Wapres Ucapkan Selamat Milad ke Alwi Hamu – Pare Pos
Tomalebbi'ta

Wapres Ucapkan Selamat Milad ke Alwi Hamu

https://youtu.be/iSL_bDFs75I

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Chairman Fajar Group HM Alwi Hamu yang memasuki usia 74 tahun mendapat ucapan selamat dari Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla yang dikutip dilaman YouTube.Pria yang lahir di Kota Parepare, 28 Juli 1944 silam tersebut sudah kenyang asam-garam kehidupan. Termasuk dalam memimpin FAJAR dan anak grupnya. Jiwa kepemimpinannya patut diteladani. Ia selalu menginspirasi. Kehidupan masa kecilnya diasah oleh nilai-nilai kearifan lokal. Lingkungan keluarga mendidiknya untuk selalu jujur. Caranya, Sang orang tua, Haji Muhammad Syata dan Ramlah memberinya tanggung jawab menjual di toko kelontongan. Padahal, Alwi masih kanak-kanak. Masih kategori sangat belia untuk melaksanakan pekerjaan itu.

Kejujuran ini bahkan semakin tertanam dalam kehidupan Staf Khusus Wakil Presiden, setelah tinggal bersama kakek yang imam masjid. Di sinilah ilmu agama diperdalam. Tak heran jika kejujuran dan religiusitas itu terus subur dan mendasari segala aktivitas Alwi. Keseharian Alwi Hamu ditempa dengan nilai-nilai kesederhanaan dan ketelatenan. Sebagai anak laki-laki, Alwi tidak malu-malu mengepel lantai. Padahal, pekerjaan seperti itu lebih banyak dilakukan anak perempuan pada masa itu. Tak tanggung-tanggung, Alwi bahkan mengepel hingga 700 meter per segi. Kalau bukan karena telaten, sulit untuk menyelesaikannya. Namun, bagi Alwi, pekerjaan semacam itu dilakukannya dengan senyum. Ia bahkan menambah lagi pekerjaan tak lazim bagi laki-laki sebayanya itu dengan memasak untuk keluarga.

Berkat didikan semacam itu, Alwi tumbuh dengan multitalenta. Ia terus tumbuh seperti rumpun bambu, semakin ditebang semakin subur. Dedikasinya terus memberi banyak manfaat terhadap lingkungan sosial. Dalam usianya yang terus bertambah, ia tidak pernah berhenti berinovasi. Selain memimpin PT Media Fajar dengan lebih 30 media (cetak dan elektronik), Alwi Hamu juga menakhodai puluhan perusahaan non-media lainnya. Perusahaan media dan non-media itu tersebar ke Indonesia Timur. Sebagian pula di Jakarta. Sedikitnya 50 perusahaan yang dirintis, telah memberi manfaat bagi dunia bisnis dan medan sosial lainnya. Bendera-bendera perusahaan yang dikibarkan itu dibangun dengan pondasi idealisme yang kukuh. Tak heran jika ada yayasan yang dikembangkan semata-mata mengurusi masalah kemanusiaan. Selain membantu korban-korban bencana, juga ada klinik kesehatan gratis.

Perguruan Tinggi UNIFA (Universitas Fajar) yang kini terus berkibar, bahkan didirikan dengan semangat idealisme terhadap kondisi pendidikan sekarang. Pendidikan yang semakin terkikis dari idealisme kemahasiswaan. Pendidikan yang kerap jauh dari semangat belajar. Pendidikan yang terkesan lepas dari dinamika sosial dan teknologinya. Pendidikan yang kerap menggadai idealisme di meja-meja kapitalisme. Di tengah kondisi itu, Alwi menggedor pintu pendidikan global yang bervisi-misi entrepreneur. Mahasiswa digenjot belajar teori, tetapi terus dibangunkan oleh wawasan global terhadap dunia kerja. Mahasiswa diberi jaminan prestasi dalam bentuk beasiswa belajar.

Mereka yang tergolong keluarga tidak mampu, mendapat peluang belajar gratis tanpa memandangnya dari latar belakang agama dan suku. Alwi memang sosok yang menjunjung tinggi multikulturalisme. Ia menempatkan perbedaan-perbedaan kultural itu sebagai suatu modal untuk lebih maju dan berkembang. Alwi selalu bervisi global. Berkat visi global itu, Alwi di kalangan Warga Keturunan di Kawasan Timur Indonesia dikenal sebagai Tokoh Perintis dan pemersatu pelbagai etnis di Indonesia. Banyak bentuk nyata telah Alwi lakukan, antara lain menyiapkan halaman tentang berita-berita aktivitas kehidupan masyarakat Tionghoa di pelbagai surat kabarnya.

Pada 1989, Alwi bahkan mendatangkan kelompok atraksi Whu Han. Pertunjukan ini berlangsung lama di Balai Kemanunggalan ABRI-RAKYAT (sekarang gedung Jenderal M Jusuf). Pada masa Orde Baru, kurang lebih 35 tahun Kebudayaan Tionghoa kurang mendapat fasilitas dari pemerintah Indonesia. Termasuk tidak mengizinkan pertunjukan barongsai. Namun, pada 1992, Alwi justru memberi kejutan. Dengan sangat berani, ia menyelenggarakan pertunjukan barongsai dan atraksi naga di Sulawesi Selatan. Kedekatan Alwi dengan warga Keturunan semakin besar setelah menerbitkan surat kabar di Hong Kong. Sebagian besar berisikan informasi tentang kerukunan masyarakat Indonesia-Tionghoa. Sejumlah warga keturunan yang sangat besar jasanya mendampingi Alwi. Mereka setiap saat banyak berdiskusi tentang perkembangan warga keturunan.

Modal kemampuan komunikasi dan idealisme Alwi yang membuatnya sukses menjalin pergaulan multikultaralisme itu. Keteguhan idealisme Alwi paling tampak di sektor media. Sebelum mendirikan FAJAR pada 1 Oktober 1981, Alwi menginjak remaja memang aktif di media massa. Masih duduk di bangku SMP, ia sudah menerbitkan majalah stensilan. Di SMA juga demikian. Bahkan ketika mahasiswa, selain memprakarsai Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia, ia mendirikan “Surat Kabar Umum KAMI” pada 1966. Selanjutnya, Alwi Hamu mendirikan majalah Intim, menyusul bergabung dengan Tegas.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!