Melirik Potensi Ekonomi ‘Kota Beras’ Sidrap

by

 

Kabupaten Sidrap telah bertahun-tahun mendapat julukan “kota beras” sebagai nama istimewa karena luasnya hamparan sawah membuat daerah tersebut menjadi asri dan subur dengan luas cetak sawah 46.985 Ha, juga telah didukung infrastuktur lahan persawahan dan Ada pembangunan PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu) Sidrap yang pertama di Indonesia, sekaligus sebagai obyek wisata baru.

Penulis: Nursaid.                               (Pegawai KPPN Parepare)

Kabupaten Sidrap berasal dari dua kerajaan yakni kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang kemudian menjadi kabupaten Sidenreng Rappang, jarak tempu 200 km dari makassar ada persimpangan jalan darat ke arah Tanru Tedong, Siwa-Wajo terus ke Palopo dan ke arah Enrekang-Toraja, dengan luas wilayah 2.506 km2, disebelah utara berbatasan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang, di sebelah selatan berbatasan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Barru, disebelah Barat berbatasan Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang, disebelah Timur berbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo.

Daerah ini terdiri atas 11 Kecamatan (Baranti, Panca Lautang, Panca Rijang, Kulo, Maritengae, Dua Pitue, Pitu Riase, Pitu Riawa, Tellu Limpue, Watang Pulu dan Watang Sidenreng). Jumlah Penduduk 264.955 jiwa tahun 2013, sekarang posisi November 2018 sebanyak 299.123 Jiwa. Penduduk asli suku bugis. Sebagian besar wilayah daratan menghasilkan produksi beras yang signifikan menjadikan daerah ini layak disebut kota beras yang mendukung program swasembada pangan nasional.

Pengelolaan tanah serta penggunaan benih tanaman padi yang baik merupakan kunci utama untuk menghasilkan kualitas beras yang baik pula, pengelolaan tanah juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan teliti, yakni dengan dibajak sebanyak dua kali dan diikuti dengan garu, kemudian diratakan sehingga lahan siap untuk ditanami padi, dengan benih yang berkualitas tinggi 20 -25 kg/ha, dimana persemaian benih padi ditanam dekat sumber air yang telah diberi pupuk kompos 2 kg/m persegi.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidrap yang didukung oleh bertambahnya tanaman padi tidak luput dari sistem perairan yang baik, seperti pemberian air dengan metode AWD yang juga dapat meningkatkan produksi sekitar 3-5 %, Selain itu pengendalian hama atau penyakit pada tanaman padi juga dapat dikendalikan dengan metode PHT (pengendalian hama terpadu), dengan pengunaan insektisida atau pestisida sebagai langka terakhir untuk digunakan, disamping itu masih ada organisme pengganggu tanaman padi seperti tikus, ulat grayak, tungau, walang sangit, penggerek dan sejenisnya. Pupuk organik dan nutrisi menjadi pilihan utama para petani dari pada pupuk kimia.

Nutrisi yang digunakan untuk memperkuat tanaman padi berasal dari ekstrak buah-buahan seperti cacahan jagung, batang pisang, buah pisang, buah pepaya, dan nenas jika ada hasil ekstrak buah-buahan tersebut dicampur dengan gula merah hingga berwarna kecoklatan lalu ditambahkan air tawar secukupnya untuk disemprotkan dengan tanaman padi. Pemberian nutrisi alami tersebut membuahkan hasil yang cukup mencengangkan, terbukti dengan lahan sawah sekitar 30 are yang biasanya hanya menghasilkan gabah lima karung menjadi delapan karung. Varietes padi yang dikembangkan oleh petani pada setiap musim tanam adalah cigeulis, ciliwung, cisantana, mambarno, ir64, way opu buru, sintanur, ir66. Yang banyak dikembangkan adalah varietes ciliwung karena mudah diperoleh dan varietes cigeulis karena memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

PLTB Sebagai Obyek Wisata Baru

Kabupaten Sidrap telah memiliki obyek wisata baru, yakni PLTB (pembangkit listrik tenaga bayu atau angin) yang pertama di Indonesia dengan jarak tempuh 170 km dari kota Makassar sekitar 3 jam 30 menit, jika dari kota Parepare sekitar 15 menit saja, nilai investasi sebesar 150 juta USD sekitar Rp. 2 Trilyun merupakan energi baru terbarukan. Sejarah mencatat bahwa pembangunan PLTB ini sejak Agustus 2015 dan diresmikan langsung oleh bapak Presiden Jokowi pada hari senin 2 Juli 2018, beliau mengaku kagum dengan pemandangan bukit yang asri dan menyejukkan mata disana.”Berada diperbukitan watang pulu, sore tadi, saya merasa seperti tengah berada di negeri Belanda seperti di Eropa, padahal di Kabupaten Sidrap Sulsel,”kata Jokowi.

