Pengentasan Stunting: Perjuangan Belum Berakhir – Pare Pos
Opini

Pengentasan Stunting: Perjuangan Belum Berakhir

Rizki Aristyarini

 

Stunting merupakan salah satu istilah yang bagi sebagian masyarakat terkhusus pada ibu-
ibu masih terdengar asing atau bahkan dipahami sekilas sebagai kekerdilan atau sekedar
dianggap pendek. Padahal anak yang pendek belum tentu stunting. Jika ditelusuri secara utuh
maka akan dipahami bahwa stunting adalah kondisi anak dengan tinggi badan yang tidak sesuai
dengan tinggi badan anak seusianya yang dapat dideteksi selama usia 2 tahun pertama.

Laporan: Rizki Aristyarini
(Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Pangan IPB)

Stunting merupakan dampak kekurangan gizi kronis pada anak yang dapat berlangsung sejak masih dalam
kandungan. Hal ini tidak terlepas dari pola makan sang ibu sejak masa kehamilan, yang berimbas
pada ketidakcukupan gizi dan energi para calon ibu. Tidak berhenti sampai disitu, kurangnya
suplai ASI (air susu ibu) ekslusif kepada bayi selama dua tahun juga memiliki pengaruh besar
terhadap kesehatan sang anak. Kondisi lingkungan yang kurang higienis dibarengi sanitasi yang
tidak layak juga turut menjadi penyebab yang berkontribusi besar.

Berdasarkan data South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) tahun 2010-2011 yang
dirangkum oleh Trihono et. al (2015), Indonesia termasuk negara dengan kasus stunting yang
tergolong tinggi dibandingkan negara Vietnam, Filiphina, Thailand, dan Singapura. Bahkan
hanya ada dua provinsi dari 34 provinsi di Indonesia yang memiliki angka stunting dibawah
20%, batasan stunting yang ditetapkan oleh WHO (Portal online depkes.go.id, 25/05/2018). Riset
kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa terjadi penurunan stunting di Indonesia hingga
6,4% jika dibandingkan tahun 2013 (Portal online depkes.go.id, 30/01/2019), meskipun demikian
angka tersebut masih jauh dari ambang batas stunting yang dirilis oleh WHO sehingga upaya
pengentasan stunting di Indonesia perlu terus diperjuangkan sebab menyangkut kualitas
pemimpin bangsa di masa mendatang.

Kondisi malnutrisi kronis serta tidak maksimalnya konsumsi ASI menurut Trihono et. al
(2015), dapat menyebabkan anak yang divonis stunting mudah sakit akibat rendahnya sistem
imun, gangguan metabolisme tubuh, gangguan perkembangan otak yang mengakibatkan
penurunan kemampuan kognitif dan kecerdasan, serta kematian, sementara dampak jangka
panjangnya adalah besarnya resiko terkena penyakit degeneratif (penyakit tidak menular) seperti
stroke, obesitas, serta diabetes. Penurunan kecerdasan berpengaruh terhadap prestasi belajar
sehingga saat dewasa akan sulit bersaing dalam dunia kerja sebagai kontribusinya untuk
pembangunan negeri ini (Dikjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat2017).

Besarnya ancaman stunting menjadi pertaruhan besar dari upaya penanganan dan
pencegahan yang kita lakukan hari ini. Presiden Jokowi melalui kementerian kesehatan merilis
beberapa kebijakan yang diharapkan mampu mencegah serta menurunkan angka stunting di
Indonesia seperti Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (pemantauan langsung
kondisi kesehatan masyarakat), Pemberian Makanan Tambahan (pangan kaya zat gizi bagi ibu
hamil, balita, anak pada usia sekolah dasar), serta 1000 Hari Pertama Kehidupan (upaya
mencukupi kebutuhan gizi anak sejak masa kandungan hingga berumur 2 tahun) (Portal online
depkes.go.id, 25/05/2018). Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan terkait payung
kebijakan yang telah diurai sebelumnya.

Pertama adalah besarnya urgensi untuk memahami terkait definisi, penyebab, serta dampak
stunting (baik jangka pendek maupun jangka panjang) secara utuh tak hanya di wilayah darurat
stunting namun di seluruh wilayah Indonesia, hal ini dimaksudkan agar ancaman stunting
disadari betul sehingga dapat dirumuskan dan dilaksanakan program pencegahan sesuai dengan
kondisi masyarakat di wilayah masing-masing secara optimal yang melingkupi program
kesehatan serta non kesehatan. Program kesehatan contohnya saja pemberian suplemen gizi
seperti zat besi dan protein untuk ibu hamil, penyuluhan pemberian ASI, sedangkan diluar
lingkup kesehatan misalnya memberikan konseling gizi dan kesehatan bagi calon ibu serta
remaja, perbaikan sanitasi dan kualitas air minum, serta diversifikasi pangan yang beragam dan
berimbang.

Keanekaragaman pangan lokal di Indonesia menjadi berkah untuk dieksplorasi
potensi dan peluang pemanfaatannya bagi ibu hamil, serta anak dan balita dua tahun misalnya
saja potensi tanaman kelor dengan komponen gizi yang cukup lengkap untuk memperbaiki status
gizi melalui olahan pangan. Kajian tersebut dapat dibuat informatif dan menarik dan disebar
melalui media sosial, atau dikemas menjadi kegiatan berupa seminar rutin yang diselingi dengan
pelatihan membuat olahan kelor agar esensinya dapat dihayati serta mampu menumbuhkan
kesadaran untuk lebih tanggap terhadap dampak negatif dari stunting.

Ikhtiar kedua adalah diperlukan pendataan yang jelas guna memperoleh gambaran tentang
kondisi stunting di berbagai wilayah di Indonesia. Pendataan tersebut akan sangat membantu
dalam menentukan langkah-langkah masif apabila hasil evaluasi program pencegahan stunting
yang telah dilakukan masih belum memberikan perubahan yang nyata. Namun tanggungjawab
untuk mengentas stunting di Indonesia bukan hanya menjadi tugas pemerintah dan jajarannya
semata, para akademisi, peneliti, pelaku industri, mahasiswa, serta masyarakat juga perlu turut
memberikan kontribusi terbaik sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.

Sinergitas seluruh masyarakat indonesia secara berkesinambungan menjadi awal langkah yang
baik untuk mengentas stunting di Indonesia, sebab upaya pencegahannya tak bisa dilaksanakan
dalam satu kali saja namun perlu waktu yang terpantau untuk mengarahkan dan menjamin pola
hidup dan pola makan masyarakat bergeser ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu penting
untuk memahami bahaya kronis stunting dan melaksanakan upaya pencegahannya secara
konsisten serta berkelanjutan sebagai pondasi untuk masa depan Indonesia gemilang dan siap
dilakoni oleh generasi yang cemerlang, sehat, kompetitif.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!