Kontrol Jiwa Sang Pendidik – Pare Pos
Opini

Kontrol Jiwa Sang Pendidik

Sudirman Manda

Pendidik merupakan predikat yang disematkan bagi insan yang peduli terhadap dunia pendidikan. Pendidik tidak sekadar mengajar, tetapi pendidik adalah orang-orang yang memiliki niat tulus mentransferkan ilmu ke peserta didik dalam berbagai metode sehingga bisa melekat dan bermakna hidup dan kehidupannya. Seorang pendidik dalam melaksanakan aktifitasnya sebagai tenaga profesional, tentu harus memilki kompetensi yang mumpuni.
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki dan diterapkan seorang pendidik di antara keempat kompetensi yang ada adalah kompetensi kepribadian.

Penulis: Sudirman Manda, S.Pd., M.Pd.
(Guru SD Negeri 5 Model Parepare)

Kompetensi ini merupakan modal utama dan pertama yang harus melekat pada diri dan jiwa sang pendidik. Di antara sekian banyak kompetensi kepribadian tersebut adalah kemampuan untuk memngontrol jiwa (emosi) dalam menjalankan profesinya mencerdaskan anak bangsa. Mendidik diibaratkan sebuah permainan di atas rumput hijau. Permainan menarik namun penuh tantangan yaitu para pelakunya dituntut memiliki kontrol emosi yang stabil. Tommy Welly, seorang komentator bola di Indonesia pada Piala Dunia 2018 di Rusia mengatakan bahwa bermain bola dibutuhkan emosi yang stabil, tidak boleh terlalu tegang juga tidak boleh terlalu rileks.

Ketika itu yang terjadi, maka si bola bundar akan susah merobek jaring gawang lawan. Bola yang ditendang dengan penuh ketegangan akan melahirkan tendangan yang sulit menembus sasaran. Begitu sebaliknya, tendangan yang sangat rileks tentu lebih fatal lagi. Sama halnya dengan seorang pendidik, sangat dibutuhkan kontrol emosi. Seorang pendidik tentu harus menghindari suasana yang menegangkan dalam kegiatan pembelajaran.

Bisa dibayangkan ketika suasana tidak kondusif atau tegang, tentunya peserta didik akan terintimidasi dan ketakutan yang berdampak negatif baginya sehinga tujuan yang diharapkan tidak bisa tercapai. Begitu pula sebaliknya, suasana pembelajaran yang sangat santai pun perlu dihindari. Hal ini bisa berakibat fatal. Peserta didik akan seenaknya bertindak sesuai keinginannya tanpa memedulikan tata tertib yang ada. Perintah dan larangan guru dianggap hanya sebagai angin lalu saja dan pada akhirnya menurunkan rasa hormat kepada gurunya. Mendidik tidaklah semudah yang dibayangkan dan dibicarakan banyak orang di warkop (lagi trendi). Mendidik melibatkan dua pihak, guru dan siswa (pendidik, peserta didik).

Kenyataan yang ada, guru dan siswa datang di kelas tidak selalu dalam kondisi emosi stabil. Tak jarang mereka berada dalam emosi negatif akibat situasi hidup yang melandanya baik di rumah maupun di masyarakat. Di samping itu, suasana kelas, kondisi ruangan, ataupun benturan kepentingan lain saat proses pembelajaran terkadang menjadi pemicu munculnya corak emosi yang bisa saling berbenturan. Melihat fenomena saat ini, tidak semua pendidik apalagi peserta didik pernah mendapatkan pembekalan yang cukup dalam mengelola emosi. Dampaknya, ketika terjadi interaksi dengan peserta didik yang diperparah situasi kelas yang menjengkelkan, bisa saja pendidik dikuasai oleh emosi negatif “out-of control” dalam bertindak yang sangat memungkinkan kerugian bagi speserta didik bahkan pendidik itu sendiri.

Prev1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!