Perputaran Uang Mandek, Berimbas Dikalangan Masyarakat Bawah – Pare Pos – Online
Ekonomi

Perputaran Uang Mandek, Berimbas Dikalangan Masyarakat Bawah

AKTIVITAS MASYARAKAT DI PASAR SENGGOL PADA MALAM HARI

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE– Perputaran uang dikalangan masyarakat khususnya golongan menengah kebawah menurun, akibat adanya inflasi Indeks harga konsumen (IHK) di wilayah Kota Parepare. Pengamat Ekonomi Kota Parepare, Yadi Arodhiskara menilai, inflasi IHK ini tentu berdampak pada perputaran ekonomi, daya beli masyarakat menurun mengakibatkan perputaran di area ekonomi kecil berkurang. Menurutnya, kenaikan harga konsumtif itu dipengaruhi dengan momen atau hari tertentu. Sepeti hari raya, dan penerimaan siswa baru. “Penghasilan masyarakat tetap sedangkan pada momen tersebut kebutuhan masyarakat bertambah dan tentu harga juga akan naik,” kata Dosen Ekkonomi Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) ini, Jumat, 13 Oktober.

Selain itu, Yodi juga menilai, sejumlah pengerjaan proyek di Parepare yang tidak memanfaatkan tenaga lokal menjadi salah satu pemicu. Pekerjaan proyek yang menggunakan APBD, namun yang mendapat gaji orang dari luar daerah dan tentunya mereka belanja di daerahnya. “Sehingga penghasilan masyarakat itu akan mandek, utamanya yang mengadalkan profesi sebagai pekerja proyek atau tukang batu. Itu sangat disayangkan, jika uangnya Parepare dinikmati oleh orang luar. Mengambil uang kita baru belanja di luar. Kan kasian masyarakat kita,” urainya.

Mestinya, hemat Yodi, pemerintah berdayakan tenaga lokal (Parepare), sehingga mereka mendapat penghasilan, dan penghasilan mereka tetap dibelanjakan di daerah (Parepare), sehingga pelaku ekoonomi kecil (pedagang kaki lima) pun mendapat pembeli. “Dengan demikian, terjadi perputaran ekonomi, walaupun kecil tapi sangat berarti,” ujarnya. Sebelumnya Kepala BPS Parepare Guruh Wahyu Martopo menjelaskan, inflasi di Kota Parepare untuk awal 2017 sebesar 0,93 persen.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi pada Kelompok Komoditas Bahan Makanan sebesar 1,97 persen. Seperti minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,08 persen. Berikutnya, Kelompok Komoditas Perumahan, seperti Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar sebesar 0,56 persen. Kelompok Komoditas Sandang sebesar 0,22 persen dan Kelompok Komoditas Kesehatan 0,22. Kelompok Komoditas Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga 0,02 persen dan Kelompok Komoditas Transport, Komunikasi dan Jasa Keuangan 1,69. Sementara rilis data pada Oktober ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Sulsel mengalami deflasi pada September 2017. Deflasi tersebut merupakan kali keempat sepanjang tahun ini.

Prev1 of 2

Click to comment

Most Popular

To Top