuan.

Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ini mengatakan, sindikat di dalam negeri yang membantu menipu calon haji itu harus dicari. “Nah, kalau dia dibujuk orang, orangnya siapa, itu yang perlu kita cari,” ujar Jasin.

Dia mengatakan, Kemenag menerjunkan tim untuk memverifikasi keberadaan pihak-pihak yang ikut bekerja sama dengan sindikat asing melakukan perbuatan yang melanggar ketentuan.
Sementara itu, Bareskrim Polri menyelidiki dugaan penipuan terhadap 177 calon jamaah haji asal Indonesia yang diamankan pihak Imigrasi Filipina. Mereka diamankan lantaran menggunakan paspor Filipina, di Bandara Ninoy Aquinoy, Jumat, 19 Agsutus lalu.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto mengatakan, pihaknya akan memulai penyelidikan terhadap biro perjalanan yang memberangkatkan 177 WNI itu. Sebab, besar dugaan tindak pidana dilakukan oleh biro perjalanan, mengingat 177 WNI menggunakan kuota Filipina untuk berangkat haji.

“Ada penipuan di situ. Kan dijanjikan berangkat pakai kuota haji Filipina,” kata Agus di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta..
Saat ditanya apakah pihaknya sudah memanggil biro perjalanan tersebut, Agus mengaku masih dalam proses. Agus juga belum mengetahui secara rinci, apakah biro perjalanan tersebut, terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag).

Bareskrim bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kemenag. Bareskrim sudah meminta Kemenlu untuk bersurat kepada otoritas Filipina agar 177 WNI tidak ditahan. (ile-mad/ril)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!