Pekani Ini, Mabrur Dibebaskan – Pare Pos
Metro Pare

Pekani Ini, Mabrur Dibebaskan

Ilustrasi

Terima Kasih kepada Pemerintah

PAREPARE, Parepos.co.id — Keluarga korban sandera Abu Sayyaf asal Kota Parepare,  Nirwana, mengaku lega dan bersyukur setelah mendapat kabar bahwa ponakannya Muhammad Mabrur Dahri segera dibebaskan dari tangan penyandera. Nirwana mengaku, senang setelah mendengar kabar dari media dan bocoran sedikit dari pihak pemerintah bahwa Muhammad Mabrur Dahri akan dibebas. Selain itu, ia  mengatakan, kondisi kesehatan Mabrur sangat baik.

“Alhamdulillah sudah lega, kami mendapat kabar bahwa Mabrur segera dibebaskan minggu ini. Kondisi kesehatannya juga sangat baik. Saya berkomunikasi lewat telepon, Sabtu, 24 September,” katanya kepada PARE POS, Senin, 26 September.

images

Nirwana juga mendapat informasi bahwa Mabrur akan dibebaskan dua hari lagi. Saat ini, Mabrur masih  berada di tangan penyandera  di Filipina, belum diserahkan ke pemerintah RI.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah yang sudah berusaha keras sehingga keluarga bisa berkomunikasi dengan Mabrur,” ucap warga Jalan Ajatappareng, Kelurahan Ujung Sabbang, Kecamatan Ujung ini.

Sebelumnya, Senin, 26 September, Mabrur dibebaskan, Sabtu, 24 September. Bersama Mabrur juga dibebaskan seorang sandera lainnya, asal Palopo, Edy Suryono.

Keduanya dibebaskan oleh Kivlan Zein dan Nur Mizuari, pejuang Moro di Filipina. Kivlan Zein mengaku, jika kelompok Abu Sayyaf minta tebusan jutaan peso, tapi mereka tidak diberikan.

“Kami hanya berikan makanan dan pakaian untuk dibarter dengan dua sandera,” ungkap Kivlan Zein seperti dikutip Jawa Pos (Grup PARE POS).

Kivlan mengungkapkan, perundingan untuk membebaskan dua orang tersebut terus diupayakan. Apabila keduanya berhasil dibebaskan, tidak ada lagi WNI, baik yang berasal dari kapal TB Charles maupun kapal-kapal lainnya.

“Kalau tahanan dari negara lain masih ada. Tapi, biar negara masing-masing yang mengurusnya. Tanggung jawab pemerintah kan hanya WNI,” ujarnya.

Kivlan berharap tidak ada lagi WNI yang menjadi sandera kelompok separatis yang berbasis di Filipina Selatan tersebut.  Dia meminta kapal-kapal yang melintas dekat perairan Sabah atau Filipina Selatan lebih waspada.

“Kalau perlu, ada tiga orang yang dipersenjatai di atas kapal untuk berjaga. Penculik tidak akan berani kalau dijaga begitu,” katanya.
Para ABK TB Charles ditangkap pada 23 Juni lalu oleh dua faksi berbeda di Abu Sayyaf. Robin Piter dan M Nasir saat ini diakui dibawa oleh faksi Al Habsy. Sedangkan, Ferry Arifin, dibawa oleh faksi lain yang belum diketahui identitasnya.

Mata-mata
Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan informasi dari TNI bahwa ada indikasi mata-mata militan Abu Sayyaf di Indonesia. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Tentu tidak boleh ada mata-mata kelompok yang mencari keuntungan dari warga Indonesia dengan menyandera. Kalau ada, kami proses,” tegasnya.

Mata-mata kelompok Abu Sayyaf pernah ada pada 2011-2012. Seorang mata-mata ditangkap di Manado. Dia menggunakan paspor palsu Indonesia.

“Di pengadilan dipastikan dia orang Abu Sayyaf. Kalau tidak salah, kasus yang ini sudah sampai putusan pengadilan dan bersalah,” ujar mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut.

Di Indonesia mata-mata yang telah tertangkap itu langsung berkomunikasi dengan Abu Sayyaf. Bahkan, dia mengirimkan uang kepada kelompok tersebut. “Dia ini orang dari Filipina Selatan,” jelasnya.

Apakah kali ini juga ada orang dari Filipina Selatan? Tito menyatakan perlu mendalami terlebih dahulu. Yang pasti, ada kemungkinan mata-mata itu ingin mengetahui pergerakan pemerintah Indonesia. “Kita lihat nanti, ya.”

Sementara itu, pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan bahwa jaringan kelompok Abu Sayyaf menyebar se-Asia Tenggara. Karena itu, sangat mungkin kelompok yang kerap menyandera warga negara Indonesia tersebut memiliki mata-mata.

Menurut dia, tentu saja mata-mata itu harus segera ditangkap. Hal tersebut dilakukan agar tidak semakin merugikan Indonesia.

“Kalau tidak ditangkap, tentu mengancam WNI terus,” terangnya seperti dilansir JAWA POS.

Di sisi lain, kerja sama dengan pemerintah Filipina bisa saja dikembangkan tidak hanya saat membebaskan WNI. Tapi juga untuk memberantas kelompok Abu Sayyaf. Sebab, kelompok itu sudah menjadi ancaman internasional. (mg9/ril)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!