H I J R A H – Pare Pos
Opini

H I J R A H

Hefrida Ruslan

Penetapan tanggal pertama suatu tahun pertama (01-01-01), tentunya ditetapkan pada sebuah peristiwa bersejarah atau penting yang memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat. Karena, angka 01-01-01, dianggap sebagai awal dari sebuah langkah kehidupan. Misalnya, 1 Januari, penanggalan Masehi yang dipakai secara internasional, oleh kalangan gereja dinamakan Anno Domini (AD) terhitung sejak kelahiran nabi Isa. AS (Yesus). Ataukah dalam mitologi Romawi, 1 Januari, ditetapkan sebagai hari persembahan kepada dewa Janus.

Penulis: Hefrida Ruslan

Adapun tahun Islam, Hijriyyah, penetapan 01-01-01-nya (1 Muharram 1H) adalah didasarkan pada peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dan sahabat dari Mekkah ke Madinah. Apa itu ? Apa spesialnya hijrah Rasulullah SAW ini? Hijrah, (هِجْرَةٌ) , secara kamus Arab, artinya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari satu keadaan ke keadaan lain (Al-Qamus Al Muhith). Dan menurut ahli bahasa, Rawas Qalah Ji, secara tradisi, hijrah bermakna: keluar atau berpindah dari satu negeri ke negeri lain untuk menetap di situ.

Sekarang ini, kata hijrah banyak digunakan oleh orang untuk menggambarkan dirinya yang telah mengalami perubahan yg lebih baik dr kondisi dirinya yg lama. Istilahnya taubat maksiat atau hijrah batin. Dari yang malas sholat, jadi rajin sholat. Dari yang pamer aurat, jadi berpakaian syari berhijab. Dari disibukkan urusan dunia, jadi semangat berdakwah. Dari utang riba, ke bisnis halal tanpa
riba.

Makna hijrah yang seperti ini, tidak salah. Karena ini sesuai dengan penjelasan Nabi SAW, saat beliau ditanya ;Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah (muhajir) itu? Beliau menjawab: Dialah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya; (HR.Ahmad). Namun, hijrah memiliki makna zhahir (lahir), sebagaimana makna kamusnya tadi. Dan makna hijrah zhahir inilah yang mendasari hijrah Rasulullah SAW yg menjadi penetapan hari pertama
penanggalan hijriyyah.

Hijrah, dalam pengertian As-Sunnah, meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju darul islam (negeri islam). Darul Islam adalah negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (sempurna), dalam kehidupan bernegara, dan keamanan berada di tangan kaum muslimin. Sebaliknya, darul kufur adalah negara yang mendaulatkan aturan kehidupannya kepada akal pikiran manusia, bukan dari
Allah SWT., pencipta manusia, dan keamanannya tidak berada di tangan kaum muslimin.

Rasulullah SAW bersama para sahabat telah berhijrah, dari darul kufur (Mekkah) ke darul Islam (Madinah). Di Madinah, dakwah telah berterima dengan baik. Para pemimpinnya telah rela menyerahkan kepemimpinan kepada Rasulullah SAW untuk diterapkan Islam, dan bersama mendakwahkan Islam. Di sinilah, dimulainya tahun pertama kepemimpinan negara Islam. Di sinilah, awal
kebangkitan Islam.

Di Madinah, kaum muslimin telah merasa aman dengan keislamannya. Tak ada intimidasi lagi, tak ada boikot lagi, tak ada penyiksaan lagi, sebagaimana yg mereka dapatkan dari kaum kafir Quraisy Mekkah sebelumnya. Di Madinah, hukum syariat Islam telah diwahyukan sempurna melalui malaikat Jibril dan
kemudian diadopsi sebagai hukum negara. Terterapkanlah sistem kehidupan Islam kaffah, mulai dari aspek ibadah, muamalah, sosial, ekonomi hingga pemerintahan.

Di Madinah, Rasulullah SAW dengan kekuatan negaranya mulai mengemban dakwah Islam hingga ke luar negeri. Beliau SAW telah mengirim berbagai delegasi ke raja-raja di sejumlah negeri, mengajak mereka masuk Islam dan dan tunduk pada kekuasaan Islam saat itu. Dengan dakwah ini, maka tersebarlah Islam hingga ke berbagai penjuru negeri. Di Madinah, di sinilah awal kepemimpinan Islam dalam sebuah negara oleh Rasulullah SAW. Kemudian diteruskan kepada Khulafaur Rasyidin dan banyak khalifah setelahnya.

Kepemimpinan Islam itupun berlanjut hingga 13 abad kemudian sebelum kehancurannya pada tahun 1924 M. Kepemimpinan Islam dalam 13 abad itu, telah menorehkan sejarah kegemilangan peradaban Islam, telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Atas kepemimpinan Islam atau keKhilafahan Islam ini, seorang sejarahwan barat, Will Durant bertutur dalam buku Story of Civilization-nya. Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Demikianlah yang terjadi setelah hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah, darul Islam. Momen semangat hijrah zhahir inilah yang mestinya ditumbuhkan kembali pada diri kaum muslimin. Mengingat hari ini, kaum muslimin telah kembali hidup dalam sistem kufur di negeri kufur.

Kembali mengalami berbagai penderitaan akibat jauh dari Islam. Kemiskinan, korupsi, seks bebas dan AIDS, LGBT, kriminalitas, bobroknya akhlak, krisis ekonomi, harga BBM naik. Allah SWT telah memperingatkan dalam firmanNya QS.Ar-Ruum: 41 bahwa berbagai kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia, adalah karena perbuatan tangan manusia, yakni bermakna meninggalkan aturan Allah SWT. dalam kehidupan.

Oleh karena itu, momentum hijrah ini, momen tahun baru hiriyyah ini, hendaknya tidak hanya kita rayakan sebagai seremonial belaka. Namun, dapat mengambil maknanya, yakni perubahan dengan Islam. Caranya, dengan kembali menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik itu pribadi, bermasyarakat, bernegara, dan meninggalkan sistem hidup jahiliyah seperti sekarang ini. Wallahualam bisshawab.(*/ade)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!