Krisis Air, Legislator Datangkan Mobil Tangki

by

PAREPARE, Parepos.co.id– Lebih 100 kepala keluarga (KK) yang berdomisili di Serumpun Masyarakat Andi Dewang (Samandewa) RT2/RW3, Jalan Pesanggerahan Kelurahan Sumpang Minangae, Kecamatan Bacukiki Barat mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau ini.  Sulitnya warga mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, anggota DPRD Parepare dari Partai Golkar, H Muliadi bertindak cepat dengan mendatangkan tujuh mobil tangki berisi air bersih untuk disalurkan ke masyarakat setempat.

Setiap tangki berisi 5 kubik air, sehingga jumlah air yang disalurkan dalam sehari mencapai 35.000 liter.  Warga pun terlihat antusias mengisi bak penampungan untuk persedian air bersih dua hari ke depan. Mulai dari wadah kecil hingga besar dipenuhi air dari mobil tangki yang parkir di lokasi penyaluran air tersebut.  Tak hanya mobil tangki milik PDAM, mobil tangki Pemadam Kebakaran Dinas PU dan Dinas Kebersihan pun turut andil melayani warga dalam penyaluran air bersih.  Salah seorang warga mengaku bersyukur dengan kepedulian H Muliadi sebagai wakil rakyat di DPRD yang mengetahui secara pasti kebutuhan warga di musim kemarau. “Kita dapat air bersih karena inisiatif pak Aji Muliadi yang berupaya mendatangkan mobil tangki berisi air bersih.

Sehingga warga di sini bisa mendapatkan pasokan air bersih,” ujarnya sambil mengisi baskomnya di Jalan Andi Dewang, kemarin. Senada juga disampaikan Ketua RT2, Zakaria yang berada di lokasi penyaluran air bersih. Zakaria mengatakan, warganya terlayani air bersih secara gratis karena kepedulian H Muliadi yang berinisiatif mendatangkan mobil tangki. “Kalau tidak salah ada tujuh mobil tangki yang datang tadi menyalurkan air bersih kepada warga di sini,” ujarnya. Ia mengungkapkan, wilayahnya merupakan langganan krisis air bersih setiap tahunnya musim kemarau. “Kalau musim kemarau itu, memang kami sulit dapatkan air bersih. Air PDAM juga tidak mengalir, apalagi tempat kami di daerah ketinggian,” kata Zakaria.

Lebih lanjut, Zakaria menjelaskan, warga hanya mengandalkan sumur umum untuk mendapatkan air bersih di saat kemarau. Itu pun, kata dia, harus berjalan kaki sejauh 300 meter.  “Biasanya kalau kemarau seperti ini, warga hanya ambil air untuk mandi, masak, mencuci di sumur yang jaraknya 300 meter. Itu kalau kemarau hanya 50 KK yang betul-betul kesulitan,” ungkapnya.  Dia mengungkapkan, penyaluran air bersih melalui mobil tangki karena difasilitasi oleh anggota DPRD Parepare, H Muliadi. “Awalnya warga menyampaikan keluhannya ke saya masalah air bersih. Saya yang menyampaikan ke Pak Aji Muliadi untuk memfasilitasi mendatangkan mobil tangki berisi air bersih itu. Nah itu terealisasi dengan baik. Warga pun senang. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kota yang sudah melayani warga kami air bersih dengan gratis,” beber Zakaria.
Kendati demikian, Zakaria berharap jangka panjang mengatasi krisis air bersih di musim kemarau, mengusulkan agar pemerintah kota bisa membangun bak penampung air di wilayahnya. “Kalau memang belum bisa diadakan sumur dalam, mungkin bak penampungan air lah. Ini untuk mengantisipasi kekurangan air bersih kepada masyarakat,” harapnya.  Legislator Golkar Parepare, H Muliadi yang menyaksikan penyaluran air bersih di Samandewa mengatakan, sebagai anggota DPRD memang sudah menjadi tugasnya untuk membantu masyarakat, apalagi masalah air bersih yang merupakan pelayanan dasar agar segera disikapi secara cepat, tepat dan nyata.
“Fungsi DPRD, selain kerja nyata, juga menjadi mediasi warga kepada pemerintah terkait apa kebutuhan rakyat, apalagi seperti air bersih harus disikapi secara nyata sesuai dengan tagline Parepare Peduli,” jelas Muliadi.
Dia menyebutkan, pelayana air bersih kepada masyarakat selain menggunakan mobil tangki PDAM, juga armada pemadam Dinas PU dan Dinas Kebersihan. “Tujuh tangki itu, ada lima tangki masing-masing tangki bersisi lima kubik air bersih disalurkan ke warga untuk kebutuhan sehari-hari seperti masak, mandi dan mencuci,” ujar Muliadi.
Ditambahkannya, harapan masyarakat untuk dibuatkan sumur bor ataukah reservoir (bak penampungan) tentu akan diperjuangkan.  “Kebutuhan dasar masyarakat adalah terpenuhinya air bersih. Sehingga memang di lokasi ini dibutuhkan sumur bor. Kalau tidak bisa sumur bor, minimal dibuatkan resorvoir untuk kebutuhan air bersih bagi lebih 100 KK. Penempatan reservoir tersebut tentunya mudah dijangkau baik mobil PDAM maupun masyarakat,” tandasnya.(anj/ade)