Reklamasi Ilegal di Desa Kupa, Direktur Walhi Sulsel Warning Polres Barru

by

PAREPOS.CO.ID,BARRU– Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memberikan warning kepada aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian resort (Polres) Barru terkait reklamasi pantai yang terjadi diwilayahnya. Pasalnya, hingga saat ini proyek reklamasi pantai yang terjadi di Desa Kupa, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru masih terus berlangsung.

“Ini tidak ada niat untuk menyelesaikan. Pada hal saat kami menemui Kapolres Barru, dia menyatakan tidak tahu menahu akan adanya reklamasi tersebut. Bahkan, Kapolres berjanji akan menindaklanjuti dan inventarisasi siapa yang terlibat termasuk keluarganya jika ada,”ujar Direktur Walhi Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin kepada Parepos Online, Jumat 12 April, 2019.

Lebih jauh, kata Al Amin, masih berjalannya proyek reklamasi ilegal dan tak berizin tersebut membuktikan adanya ketidakseriusan penegak hukum di Kabupaten Barru. ” Walhi tidak akan tinggal diam, kami akan mencoba membawa persoalan reklamasi tak berizin ini ke level lebih tinggi, dalam hal Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel,”tegasnya.

Laporan tentang reklamasi ilegal sesuai hasil investigasi telah dilengkapi, tinggal kami ajukan ke Kapolda Sulsel. “Sekali lagi kami tetap memiliki keinginan agar kepolisian di daerah tersebut bersikap profesional,”ungkapnya. Reklamasi diwilayah pesisir pantai untuk membangun mushallah dan rest area bukan hanya terjadi di Desa Kupa. “Masih ada wilayah lain, dan itu menguatkan jika oknum unsur pimpinan kepolisian membackup dan memberikan perlindungan akan reklamasi pantai yang terjadi di Kabupaten Barru,”timpalnya.

Ditambahkannya, dalam kegiatan reklamasi pantai tersebut dipastikan tidak memiliki legalisasi atau tanpa perizinan. “Kalau ada yang mengklaim itu adalah lahan miliknya, sebuah kesalahan besar. Tidak ada yang boleh memiliki laut tanpa prosedur, terlebih merubahnya atau mengkonfersinya tanpa ada kajian lingkungan,”tegasnya.

Dari pantauan Parepos Online di Desa Kupa, reklamasi yang terjadi tersebut terus berlangsung. Bahkan, kini area di sepanjang jalur Trans Sulawesi kilometer 16 dari Kota Parepare telah dipagari dengan atap seng. Hanya sebuah spanduk kecil bertuliskan ‘Mohon Doa Restu Disini Akan Dibangun Mushollah Al-Barru Rahim dan Rest Area’. “Kalau siang tidak ada pekerjaan pak, tapi kalau malam baru ada kegiatan berupa penimbunan,”ujar salah satu warga sambil berlalu.(ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *