Basir Halim: Polman Nantikan DIPA dan SID Cetak Sawah Baru – Hacked by TryDee
Sulawesi Barat

Basir Halim: Polman Nantikan DIPA dan SID Cetak Sawah Baru

Kepala Dispertapa Polman Basir Halim

POLMAN, Parepos.co.id — Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Tahun 2017, belum menerima rencana program pencetakan sawah yang telah direncanakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Sebelumnya, di Tahun 2016 Dinas Pertanian Kabupaten Polman telah sukses mencetak sawah baru seluas 900 hektare yang tersebar di beberapa di kecamatan, antara lain, Binuang, Anreapi, Matakali, Mapili, Tapango, Matangnga, Bulo, Luyo, dan Campalagian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertapa) Polman, Basir Halim mengatakan, Polman untuk tahun ini belum menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Survey Identifikasi Design (SID) sebagai dasar melakukan percetakan sawah baru. “Jadi untuk tahun 2017 belum ada rencana”, kata Basir.
Diakuinya, meski luasan lahan yang dimiliki Polman saat ini sudah dirasa cukup, namun program cetak sawah baru dilakukan dalam menyikapi program pemerintah pusat untuk penambahan areal dan memenuhi keinginan masyarakat.

Pasalnya, Kabupaten Polman sendiri sudah dianggap bisa menjadi penyangga pangan khususnya di wilayah Sulbar dan beberapa provinsi lainnya di kawasan Indonesia timur. “Cuma untuk 2017 kalau proyek itu ada, kita harus fleksibel melihat lahannya, kalau itu masih lahan produktif mungkin kita pertimbangkan, sesuai dengan arahan pimpinan bahwa yang masuk dalam program cetak sawah baru adalah tanah-tanah yang sudah tidak produktif lagi atau lahan yang belum terolah,”ujarnya.

Tahun ini tambah Basir, bantuan yang ada untuk Dispertapa untuk TA 2017 dari pemerintah pusat melalui APBN adalah Dana Alokasi Khusus (DAK) yang semuanya mengarah pada pembangunan masalah air, misalnya sumur dalam sungai dangkal, dam, cekdam, embun dan pipanisasi. Selain itu, ada juga bantuan untuk pengembangan padi, jagung, dan kedelai, cuma sampai saat ini masih belum diketahui berapa luasannya. Namun, yang jelas dana Upaya Khusus (Upsus) untuk TA 2017 masih ada,”ungkapnya.

Dijelaskannya, target Luas Tanam Padi (LTP) tahun 2016, daerah ini sudah melampaui batas target. Begitu juga untuk produksi padi kita sudah surplus sesuai data yang dia terima. Cuma yang sering menjadi kendala, kata dia, terkait dengan masalah penimbangan setelah panen. “Kadang dianjurkan untuk tidak melakukan penimbangan pada sore atau malam hari, tapi masih tetap dilakukan. Karena petani begitu selesai panen bisa menerima harga. Di lain pihak, gabah yang dari Polman lebih banyak keluar ke kabupaten lain. Namun itu bisa dimaklumi karena kemungkinan modal pengusaha penggilingan yang ada di Polman kalah kuat dibanding dengan yang ada di kabupaten lain,”jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena Dispertapa hanya melakukan pembinaan dan bimbingan ke petani sebatas bisa berproduksi. “Nanti ada sektor lain yang terlibat (masalah modal) sesuai yang diatur pemerintah,”imbuhnya. Untuk mendongkrak kesejahteraan petani, Basir Halim mengharapkan, petani mengikuti pola tanam dengan memperhatikan cuaca dan iklim. Terkadang petani tidak patuh dan tidak mengikuti pola tanam sesuai dengan yang diarahkan. Hal ini guna menghindari terjadinya kekurangan air, seperti yang terjadi di Tumpiling. Persoalan itu bisa diantisipasi, jika dilakukan setelah jaringan bagus karena masih menggunakan jaringan sekunder, tapi petani tetap bersikeras. Beberapa hal lain juga biasa menjadi keluhan petani yaitu masalah kekurangan sarana alat-alat pertanian seperti traktor perlu menjadi perhatian.

* Sukses Kendalikan Inflasi *

Selain padi, tanaman jenis lain juga dikembangkan seperti sayur-sayuran, dan tanaman holtikultura. Itu untuk mengantisipasi apabila terjadi kelangkaan kebutuhan pangan yang sering melonjak seperti cabe dan tanaman lain. Masalah seperti itu biasanya tergantung dengan musim, misalnya untuk jenis tanaman lombok atau tomat, dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi yang mengakibatkan produksi turun, apalagi bila bertepatan dengan momen hari raya, dimana kebutuhan akan meningkat.

Olehnya itu, Kepala Dispertapa Kabupaten Polman, Basir Halim akan mengantisipasi dengan melihat situasi dan kondisi maka penanaman dilakukan dua atau tiga bulan sebelumnya momen itu tiba. “Kalau di Polman sudah ada pengembangan tanaman lain termasuk di bidang peternakan sapi. Ini untuk mengantisipasi apabila ada gejolak harga terjadi sehingga memicu inflasi. Makanya kemarin Presiden Bank Indonesia memberikan penghargaan kepada Kabupaten Polman sebagai daerah pengendali inflasi terbaik di Indonesia Timur. Kedepan, Dispertapa akan mencoba untuk lebih fokus pada tanaman lain, karena sawah tidak mutlak hanya di tanami padi saja tapi dimungkinkan juga untuk tanaman jenis sayur-sayuran atau tanaman holtikultur. Pihakanya akan mencoba mengubah pola pikir petani untuk bisa mengembangkan tanaman lain selain padi. (wal/ade)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!