PLTB ini dengan 30 titik atau 30 wind turbin generator (WTG) areal seluas 100 Ha, satu tiang terdapat 3 baling-baling, satu baling-baling saja panjangnya 57 meter dengan berat 12 ton, satu tiang kincir angin menghasilkan 2,5 MW kali 30 titik menjadi 75 MW. yang dapat digunakan untuk mengaliri 70.000 pelanggan listrik dengan daya rata 900 VA, Adapun Proyek PLTB ini digarap oleh Investor asal Amerika Serikat, yakni UPC Renewables bekerja sama dengan PT. Binatek Energi Terbarukan. Jika kita pernah membayangkan tour ke luar negeri di Belanda yang terkenal dengan nama negara “kincir angin”, sekarang cukup ke PLTB Sidrap saja dengan biaya relatif sangat murah karena belum dikenakan tarif masuk alias gratis. Mengucapkan selamat datang dan menikmati pemandangan alam dengan bukit yang asri di area “kincir angin raksasa” berada di Desa Mattirotasi kec. Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sulsel.

Kabupaten Sidrap terdapat beberapa obyek wisata antara lain : Air Terjun Salu Maridi, Puncak Malloci, Bukit Larua, Tambang Batu Allakuang, Danau Sidenreng, Cekdang, Mojong, dan yang baru beberapa tahun terakhir pengembangan obyek wisata baru : “Taman Wisata Puncak Bila” dengan fasilitas ruang serbaguna, wisata sepeda air, perahu kuno, waterboom, aqua bikes, flying fox, motor ATV, pemancingan, swafoto dengan latar sepeda raksasa, swafoto antara bukit dan pematang sawah yang asri, dll yang juga merupakan salah satu obyek wisata Provinsi Sulsel yang terlengkap. Selain keindahan alamnya, kab. Sidrap tidak Jauh dari Toraja dengan jalan darat sekitar 2 Jam, menjadi peluang untuk dikembangan menjadi satu paket wisata alam dengan kabupaten tetangganya termasuk Kab. Enrekang atau paket wisata bahari dari kota Parepare dengan paket wisata alam di Kab.Sidrap, disamping itu letak PLTB sangat dekat dengan batas kota Parepare. Dapat juga diusulkan adanya wisata edukasi menanam padi dengan verietes unggul (back to nature), terutama pada saat musim libur anak sekolah sekitar bulan Juni-Juli.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidrap

Dengan produksi padi yang signifikan, menjadikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pada tahun 2015 sebesar 7,92 %, tahun 2016 sebesar 8,5 % dan pada tahun 2017 sebesar 9,3 %, yang membawa Sidrap menjadi kabupaten terbaik di Sulsel dari 24 kab/kota, dengan jumlah masyarakat miskin di daerah penghasil padi atau kota beras ini terendah di Sulawesi Selatan, yakni 5,4 %, terendah kedua Kab. Luwu Timur 7,3 %,terendah ketiga Kab. Wajo 7,7 %. Bahkan 60 % penduduk kab. Sidrap tergolong menegah ke atas, sebaliknya urutan tingkat kemiskinan tertinggi di sulsel adalah kab. Jeneponto. Hebatnya di kabupaten ini adalah karena penduduk setempat selain menanam padi juga berternak itik dan beternak ayam potong dan ayam petelor, sehingga di sekitar SKPD kab. Sidrap kondisi saat ini banyak tumbuh wisata kulier bebek Palekko seperti. RM.Gazebo, Bugis Palekko, Palekko Sidenreng, mengucapkan selamat menikmati bebek palekko khas Sidrap.

Pada tahun 2018, Pemda Sidrap menargetkan pendapatan PDRB per kapita penduduk mencapai Rp.30 juta sesuai RPJMD, namun target tersebut sudah dicapai tahun 2015 yang lalu, atau dicapai 3 tahun lebih cepat dari target. IPM naik dari tahun ke tahun hingga menjadi peringkat 7 se Sulsel. Salah satu stategi untuk meningkatan ekonomi daerah, Pemda Sidrap melalui Bupati H. Rusdi Masse memerintahkan bawahannnya untuk tidak mempersulit investor yang ingin menanamkan modal, berikan kenyamanan agar mau menanamkan modal sebanyak mungkin.. Hal tersebut terbukti dengan adanya investor luar negeri yang menyumbang hingga Rp.54 Milyar untuk pembangunan PLTB.

