Pengusaha Dipaksa Jual Beras di Bawah Harga – Pare Pos – Online
Ekonomi

Pengusaha Dipaksa Jual Beras di Bawah Harga

PAREPOS.CO.ID, PINRANG – Serapan beras di Bulog Pinrang masih minim, karena pengusaha menjual berasnya di luar, atau bukan di Bulog. Makanya, Bulog melibatkan TNI dan Polri untuk mengawasi agar beras tak dijual di luar daerah. Hanya saja, upaya Bulog tersebut memantik reaksi pengusaha beras dan pengelola penggilingan padi. Soalnya, mereka menilai, mereka dipaksa menjual beras di bawah harga pasar umum ke Bulog.

Dalam rapat koordinasi yang digelar, di Aula Polres Pinrang, Sekretaris Perpadi Pinrang, Wahyu mengakui, merasa dirugikan jika Bulog memaksa pengusaha menjual beras ke Bulog, sedangkan harga pembeliannya di bawah harga pasar umum. Di pasar umum dibeli Rp8.250, sedangkan Bulog hanya membeli Rp8.030. Selain harga, masalah yang dihadapi pengusaha jika memasukkan beras ke Bulog, soal lamanya atrean mobil. “Kami biasa menunggu bongkar muat hingga dua hari, otomatis biaya operasional membengkak,” ungkapnya.

Menurut Wahyu, harga gabah dikalangan petani sudah mencapai Rp 4.700/kilogram. Semestinya, katanya, pemerintah mempertemukan pengusaha beras dengan pihak petani, berapa harga yang cocok sehingga tidak ada yang merasa dirugikan, baik dari pengusaha maupun petani. Kepala Subdrive Bulog Parepare, Asmal mengatakan, soal harga, pihaknya tidak bisa mengambil sikap, sebab bukan kewenagannya. Ia hanya berharap kepada pengusaha beras untuk membantu Bulog Pinrang mencapai target, karena tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat.

Terpisah, Ketua Asosiasi Kelompok Tani, Zaenal Abidin, juga kecewa dengan sikap Bulog yang terksesan mementingkan dirinya sendiri tanpa melihat kondisi petani. “Jika para pengusaha dipaksa menjual berasnya ke Bulog dengan harga sekarang, otomatis harga gabah ditingkat petani turun. Tentu petani dirugikan,” katanya.
Zaenal berharap penyerapan Bulog yang masih minim, tidak mengorbankan petani, dan masalah harga serahkan ke mekanisme pasar. Ia juga menyoroti rapat koordinasi tidak menghadirkan kelompok tani sebagi perwakilan petani.
Sebelumnya Bulog Pinrang mengaku belum maksimal menyerap beras panen periode Maret-September. Hingga Rabu 27 September, lalu baru 36 ribu ton beras dari petani Pinrang yang masuk ke Bulog. Padahal potensinya besar, bisa bisa mencapai 62 ribu ton.

Kepala Seksi Logistik Pinrang, Sub Divisi Regional Parepare, Arwan Taufik mengaku, masih minimnya penyerapan Bulog, karena petani Pinrang masih lebih banyak menjual gabah hasil panennya bukan pada Bulog.
“Karena gabah kita banyak keluar, otomatis kami juga akan kesulitan mendapat beras penggilingan di Pinrang,” tandasnya. Arwan mengaku, saat ini beberapa daerah lain serapan berasnya sudah mencapai 70 persen. Sementara Pinrang masih 60 persen, padahal daerah ini menjadi salah satu lumbung pangan. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top