Dieksploitasi, Gunung Allakuang Nyaris Tinggal Cerita

by

PAREPOS.CO.ID,SIDRAP– Tokoh masyarakat Sidrap, Aris Asnawi mengatakan, eksploitasi Gunung Allakuang secara besar-besaran murni kesalahan pemerintah. Ada pembiaran sejak puluhan tahun. Kini, kondisi Gunung Allakuang sudah memprihatinkan. “Mungkin tidak cukup 10 tahun, ikon Allakuang itu akan rata dengan tanah. Jadi, eksploitasi ini sudah harus disetop. Pemda jangan lagi tutup mata. Tambang-tambang ini ilegal,”ujarnya kepada FAJAR , Minggu 8 Juli 2018. Aris menambahkan, Gunung Allakuang kini tak lagi jadi berkah bagi warga sekitar. Semua sumber daya alam di kawasan Gunung Allakuang sudah dicaplok dan dikuasai segelintir pemilik modal. Batu dan timbunan ditambang dan diangkut keluar Sidrap. “Usaha cobek dan batu nisan sisa segelintir warga yang jalankan. Batu-batunya sudah diangkut keluar si pemilik modal,” keluh Pengurus Pusat Ikatan Kekerabatan Masyarakat (IKM) Sidrap ini.

Warga lanjut Aris, kini sisa menikmati debu. Imbas dari pabrik batu yang banyak dibangun. Debu dari puluhan truk yang lalu lalang setiap saat mengangkut potongan batu dan tanah timbunan. Gunung Allakuang tak lagi sama seperti dahulu. “Kasihan warga sisa makan debu. Padahal tak baik bagi kesehatan. Sekali lagi, pemerintah tidak boleh diam,” tegasnya. Salah seorang warga Allakuang, Amir yang ditemui FAJAR menuturkan, sebagian besar warga Allakuang sebenarnya prihatin. Namun tidak berani bertindak, karena Gunung Allakuang dieksploitasi warga lokal yang mengklaim sebagai pemilik gunung.
“Di kawasan gunung Allakuang ini ada dua gunung batu. Salah satunya nyaris habis,” bebernya.

Kata Amir, kawasan Gunung Allakuang dikuasai belasan orang yang mengklaim sebagai pemilik. Namun banyak pemilik yang menjual bagian gunung miliknya, kepada salah satu pengusaha ternama Allakuang, Haji Faisal. Dia memperkirakan sisa kawasan Gunung Allakuang diklaim sedikitnya 6 orang. “Bisa dibilang 80 persen kawasan Gunung Allakuang dikuasai Haji Faisal. Dia warga di sini,” bebernya. Amir menambahkan, kawasan Gunung Allakuang kini sangat memprihatinkan. Selain batunya ditambang, tanah bekas galian juga dijual sebagai timbunan. Bahkan gunung batu ini ditambang dengan alat serba modern.
“Sudah menggunakan mesin breaker hidrolik. Alat khusus pemecah batu yang dikontrol pakai excavator. Ini membuat gunung batu hampir habis,” keluhnya.

Batu gunung yang ditambang juga tak banyak dinikmati warga. Kata Amir, potongan-potongan batu yang sudah dipecah diangkut truk bergiliran. Ini dijual ke luar Sidrap. Terutama ke pengusaha properti dan para pemilik proyek besar. “Batunya sangat cocok untuk fondasi bangunan. Makanya banyak yang cari ke sini. Banyak dijual ke Sengkang, Siwa, dan daerah lain. Termasuk ke proyek-proyek pemerintah,” bebernya. Pantauan FAJAR di lokasi, gunung utama masih ditambang warga dengan cara tradisional. Peralatannya sederhana. Bermodal linggis, tali-temali, mereka memecah bongkahan batu.

Sementara gunung batu yang lain, posisinya sedikit lebih rendah sehingga tak terlihat dari jalan poros Sidrap-Soppeng. Namun di kaki gunungnya, bunyi mesin breaker tak berhenti menghantam gunung, menambang batu. Dari informasi salah satu pekerja tambang, bongkahan batu gunung dijual kadang Rp200 ribu per truk. Keuntungannya dibagi dua. Pemilik modal mendapat Rp140 ribu sementara pekerja mendapat upah Rp60 ribu. Direktur Eksekutif Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin menyayangkan sikap Pemkab Sidrap yang tidak tegas. Kata dia, keberadaan tambang ini sudah harus ditinjau ulang. Apalagi sudah merusak kawasan alam sekitar yang dahulu hijau. “Sebaiknya ini dihentikan. Apalagi kami juga tak mendapatkan dokumen izin lingkungannya,” tegasnya.

Saat mencoba mengkonfirmasi Haji Faisal terkait masifnya penambangan batu di Gunung Allakuang. Namun, dia tak merespons panggilan telepon.
Konfirmasi sebelumnya, Faisal mengaku heran dengan banyaknya protes terkait penambangan batu gunung. Apalagi kata Faisal, ada pihak yang ingin membenturkan bisnisnya dengan warga. Padahal aktivitas penambangan sudah jadi mata pencarian warga. “Siapa yang melarang-larang. Ke lokasi kalau berani. Saya tampar! ,” tantangnya. Faisal mengklaim kawasan gunung Allakuang di Kecamatan Maritengngae merupakan miliknya. Penambang tak perlu mengurus izin ke pemerintah. Dia berdalih justru banyak warga sekitar hidup dari aktivitas penambangan di gunung. “Itu saya yang punya. Tidak perlu orang-orang luar berkoar-koar. Tidak usah banyak bicara,” ketusnya sambil memutus pembicaraan.(fajaronline.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *