Profesor Tikus’ Ajari Ahli Hama di IPB Bogor – Pare Pos
Ajatappareng

Profesor Tikus’ Ajari Ahli Hama di IPB Bogor

ILWAN/Parepos.co.id -- BAWAKAN MATERI. professor Tikus asal pinrang, anas Tika saat memberikan materi di hadapan para ahli pertanian dan hama peyakit di Kampus fakultas pertanian ipb bogor, jawa barat.
PINRANG, Parepos.co.id — Meski hanya mengenyam pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), Anas Tika, tidak per nah menyerah, ia terus berinovasi dan berhasil menciptakan perangkap tikus di Pinrang. Berkat prestasinya, Anas Tika diberikan gelar ”Profesor Tikus”.
Pengalaman dan kecerdasannya di sektor pertanian, membuat warga menyebut Anas Tika sebagai “Profesor Tikus” dari Pinrang itu diundang khusus menjadi pemateri pada pelatihan Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknologi Produksi Benih Tingkat Nasional, di Kampus IPB Bogor, Selasa, 27 September.
Anas Tika membawakan materi tentang cara pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit di hadapan sejumlah ahli hama nasional, pejabat dari Kementerian Pertanian, dan peserta Bimtek dari berbagai provinsi di Indonesia. Di hadapan mahasiswa
Fakultas Pertanian IPB Bogor dan ahli hama dan penyakit, putra Pinrang itu, membawakan materi dengan lancar dan dengan gayanya yang khas, menarik perhatian peserta.
Selain memberikan materi tentang hama dan penyakit, pria berusia 44 tahun ini, juga memaparkan teknik pembuatan kompos tikus
untuk menjadikan pupuk. Penyuluh Swadaya di Kabupaten Pinrang ini, mengaku bangga bisa berbagi pengalaman, cara memberantas
hama tikus dengan peserta Bimtek.
Selain itu, Anas Tika, menceritakan, pengalamannya memproduksi pupuk organik dengan menggunakan bangkai tikus yang difermentasi menjadi pupuk organik. Karya ini mengantarnya meraih predikat Petani Teladan Tingkat Nasional. Ia menceritakan, dirinya mencoba merancang alat atau perangkap tikus karena bertahun-tahun tanaman padinya selalu gagal panen karena dimangsa tikus.
Anas mulai merintis tahun 1992, kala itu, ia bingung, bagaimana cara mengatasi serangan tikus menyerbu padinya. “Sekali tikus menyerang, ratusan hektar padi musnah. Saya diam-diam mengamati perilaku tikus yang suka bersarang di pematang sawah. Kami menemukan pola penyerbuan kawanan tikus pada malam hari, dengan lebih dulu menyusuri pematang sawah,” katanya.
Awalnya, Anas membangun tembok di sekeliling sisi luar pematang sawahnya. Akhirnya, mampu menangkap tikus dalam semalam
5-7 tikus setiap lubang. “Bayangkan, berapa ratus tikus yang masuk pada 70-80 kotak perangkap yang ia tebar keliling sawah,” katanya.
Anas tampaknya paham, naluri tikus saat mencium bau bulir-bulir padi di tanah. Kemudian, salah satu sudut lahan yang dikelilingi
tembok, ia siapkan petak persemaian padi. Pada saat tanaman padi yang utama mulai berbuah, ia juga menebar benih di petak persemaian itu. Benih yang disemai memancing tikus berdatangan.
Tikus yang masuk perangkap dibenamkan ke air saluran tersier hingga mati. Setelah itu, bangkainya ditumpuk dalam sebuah sumur fermentasi. Selama 2-3 pekan, cairan dari bangkai ditampung untuk dijadikan pupuk di persemaian padi. Sebagian dari komponen
bangkai itu disimpan Anas.
Ia mengantisipasi kemungkinan ada pihak yang berminat meneliti hewan pengerat ini. ”Siapa tahu ada orang yang tertarik meneliti gigi dan rahang hewan pengerat itu,” katanya.
Hasil dari bertani menopang tekad keluarga itu untuk menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. Anas ingin kedua anaknya kelak menjadi petani modern. Anak sulungnya, Eka Pertiwi, kini duduk di SMK Pertanian. Si bungsu, Eko Budiman,
kelak diarahkan mengikuti kakaknya. (ilo/ril)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!