Pemahaman Pangan, Bekal Pokok Wujudkan Ketahanan Pangan – Pare Pos
Opini

Pemahaman Pangan, Bekal Pokok Wujudkan Ketahanan Pangan

Rizki Aristyarini

Masih ingatkah kita tentang salah satu cita-cita bangsa yang hingga saat ini masih kita perjuangkan? Mari kita mencoba menyelami kembali pesan tersurat yang tertuang dalam UU Pangan No.18 Tahun 2012, Pasal 1 Ayat 4 yang berbunyi “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”. Tak hanya terpenuhinya ketersediaan pangan yang merata, salah satu intisari dari petikan ayat UU Pangan diatas adalah terciptanya generasi yang produktif melalui pangan sehat dan aman.

Oleh: Rizki Aristyarini
(Mahasiswa Pascasarjana IPB asal Pinrang)

Manusia yang produktif diharapkan mampu berpikir kreatif, inovatif, dapat bersaing dan berkontribusi secara optimal dalam pembangunan negeri dalam jangka waktu lama. Namun produktivitas dalam melaksanakan suatu tanggung jawab tentu tak dapat dicapai, jika masyarakatnya tak sehat. Kesehatan lalu menjadi salah satu syarat mutlak agar pembangunan negeri tidak tersendat ditengah jalan. Oleh karenanya bahan pangan sebagai pasokan energi utama berperan besar dalam menunjang produktivitas, yang sedikit banyaknya perlu diilmui oleh konsumen. Tentu tidak mengapa jika berawal dari prinsip sederhana misalnya pemahaman bahwa pencucian berlebih dapat menghilangkan vitamin larut air seperti vitamin C dan vitamin B kompleks. Selain itu juga tidak kikuk ketika memperoleh berita pangan yang meresahkan misalnya, menelusuri pangan kalengan yang diduga mengandung cacing hidup.

Jika dipahami bahwa makanan kalengan telah melalui tahapan pemanasan suhu tinggi, maka secara otomatis konsumen cerdas meyakini bahwa keberadaan cacing hidup pastilah akibat kontaminasi pasca produksi.
Berbeda dengan konsumen, pemahaman pangan bagi mereka yang berkutat langsung dalam proses penyediaan produk pangan baik dalam level menengah maupun komersial adalah sebuah kewajiban. Kecacatan dalam memahami ranah produksi pangan tentunya akan berimbas pada kualitas produk. Terlebih lagi pemahaman yang baik untuk menggagas produk pangan yang berkualitas dari segi keamanan dan nutrisi, tentu tak bisa dipandang hanya pada aspek tertentu saja namun seyogyanya mencakup from farm to table dan menjadi persyaratan utama yang tak boleh ditawar-tawar lagi.

Produk pangan tentu berawal dari serangkaian aktivitas pascapanen yang merupakan tindakan pertama setelah optimalisasi pra panen. Tanpa pemahaman yang mumpuni, sebut saja buah menjadi sangat riskan mengalami penurunan mutu jika terkena gesekan keras. Luka yang terbentuk menjadi akses mikroba pembusuk untuk menurunkan kesegaran dan masa simpan. Teknologi penanganan, serta penyimpanan berdasarkan suhu penyimpanan terbaik merupakan salah satu upaya yang diterapkan untuk mempertahankan mutu hingga jangka waktu tertentu.

Lebih lanjut proses pengolahan pangan terkait juga dengan pemahaman mengenai prinsip teknik serta kimia pangan sebab menjadi modal besar yang memudahkan para praktisi untuk memanipulasi dan menghasilkan misalnya saja produk pangan fungsional yang aman, sehingga senyawa yang berfaedah bagi tubuh dapat dipertahankan (tidak rusak) meski telah melalui serangkaian proses pengolahan, yang disisi lain juga mampu membunuh mikroba pembusuk dan patogen (penyebab penyakit). Pangan fungsional masih akan menjadi primadona jangka panjang sebab mengandung komponen serat maupun senyawa bioaktif tertentu yang berkhasiat, misalnya sebagai antikanker, antioksidan, andiabetes, antihipertensi, hingga antidepresi.

Prev1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!