Kampanyekan Pelestarian Lingkungan, Pemdes Bulu Cindea Hadirkan Wisata Mangrove

by

 

Hutan mangrove merupakan salah satu hutan dengan tanaman bakau yang berada di tepi lautan. Sebagai sebuah negara kawasan tropis, mangrove bisa ditemukan di hampir seluruh kawasan garis pantai Indonesia, dengan intensitas dan formasi yang beragam. Keberadaan hutan mangrove ini adalah untuk membantu mencegah abrasi, bahkan beberapa hutan mangrove juga ada yang dijadikan lokasi wisata.

Laporan: Ade Cahyadi

Seperti potensi yang berada disepanjang pesisir pantai Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Di antara esensial fungsi ekologi dan ekonomi. Hutan mangrove menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam komersial, rekreasi, dan perikanan melalui jasa lingkungan sebagai tempat spawning ground, habitat nursery bagi kehidupan laut.

Pengembangan hutan mangrove menjadi lokasi pariwisata alam dan edukasi, sekaligus ajang swafoto kini
mulai digalakan warga di Kampung Biringkassi, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro. Terinspirasi perkembangan obyek wisata hutang mangrove di sejumlah daerah, Pemerintah Desa Bulu Cindea dibawah komando, Made Ali kini terus berbenah dalam upayanya mensejahterakan warganya dengan potensi yang dimiliki desa yang dipimpinnya.

Di Desa Bulu Cindea yang juga merupakan lokasi Pelabuhan Biringkassi, milik PT Semen Tonasa. Hutan Mangrove masih terjaga di sepanjang pesisir pantai sekitar 40 meter di daerah tersebut. Guna memanfaatkan kondisi tersebut, Pemdes Bulu Cindea kini menghadirkan lokasi wisata murah bagi masyarakat yang ingin menikmati eksotis panorama pesisir dan hutan mangrove serta kapal-kapal besar yang bersandar di pelabuhan.

Kades Bulu Cindea, Made Ali mengakui, selain menjadikan daerahnya sebagai lokasi kunjungan wisata. Ia pun berkeinginan agar tempat wisata yang dihadirkannya sebagai upaya mengkampanyekan pelestarian lingkungan, menjaga pohon mangrove, ekosistem dan habitatnya dari kerusakan. “Kami akan terus berbenah, lokasi ini akan kita kembangkan dan lebih tertata lagi. Apa lagi dengan dukungan semua pihak, baik pemerintah daerah dan perusahaan swasta dan BUMN. Buktinya, kehadiran tempat ini tak lepas dari pemanfaatan program CSR,”jelasnya.

Dilokasi ini, pengunjung dapat pula menyaksikan aktivitas nelayan penangkap kepiting yang menjadi daya tarik tersendiri. Serta hadirnya jembatan berwarna-warni dilokasi yang rame dikunjungi tiap sore hari. Bukan hanya itu, hadirnya sebuah kedai warung kopi ditengah hutan mangrove juga memberikan sensasi tersendiri. “Kedepannya, melalui pemanfaatan anggaran dana desa, csr dan apbd. Keyakinan akan adanya pendapatan tambahan bagi masyarakat akan terwujud. Apa lagi disini juga rencanany akan hadir lokasi pasar terapung,”ungkapnya.

Kini dengan dukungan penuh semua pihak, aspek untuk mendukung wisata mangrove terus di upayakan, untuk menjaga keamanan dan kenyaman pengunjung. Termasuk dampak lingkungan, agar keasrian tetap terjaga.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *