Nikahi Warga Pangkep, Ini Pengakuan Ali Hasan – Pare Pos
Style dan Keren

Nikahi Warga Pangkep, Ini Pengakuan Ali Hasan

Pernikahan beda negara, Ali Hasan dan Dewi

PAREPOS.CO.ID,PANGKEP– Pasangan suami istri berbeda negara dan budaya, Ali Hasan warga asal Punjab, Pakistan dan Dewi asal Kampung Paccelang, Kelurahan Anrong Appaka, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Indonesia telah melangsungkan pernikahan dengan budaya Bugis Makassar pada, Kamis 22 Maret 2018, lalu.

Awalnya pertemuan keduanya juga hanya melalui media sosial facebook, hingga berlanjut ke pelaminan. Ali Hasan didampingi istrinya Dewi bersama salah satu tetangganya yang kerap menjadi juru bicara keduanya, Sumarlin Syam saat berkunjung ke Logos Cafe and Resto sempat menuturkan rasa kebahagiannya dengan mempersunting pujaan hatinya. “Dewi suka marah-marah, tapi saya menyukainya,”kata Ali yang hanya terpaut setahun lebih tua dari istrinya, Minggu 25 Maret, siang tadi.

Ali Hasan pun mengakui, jika warga Pangkep sangat menjunjung tinggi adat ketimurannya. “Saya sangat senang berada di Pangkep. Kalau soal makanan, bukan sebuah persoalan, karena saya lebih menyukai makanan pedas,”jelasnya, dengan bahasa indonesia yang tidak terlalu fasih. Terkait rencana kedepannya, lanjut Ali, dirinya akan kembali ke negaranya terlebih dahulu untuk mempersiapkan agenda pernikahannya. “Saya balik ke Pakistan dulu, lalu setelah semua selesai. Akan kembali menjemput istri, kembali,”ungkapnya.

Terkait kedepannya, Ali memastikan akan mengurus kewarganegaraannya di Indonesia.” Saya ingin tinggal di Indonesia. Ingin berusaha disini, apa lagi banyak teman tinggal di Indonesia,”jelasnya. Senada diungkapkan, Dewi sebagai istri dirinya telah yakin karena suaminya respect dengan kultur dan budaya Indonesia.” Walaupun suami belum fasih berbahasa Indonesia, tapi bahasa tidak menjadi penghalang. Kalau bahasa keseharian, bisa jie napahami,”ungkapnya.

Sumarlin Syam lebih jauh menjelaskan, Ali Hasan sudah mengantongi rekomendasi dari Kedutaan Pakistan. Rekomendasi itu merupakan salah satu syarat bagi warga negara asing untuk menikah di Indonesia. Memang ini Ali, kata Sumarlin, tidak terlalu sulit bergaul karena paham akan bahasa melayu. “Kalau kondisi disini tidak jauh beda dengan dinegaranya,”singkatnya. Ditambahkannya, dalam proses pernikahan dengan kultur dan budaya, “Ali sempat kelelahan dengan berbagai alur ada istiadat dalam rangkaian penikahannya. Sudah pesta malam, besoknya dilanjutkan kegiatan ka’docaddi. Tapi itu semua dijalaninya dengan penuh kebahagiaan,”ungkap Sumarlin.

Sesuai aturan pernikahan antar negara, berdasarkan UU 1/1974 tentang Perkawinan, perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah perkawinan dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan karena salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. Pasal 60 mengatur perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing telah dipenuhi.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!