Taufan: FDS Butuh Kajian Secara Komprehensif – Pare Pos
Metro Pare

Taufan: FDS Butuh Kajian Secara Komprehensif

PAREPARE, Parepos.co.id– Rencana penerapan full day school (FDS) atau belajar seharian penuh di sekolah yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy di Indonesia, mendapat beragam tanggapan. Kebanyakan ditolak, termasuk dari kalangan menteri kabinet kerja.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof Yohana Yembise, tidak setuju penerapan FDS. Menurut Yohana, FDS membatasi waktu anak dan orang tua untuk bermain dan memberikan perhatian.
Orang tua, kata Yohana Yembise, memerlukan waktu bermain dengan anak-anak mereka di rumah maupun di luar. Selain itu, menurut Yohana kebijakan ini juga melanggar hak anak dan kesepakatan dalam konvensi Hak Anak Internasional.
“Kalau kebijakan itu diterapkan, maka akan melanggar konvensi Hak Anak yang sudah disepakati oleh Presiden lewat Peraturan Presiden,” jelas Menteri Yohana Yembise, seperti dilansir jpnn (Grup PARE POS).
Menurut ibu tiga anak ini, idealnya siswa belajar paling lama selama 7 jam. Sehingga setelah proses belajar mengajar di sekolah selesai, anak-anak memiliki cukup waktu bersama orang tuanya. Hal ini berguna untuk perkembangan kognitif, komunikasi dan motorik anak.
“Bisa saja sepulang sekolah orang tua mengajak anak-anaknya bermain ke taman, karena mereka juga membutuhkan perhatian orang tua. Sebab fungsi kontrol dari orang tua pun dinilai bisa diperhatikan secara langsung,” tuturnya.
Yohana mengatakan di satu sisi full day school ini diharapkan mampu membatasi gerak ruang dari anak-anak agar terhindar dari pengaruh buruk miras, tawuran, narkoba, pornografi dan seks bebas. Namun, kata Yohana Yembise penerapan aktivitas anak di sekolah hingga sore hari bukan menjadi sebuah solusi.
Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe, menilai program FDS perlu dilakukan kajian secara komprehensif. FDS cocok diterapkan di kota-kota besar seperti Jakarta.
“Ini kan otoda, masih perlu kajian, apakah cocok diterapkan di Parepare atau tidak. Jika kita lihat geografis Parepare, saya rasa Parepare tidak sama Jakarta, tidak jauh. Jadi masih perlu kajian yang komprehensif,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Barru, Dr A Bustan yang dikonfirmasi, Kamis, 11 Agustus, mengatakan, rencana Mendikbud terapkan satu hari belajar penuh di sekolah perlu dikaji agar tidak menimbulkan dampak lain.
“Sebenarnya bagus sekali rencana Mendikbud menerapkan sekolah satu hari penuh. Namun, itu harus dikaji ulang,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo H Jasman Juanda, mengaku, pihaknya belum siap menerapkan FDS. Menurutnya, penerapan FDS membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.
Selain itu, kata Jasman, penerapan kurikulum FDS dikhawatirkan mengganggu jadwal mengaji anak-anak. Peserta didik yang masih duduk di bangku SD, memiliki aktivitas sepulang sekolah seperti mengaji.
“Jika FDS diterapkan, maka biaya operasional sekolah akan bertambah. Pengeluaran orang tua juga semakin besar. FDS perlu dilakukan kajian mendalam,” katanya.
Orang tua siswa, mengaku, tidak setuju penerapan sekolah sehari penuh. Menurutnya, sekolah sehari penuh akan mengajarkan anak-anak menjadi malas. “Kalau kita di Barru saya kira belum bisa, apalagi anak-anak tidak terbiasa,”ungkapnya.
Peserta didik SMP di Sengkang, Nira, mengaku belum siap mengikuti program FDS. “Susah kalau itu yang diterapkan, mana mau kerja PR lagi, susah ngatur waktu,” katanya. (mad-ile/ade)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!