Malam Ini, Tulus Tampil di Lapangan Andi Makkasau Parepare – Pare Pos
Metro Pare

Malam Ini, Tulus Tampil di Lapangan Andi Makkasau Parepare

Tulus

 

 

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Pelantun Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Sabtu 23 Februari, malam ini akan tampil dan menghibur warga masyarakat Kota Parepare. Penyanyi dengan nama lengkap Muhammad Tulus Rusydi atau dikenal Tulus akan menghibur penggemarnya dengan lagu romantis di acara penutupan Parepare Fair 2019 di Lapangan Andi Makkasau, Kota Parepare.

Kehadiran penyanyi kelahiran, Bukittinggi 20 Agustus 1987 dengan
karya musik dengan lirik lagu yang memiliki makna dan kiasan yang tersembunyi, menjadi kado spesial baik kaum muda hingga tua di momentum peringatan HUT Kota Parepare ke-59.

Kabag Humas Pemkot Parepare, Amarun Agung Hamka membenarkan, jika dalam penutupan Parepare Fair 2019 akan ditutup dengan konser artis ibu kota Tulus. “Mungkin jam 16.00 Wita, artis ini sudah ada di Kota Parepare untuk menghibur masyarakat, baik yang ada di Kota ini maupun dari luar daerah,”jelasnya, Sabtu 23 Februari 2019, siang ini.

Sebelumnya pihak 21 Manajemen yang mendatangkan Tulus ke Parepare
membeberkan, ada ribuan fans Tulus yang dinamakan Teman Tulus dari sejumlah daerah di Sulsel dan Sulbar, siap hadir.

“Setidaknya ada Teman Tulus dari tujuh daerah yang mengkonfirmasi siap hadir. Nah, kalau mereka hadir semua ditambah fans Teman Tulus di Parepare dan sekitarnya, itu akan memenuhi Lapangan Andi Makkasau,” kata pihak 21 Manajemen.

Magnet Tulus yang menghipnotis Teman Tulus datang dari berbagai daerah ini sekaligus mendukung Teori Telapak Kaki Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe.

Pihak 21 Manajemen membenarkan, mereka mengetahui Teori Telapak Kaki Taufan Pawe (TP), karena itu mereka mengerahkan Teman Tulus berbondong-bondong datang ke Parepare.

“Teori Telapak Kaki Pak Wali Kota, kami mendukung itu. Insya Allah akan banyak teman Tulus yang datang. Pak Wali Kota pun kami beri tempat spesial, memberikan sambutan sekaligus menutup Parepare Fair 2019. Itu sudah ada dalam rundown acara,” beber 21 Manajemen.

Penampilan yang Dinantikan

Sebagai penyanyi, nama Muhammad Tulus atau yang akrab disapa Tulus, 27, kini banyak dibicarakan. Lagu-lagunya dihafal banyak orang. Penampilannya pun selalu ditunggu penonton. Nama Tulus kian melambung.

Tulus tidak menyerah mengejar mimpinya untuk menjadi seorang musisi meski tidak terlahir dari keluarga musisi. Tulus lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 20 Agustus 1987. Keinginan bermusiknya semakin kuat ketika masa kuliah. Tulus merupakan alumnus Jurusan Teknik Arsitektur Unpar Bandung. Dia meraih gelar sarjana pada 2009.

Semasa menjadi mahasiswa, Tulus bergabung dengan klub jazz dan sering manggung bersama band-nya. Setelah mengantongi ijasah S-1, Tulus semakin ingin bergegas mengejar mimpinya. Hal itu terlihat oleh kakak tertuanya, Riri Muktamar Rusydi. Riri tergerak untuk mendanai rekaman adiknya.

Tulus yang merupakan bungsu di antara tiga bersaudara menyatakan sangat senang ketika dibantu kakaknya. ’’Karena saya yakin (berkarir di musik). Akhirnya kakak bilang, ya sudah kamu rekaman. Kita akalin gimana cari duitnya,’’ cerita Tulus. Dia bilang, kakaknya sangat berjasa dalam karirnya. Jika tidak dibantu Riri, Tulus tidak akan ke mana-mana. ’’Kakak saya berani ambil risiko. Berkat bantuannya, akhirnya saya rekaman,’’kata Tulus beberapa waktu lalu ke Jawa Pos Group.

Akhir 2011 Tulus merilis sebuah album selftitled. Riri menjadi produser eksekutif. Album tersebut dibuat perusahan rekaman dia sendiri, Tulus Record. Distribusinya dibantu Demajors. Lagu-lagu Tulus di album perdananya tersebut sukses memikat penikmat musik melalui radio.

Meski baru memiliki satu album, Tulus berani mengadakan konser tunggal pada 28 September 2011. Konser berjudul An Introduction: Tulus itu dihelat di Auditorium Centre Culturel Francais atau sekarang dikenal dengan Gedung IFI, Bandung. Harga tiketnya pun sangat murah, sekitar Rp 25 ribu per orang. Namun, kualitas penampilan yang disuguhkan pelantun Sepatu itu membuat para penonton merasa istimewa.

Satu hal yang selalu dipegang sebagai idealisme Tulus adalah berkarya dengan hati. Hal itu pula yang membuatnya masih enggan bergabung dengan label besar. Tulus mengungkapkan, dirinya dulu sudah berusaha menawarkan musiknya kepada label-label besar. Sayang, aliran musiknya yang antimainstream membuat Tulus berkali-kali ditolak. Musiknya dianggap tidak ngetren kala itu.

Kini berganti dia yang menolak label-label tersebut. Apalagi para label itu mengajukan syarat. Yakni, mereka mau menerima asal mengikuti tren pasar saat ini. ’’Saya manusia biasa. Kita hidup di zaman di mana semua orang punya sifat dasar yang sama. Saat ditawarkan sesuatu kesenangan, pasti kita melirik, kan,’’ ucapnya.

Tulus tidak mau sok suci. ’’Ah, saya nggak usah dibayar mahal kalau konser. Nggak sebegitu sucinya juga,’’ tuturnya. Menjadi pendatang baru memang tidak akan pernah mudah. Hal itu dialami Tulus sendiri. Kebanyakan musisi indie sulit mendapat porsi di media massa. Namun pada akhirnya, kualitas yang berbicara.

Jika dulu dipandang sebelah mata, kini banyak televisi yang menawarkan program eksklusif untuk pemenang Male Singer of The Year di Indonesian Choice Award 2014 itu. Hanya, kini Tulus menyatakan belum ada waktu untuk menerima tawaran-tawaran menggiurkan dari stasiun-stasiun TV tersebut.

Meski begitu, dia senang karyanya diakui banyak orang. Kerja keras tim kecilnya yang hanya terdiri atas lima orang tersebut berbuah manis. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!