Premium Turun, Solar Naik Rp300

by

PAREPARE,Parepos.co.id — Terhitung mulai 1 Oktober 2016, (hari ini) pemerintah menurunkan harga premium Rp300 menjadi Rp6.250 per liter. Sedangkan harga solar naik Rp600 menjadi Rp6.150 per liter. Kebijakan menaikan dan menurunkan BBM berdasarkan harga minyak dunia.

Manajer SPBU Ujung Bulu, Bram, Jumat, 30 September, mengatakan, rencana kenaikan harga BBM tidak menimbulkan antrean di SPBU Ujung Bulu, aktivitas penjulan solar tetap berjalan lancar.

“Saat ini masih berjalan normal, kami tetap menganpera (membeli minyak dari pihak Depot Pertamina) dengan harga saat ini. Ini sudah menjadi risiko bagi kami,” katanya.

Dia mengaku, mendapatkan informasi dari media, rencana kenaikan dan penurunan harga  BBM. Ia mengaku, belum mendapatkan informasi resmi dari Pertamina.

Menurut Bram, peminat BBM jenis premium di Kota Parepare masih tinggi. Pengguna premium didominasi dari pengendara roda dua. Tetapi jumlah pembeliannya kecil dibanding pembelian pengguna roda empat.

“Pengendara roda dua membeli Rp10.000 hingga Rp15.000. Pengguna roda empat itu kan lebih tinggi pembeliannya,” jelasnya.

Selama dua hari terakhir, terjadi peningkatan pemakaian BBM, sekitar 70 hingga 100 kendaraan yang mengisi BBM. Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja menjelaskan, saat ini pihaknya melakukan kajian final sebelum harga baru BBM diumumkan. Ada dua hal yang menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan harga baru.

“Berdasar data dan pertimbangan stabilitas,” ujarnya kepada Jawa Pos (Grup PARE POS).

Berdasar data, Ditjen Migas menetapkan harga premium di Jawa, Madura, dan Bali dari Rp6.550 menjadi Rp6.250 per liter. Sedangkan solar dari Rp5.150 menjadi Rp5.750 per liter.

“Solar naik karena MOPS (Mean of Platts Singapore) sebagai pembentuk harga juga naik,” tambahnya.

Selain itu, subsidi solar yang dikepras dari Rp1.000 menjadi Rp500 per liter ikut memengaruhi. Kenaikan tersebut akan terasa tinggi karena harga BBM bertahan selama enam bulan sejak April.

Kendati demikian, Wirat menegaskan, harga baru berdasar data bisa saja tidak sama dengan pengumuman nanti. Sebab, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak dari harga baru itu ke masyarakat.

Meski pemerintah menahan harga BBM selama enam bulan, Wirat memastikan pola yang digunakan untuk menghitung harga baru tetap tiga bulan.

Sementara itu, popularitas premium terus menurun. Merujuk data PT Pertamina, penjualan bensin dengan oktan 88 tersebut menurun hampir 50 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Itu membuat stok premium di dalam negeri lebih banyak.

VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyebutkan, pada semester pertama 2016 rata-rata penjualan premium masih 70 ribu kl per hari. Namun, pada Agustus penjualan turun menjadi 55 ribu kl per hari dan pada 20 hari pertama September menjadi 50 ribu kl per hari. (mon/ril)