Berharap Seperti Pulau Terluar Kabupaten Pangkep , Kades Terpencil di Sidrap Siap Fasilitasi Lahan BTS – Pare Pos
Pro Daerah

Berharap Seperti Pulau Terluar Kabupaten Pangkep , Kades Terpencil di Sidrap Siap Fasilitasi Lahan BTS

Warga pulau terluar di Kabupaten Pangkep, Kecamatan Liukang Tupabbiring sudah bisa menikmati layanan telekomunikasi di daerahnya, setelah berdirinya Base Transceiver Station (BTS), di Desa Mattiro Ujung. Gambar direkan akhir tahun 2018.

 

Kebutuhan sarana telekomunikasi, tak hanya kebutuhan masyarakat kota, tapi hingga ke pelosok. Makanya, warga desa yang jaringannya masih ‘redup’, berharap provider layanan ponsel yang menjadi penyedia layanan komunikasi untuk berupaya menstabilkannya.

Mewakili keresahan warganya, Kepala Desa (Kades) Lagading, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Alimuddin Syukur, meminta agar jaringan ponsel di daerahnya bisa sama dengan daerah terpencil lainnya, yang bisa leluasa kapan dan di mana saja menikmati alat komunikasi.

Desa yang berjarak sekira 50 kilometer dari Pangkajene, ibukota Kabupaten Sidrap ini, masih sangat terbatas dalam penggunaan alat komunikasi melalui ponsel. “Ada jaringan, tapi masih di tempat tertentu. Kita masih mencari di mana tempat yang tepat untuk mendapatkan sinyal, biar bisa berkomunikasi dengan keluarga, kerabat atau teman di daerah lain,” ungkapnya, Rabu 2 Januari 2019.

Alimuddin yang mengaku sudah 20 tahun lebih menggunakan ponsel, menggunakan kartu As, sebab ini yang dinilai paling efektif di desanya. Rata-rata warganya, juga menggunakan kartu ponsel yang sama.

Ke depan, ia berharap ada perhatian dari penyedia layanan komunikasi untuk membangun Base Transceiver Station (BTS), seperti di Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang merupakan pulau terluar.

“Saya siap fasilitasi bangun tower agar sinyal telepon genggam kuat dan bisa menjadi sarana komunikasi untuk berbagai aktivitas warga, terutama transaksi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan,” ujar Alimuddin. Desa yang dipimpin Alimuddin, merupakan penghasil pertanian dan perikanan. Selain terhampar areal persawahan, juga ada danau tempat menangkap ikan.

Di pulau terluar Pangkep, di Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring, memang sudah berdiri BTS yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator. Jaringan dari desa ini mampu mengakses tujuh desa dan dua kelurahan lainnya di kecamatan itu. Juga menjangkau tiga pulau lainnya, yaitu Pulau Pandangan, Kapoposang, dan Pulau Gondong Bali.

Kepala Desa Mattiro Ujung, Hasanuddin mengakui, hadirnya BTS diwilayahnya sudah menjadi mimpi warga sejak dulu. Dan sejak Oktober 2018, salah satu penyedia jasa telekomunikasi, yaitu Telkomsel, telah mendirikan BTS.

“Dengan hadirnya BTS, akses telekomunikasi sangat memadai. Sudah bisa berkabar dengan sanak keluarga yang berada di daratan, menggunakan media sosial, dan update harga hasil tangkap nelayan. Jadinya, kesejahteraan nelayan meningkat. Sebab hasil tangkap ikan sudah bisa dipasarkan dengan harga bersaing. Tidak lagi dijual ‘buta’ atau tidak mengetahui harga,” tandas Hasanuddin, Kamis 3 Januari, 2019.

Apa yang disampaikan Hasanuddin, diaminkan warga setempat, Abdul Rauf. Ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya dapat mengakses telekomunikasi, setelah diaktifkannya BTS beberapa bulan lalu. Ia sudah sering bertukar informasi dengan keluarganya yang berada di perantauan.

“Alhamdulillah, dulunya kami sangat sulit berkabar lewat telekomunikasi, hanya bisa menyapa secara langsung, dan butuh waktu yang cukup lama untuk bertemu langsung. Harus mengeluarkan biaya,” katanya. Ditambahkan, keluarganya yang nelayan juga sudah bisa update harga jual hasil tangkap ikan. Keluarganya bersyukur.

Sementara, Haniya, salah seorang pengunjung di Pulau Kapoposan yang berdomisili di Kabupaten Pangkep kota, mengatakan, ia bisa berkunjung ke tempat itu karena sudah tersedianya akses informasi seputar perkembangan di pulau. “Kita mengetahui perkembangan di pulau lewat telekomunikasi, begitu pun sebaliknya, dari pulau dapat mengetahui perkembangan informasi yang ada di kota,” tutur Haniya, salah seorang aktivis perempuan yang saat ini sering berkunjung ke pulau. Kunjungan ke pulau, setelah ia mengakses perkembangan yang terjadi. (muh nur halim)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!