Peran KPPN dalam Penyaluran APBN untuk Kabupaten Sidrap

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Parepare kepada satker Instansi Vertikal Kementerian Lembaga (K/L). KPPN Parepare mempunyai wilayah kerja mulai dari Kab.Barru, Kota Parepare, Kab. Pinrang, Kab. Sidereng Rappang dan Kab. Enrekang (wilayah Ajatappareng). KPPN selaku perpanjangan Menteri Keuangan selaku Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) dengan menyalurkan dana APBN instansi vertikal kementerian/lembaga yang mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran yang disebut DIPA.

Peran KPPN Parepare sangat strategis dalam pengelolaan dana APBN baik dari sisi penerimaan negara maupun dari sisi Belanja Negara. Dari sisi Penerimaan Negara senantiasa berkordinasi dengan KPP Pratama dan bank/pos persepsi terkait dengan aplikasi MPN-G2 dan setoran penerimaan negara lainya juga senangtiasa melakukan sosialisasi/bimtek/workshop secara berkala kepada para satker wilayah pembayaran KPPN dan juga membuka layananan CSO, ada mini treasury learning center (TLC) serta memanfaatkan SMS center dan gruop WA kepada stakeholders. Pelayanan di KPPN Parepare dilaksanakan dengan cepat, tranparan, akuntabel dan tanpa biaya sehingga proses percepatan penyerapan anggaran dapat tercapai sesuai target, secara tepat jumlah dan tepat sasaran.

Sejak TA 2017 telah pula menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana Desa untuk wilayah ajatappareng, kecuali Kota Parepare hanya mendapatkan alokasi DAK Fisik tidak mendapatkan alokasi Dana Desa. Total pagu DAK Fisik dan Dana Desa termasuk ABPN-P TA 2017 yang disalurkan di wilayah ajatapperang oleh KPPN Parepare sebesar Rp. 1.140.554.344.000,- realisasi s.d. Desember 2017 sebesar Rp. 1.076.679.804.519 sisa cukup besar Rp. 63.874.539.481,-. (hal ini disebabkan terlambatnya beberapa kontrak pekerjaan untuk alokasi DAK Fisik).

Bagaimana jika ada pemda yang terlambat melakukan kontrak kegiatan DAK Fisik dan belum dialokasikan, solusinya bahwa kegiatan atas kontrak tertentu tersebut menjadi beban pemda itu sendiri ( masuk APBD). Sedang pada TA 2018 berdasarkan DIPA No.SP-DIPA-999.05.6.403647/2018 ini total DAK Fisik dan Dana Desa untuk wilayah ajatappareng (5 kabupaten/kota) Rp. 881.767.165.000,- (pagu DAK Fisik sebesar realisasi s.d.30 Juni 2018 dari pagu DAK Fisik 629.437.094.000 realisasi Rp.129.961.108.000,- (20,65%), untuk Dana Desa dengan pagu Rp. 252.330.071.000 realisasi s.d. 30 Juni 2018 sebesar Rp.151.398.042.600,-(60,00). Untuk Kab.Sidrap telah tersalurkan posisi 30 November 2018 DAK Fisik sebesar Rp.156.442.444.800,-(90,37%) dan Dana Desa untuk 68 desa sebesar Rp.55.539.074.000 (100,00%). Untuk TA 2019 terdapat peningkatan alokasi Kab.Sidrap dana desa untuk 68 Desa sebesar Rp.65.498.274.000,- realisasi pada bulan Maret 2019 terserap Rp.13.099.654.800 (tahap I sebesar 20%). Sedangkan alokasi DAK Fisik TA 2019 untuk Kab.Sidrap sebesar Rp.175.367.481.000,- s.d. akhir
Maret 2019 ini belum ada realisasi (0%).

Semoga pada masa yang akan datang Kabupaten Sidrap semakin maju dan tetap menjadi kota beras, penghasil ternak ayam potong, ayam petelor dan itik, yang diikuti wisata kuliner bebek Palekko. Semoga dapat diterapkan konsep “kota beras dan wisata kuliner bebek palekko” yang didukung dengan obyek wisata PLTB Sidrap. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *