Demi Pendidikan Karakter, Siswa Belajar 8 Jam

by

Guru di Parepare Memiliki Alasan berbeda

PAREPARE, Pareos.co.id — Mulai tahun depan pemerintah akan menerapkan penguatan pendidikan karakter di tingkat SD dan SMP. Konsekuensinya, baik siswa maupun guru akan lebih lama di sekolah, tetapi mereka akan libur di Sabtu-Minggu.

Menanggapi rencana Kementerian Pendidikan tersebut, sejumlah guru di Parepare memiliki pendapat berbeda, mereka memiliki alasan masing-masing. Sebut saja Kepala SMPN 8 Parepare Tri Astoto menilai, penerapan 8 jam belajar atau 40 jam dalam lima hari tersebut cocoknya di kota-kota besar, sedangkan untuk sekelas Parepare dinilai belum tepat.

“Kalau untk kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makassar itu memang sudah cocok, karena dikota besar dengan aktivitas yang tinggi. Tapi Parepare belum saatnya. Sebab, saat ini pun pendidikan karakter sudah mulai kita terapkan sesuai dengan K13 (kurikulum 2013),” kata Tri kepada PARE POS, Selasa 8 November 2016.

Menurut Tri, semestinya dilakukan dulu pemetaan di daerah-daerah, mana daerah yang ekskalasinya tinggi dan mana yang belum. Tetapi meski demikian, lanjutnya, bila aturan itu ditetapkan maka suka tidak suka pasti diikuti.

Mantan Kepala SMPN 10 Parepare ini juga mengingatkan masih adanya dua kurikulum yang saat ini diberlakukan dan tentu mengganggu proses pendidikan, mana yang diikuti. “Dan yang tak kalah pentingnya selesaikan dulu pedoman kurikulum yang harus diikuti, apakah KTSP atau K13, sebab sampai saat ini sekolah kebingungan menerapkan antara dua kurikulum yang masih sah dipergunakan,” bebernya.

Sementara pendapat lain diutarakan Kepala SMPN 2 Parepare, Hj Sri Enylutfiah. Mendukung penuh program pemerintah pusat tersebut dalam rangka peningkatan pendidikan karakter anak.

“Saya setuju denga itu, dengan demikian kita punya waktu membaina karakter anak di sekolah. Sementara Sabtu dan Minggu mereka dibimbing karakter oleh keluarga di rumah,” ujarnya via selular.

Sri mengaku siap menerapkan konsep karakter, sebab menurutnya, konsep itu sebelumnya melalui pengkajian dan uji coba, dan itu berhasil. Sehingga baik diterapkan.

“Ini sudah diuji coba di sejumlah sekolah, sehingga diterapkan. Mereka (Kemendikbud) sudah mengkaji lebih mendalam dan uji coba, sejumlah sekolah dilakukan pilot projek, dan berhasil,” terangnya.

Guru Fisika ini pun berharap sekolahnya terpilih menjadi salahsatu dari 500 sekolah yang akan ditunjuk uji coba menerapkan sekolah konsep karakter tersebut.

Sebelumnya, Kemendikbud menyatakan, konsep tersebut akan resmi diterapkan mulai tahun depan, 2017. Dalam pendidikan karakter, guru harus mendampingi siswa delapan jam selama lima hari. Dengan demikian, 40 jam waktu siswa dan guru dihabiskan di sekolah.

“Siswa dan guru setiap harinya delapan jam berada di sekolah. Namun, bukan berarti delapan jam ?itu tatap muka di kelas. Sebagian besar jam belajar dihabiskan di luar kelas,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Selasa 8 November.

Menurut Muhadjir, waktu tersebut akan terasa kurang bila guru sudah mendapatkan metode pembelajaran yang pas untuk anak didiknya. Terutama agar bisa membuat anak tidak cepat bosan dan justru betah.

“Saya yakin, kalau metodenya pas, anak-anak akan lebih suka di sekolah. Itu sebabnya tidak ada lagi PR di rumah karena sudah dikerjakan di sekolah. Sabtu dan Minggu, sekolah diliburkan. Selain itu pendidikan ekstrakurikuler dan intrakurikuler posisinya sama-sama penting,” terangnya.

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini membantah bila hak-hak siswa dan guru dirampas karena waktu bersama keluarga lebih sedikit.

“Ya tidak berkurang. Anak-anak dan guru-guru bisa full bersama keluarganya di hari Sabtu dan Minggu. Itu sebabnya, tidak boleh ada PR atau lainnya agar dua hari libur itu bisa dimaksimalkan,” tandasnya. (din)