Ini Penyebab Proyek Fasilitas Kesehatan Ditunda – ParePos –
Metro Pare

Ini Penyebab Proyek Fasilitas Kesehatan Ditunda

Rahmat Sjamsul Alam

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE– Proyek fasilitas kesehatan akan ditunda pekerjaannya hingga tahun 2018, mendatang. Pasalnya, proyek yang menelan anggaran hingga miliaran rupiah tersebut dianggap tidak ideal dikerjakan di waktu tersisa sebulan lebih lagi. Apalagi lagi waktu pekerjaannya hanya 45 hari. Sementara ada pekerjaan konstruksi bangunan berlantai dua. Seperti proyek pembangunan Puskesmas Lemoe dengan pagu anggaran sebesar Rp5,2 miliar. Selain proyek Puskesmas Lemoe, dua proyek lainnya akan ditunda pekerjaannya tahun ini, dengan pertimbangan waktu dan kondisi cuaca yang sudah memasuki musim penghujan, yakni rehab Puskesmas Lauleng dengan nilai Rp1 miliar dan pekerjaan penataan halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau dengan nilai Rp1,2 miliar.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Parepare, Rahmat Sjamsul Alam yang dihubungi melalui telepon, kemarin. Dia menjelaskan, jauh sebelumnya adanya proyek fasilitas kesehatan tersebut, dari awal pihaknya berpikir mencoret Dana Infrastruktur Daerah (DID), akan dikembalikan ke pusat. Namun karena peruntukan DID itu sudah ada masuk dalam kas daerah, sehingga dana tersebut bisa digunakan pada tahun berikutnya.  Pertimbangan itu, maka pekerjaan fasilitas kesehatan tersebut dapat dilaksanakan pada tahun 2018, mendatang. Dia menyebutkan, pembangunan Puskesmas Lemoe dianggarkan sebesar Rp5,2 miliar lebih, Rehab Puskesmas Lauleng dianggarkan sebesar Rp1 miliar lebih dan penataan halaman RSUD Andi Makkasau dianggarkan Rp1,2 miliar.
“Intinya kegiatan ini kami komunikasikan dengan BPKP Provinsi agar tidak dilaksanakan tahun ini, dengan pertimbangan kondisi cuaca musim hujan dan waktu yang sangat sempit,” tegas legislator Demokrat ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Umpar, DR Muhammad Nashir yang dihubungi terpisah kemarin menilai, waktu pekerjaan 45 hari untuk sebuah bangunan berlantai dua mustahil. Itu karena umur beton saja antara 21-28 hari. Belum lagi, kata dia, kontruksi bagian bawah harus kuat untuk menopang beban yang besar, apalagi kalau membangun dari pekerjaan nol (P0). Namun, kata dia, bisa dikerjakan, tapi kualitasnya kurang bagus.
“Kalau umur beton bagus itu 28 hari. Belum lagi konstruksi bawah saja membutuhkan waktu untuk menguat perkerasan betonnya naik ke atas. Jadi kalau mau membangun dari nol atau P0, bisa dilakukan, tapi kualitasnya kurang bagus,” jelas Nashir.

Olehnya itu, ia berharap jika ada kontrak seperti itu, maka betul-betul disesuaikan dengan standar spesifikasi yang ada. “Perencanaannya jelas, kemudian pekerjaannya juga cukup jelas sesuai dengan perencanaan,” katanya.
Selain itu, kata dia, peran dan fungsi pengawas juga harus betul-betul ketat. “Kalau ada perencanaan yang sudah buat, kontraktor yang mengerjakan apa yang sudah direncanakan harus diawasi oleh pengawas. Mulai dari tahapan-tahapan yang sesuai SOP, tidak boleh serta merta bersamaan dikerja. Kalau bersamaan semua tahapannya dikerja, maka bisa menyebabkan konstruksi itu, akan roboh. Artinya tahapan itu harus ketat, di sini peran kontraktor dan pengawas,” pungkas Nashir. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!