Keluarga Mabrur Semakin Cemas

by

Tenggat Waktu Tebus Sandera Berakhir

PAREPARE, Parepos.co.id — Tepat pada tanggal 25 Agustus 2016, batas akhir yang diberikan pemerintah dan perusahaan menebus warga Indonesia yang disandera Abu Sayyaf. Keluarga Muh Mabrur Dahri, Nirwana, mengaku sangat cemas atas keselamatan Mabrur. Ia hanya bisa berdoa kepada Allah agar anaknya bisa selamat dan kembali ke kampung halamannya. Nirwana menceritakan, dua hari yang lalu, Abu sayyaf meminta tebusan Rp45 miliar, menebus Mabrur dan WNI lainnya. Jika tidak ditebus, maka disandera akan dieksikusi.

“Saya belum ada kabar. Saya cemas sekali, saya tetap berharap kepada pemerintah dan perusahaan segera mengupayakan bagaimanapun caranya agar sandera bisa dibebaskan secepatnya,” ujarnya.

Selain itu, Nirwana mendengar kabar melalui televisi bahwa kondisi kesehatan Mabrur dan tiga sandera lainnya sedang menurun.

“Sudah sakit-sakit, ada yang diare, kena penyakit kulit karena jarang dia temukan air. Terkadang dia jalan terus ketemu sama sandera lain. Kadang di bukit, kadang di daerah laut dan berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya,” katanya.

Saat ini, sandera mendapat pengawasan sangat ketat setelah dua orang sandera berhasil melarikan diri. Sementara itu, kelompok bersenjata Abu Sayyaf dikabarkan telah mengeksekusi satu sandera asal Filipina bernama Patrick Almodovar, Rabu, 24 Agustus 2016 di Sulu.

Eksekusi dilakukan karena pihak keluarga tidak dapat membayar uang jaminan sebesar 1 juta Peso Filipina atau sekitar Rp285,5 juta. Patrick Almodovar yang berusia 18 tahun disandera Abu Sayyaf saat di Barangay Astrurias di Jolo pada 16 Juli. Namun hingga Militer Filipina, di Mindanao Barat, belum menerima laporan terkait eksekusi mati sandera yang dilakukan kelompok militan tersebut. Aparat Filipina terus menggempur Abu Sayyaf. Serangan ini, membuat WNI yang disandera semakin terancam. (dil/ril)