Waspada Peredaran Permen Mengandung Narkoba

by

SUMSEL,Parepos.co.id– Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap jaringan dan sindikat narkoba yang tengah menyasar penggunan usia dini, yaitu anak-anak dengan iming-iming permen beraneka warna. “Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran narkoba dengan modus permen beraneka warga dan harga murah Rp 1000 hingga 3000 rupiah, ” kata Mensos di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Pondok Pesantren Ar-Rahman, Kabupaten OKU, Sumatera Selatan, Senin 22 Agustus 2016.

Selain murah, kata Mensos, permen yang mengandung narkoba juga dilapisi Lysergic Acid Diethylamide (LSD) menjadikan anak-anak tertarik, karena lucu dan menyukainya. Dampak yang ditimbulkan korban-korban pun sudah berjatuhan. “Kami temukan di Makassar, ada anak berumur 4, 5, dan 7 tahun yang menjadi korban narkoba dan saat ini sedang menjalani rehabilitasi sosial di IPWL setempat, ” ucapnya. Pada kondisi tersebut, diperlukan penguatan informasi dan kampanye kepada masyarakat bahwa jaringan dan sindikat narkoba, selain membidik usia dini, juga tengah membuat market baru narkoba di Indonesia. “Diperlukan informasi dan kampanye yang kuat agar masyarakat mengetahui format dari zat-zat adiktif hingga dicampur dengan makanan dan permen, ” tandasnya.

Bisa dipastikan dampak dari penggunaan ganja dan sabu, lebih 60 persen mengalami gangguan psikotik, termasuk korban anak-anak. Namun, bagi anak-anak selama dilakukan penanganan relatif mudah untuk disembuhkan. “Lebih 60 persen pengguna ganja dan sabu akan mengalami psikotik. Sedangkan,  bagi anak-anak selama dilakukan penanganan relative bisa lebih cepat disembuhkan, ” katanya. Saat ini, ada 160 IPWL yang memberikan pelayanan dan penjangkauan bagi korban penyalahgunaan narkoba di Indoenesia, salah satunya yang dilakukan oleh Ponpes Ar-Rahman. “Ke- 160 IPWl itu ada dalam koordinasi Kementerian Sosial (Kemensos) dengan target hingga Desember 2016 bisa merehabilitasi sosial 15.430 korban penyalahgunaan narkoba, ” tandasnya.

Setiap IPWL memiliki layanan dan penjangkauan, baik berbasis panti maupun non panti. Namun, biasanya jumlah korban yang direhabilitasi non panti dua setengah kali lipat lebih banyak daripada yang di dalam panti. “Alhamdulilah IPWL yang hadir hari ini, mereka yang mendapatkan support Kemensos.  Jadi,  jika ada acara di satu IPWL maka IPWL lainnya pun turut hadir, artinya ada kebersamaan yang solid di antara mereka, ” katanya. (ade)