Banjir Wajo, Andi Gusti : Tidak Cukup dengan Pawang Hujan

by

PAREPOS.CO.ID, ADVENTORIAL — Sebagian wilayah Bumi Lamadukelleng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan harus terendam. Hujan deras yang mengguyur beberapa wilayah menyebabkan air meluap, hingga merendam ruas jalan dan rumah warga.

Banjir di Kabupaten Wajo mendapat tanggapan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Wajo Andi Gusti Makkarodda, ia menilai banjir tahunan yang selalu melanda bukan masalah sederhana, demikian ia sampaikan saat mengunjungi kantor pupuk kaltim di Pettarani Makassar, Selasa 11 Juni 2019.

Menurut, AGM akronim dari nama Andi Gusti Makkarodda jika berbicara banjir Wajo memang agak ribet. Kata dia, tidak akan bisa selesai dengan waktu sebulan, seminggu dan apalagi jika hanya dibicarakan dalam waktu musiman yakni hanya membahasnya saat musim hujan tiba.

“Pemda Wajo harus melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu dan harus melibatkan multi stakeholder. Perencanaan penanganan dan perencanaan penanggulangan harus dilakukan utuh, agenda aksinya harus dilakukan bersama-sama. Bupati harus bisa solidkan OPD (red., organisasi perangkat daerah.” Jelas Andi Gusti.

Banjir Yang Terjadi di Kelurahan Benteng, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Minggu 9 Juni 2019.

Ketua Partai NasDem Wajo ini menjelaskan jika melihat tanggul jebol di Belawa, jalan putus atau jembatan runtuh seperti di Majauleng, Pammana, Sabbangparu. Apalagi lahan persawahan, permukiman yang tergenang diberbagai kecamatan adalah kondisi yang berulang dari tahun ke tahun.

Lebih lanjut Sekretaris Komisi II DPRD Wajo ini mengatakan harapan masyarakat sesungguhnya sederhana. Hujan dan banjir diharapkan tidak membuat susah dan tidak menjadi bencana yang menelan korban harta dan korban jiwa. Namun ia meminta semua pihak bersabar karena ini awal tahun periode Pammase.

“Kita cukup memaklumi karena Pemda masih menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tetapi  paling tidak, Pemda harus memberi kepastian anggaran untuk OPD terkait, supaya tim yang bergerak tidak lagi kehabisan BBM dan telat makan. Kebijakan menahan-nahan anggaran kegiatan untuk penanganan banjir atas nama rasionalisasi anggaran adalah hal yang kurang tepat untuk dilakukan.” tegas Andi Gusti

“Sebaiknya Pemda berpikir multidimensi untuk menyelesaikan masalah yang ada, instruksi akan efektif  jika dibarengi dengan fasilitas dan anggaran.  Pemda tidak boleh berpikir bahwa semua selesai  dengan doa, makanya harus dikerjakan. Tidak boleh ikutan berpikir bahwa semua selesai dengan menyiapkan pawang hujan.” kelakar Mantan Aktivis Himpunan Pelajar Mahasiswa Wajo (Hipermawa) ini.

Sumber : Humas dan Protokoler DPRD Kabupaten Wajo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *