Isu ITH dan Detik-Detik Menegangkan

by

PAREPOS.CO.ID,PAREPARE– Selasa pagi, 25 Juli 2019, aktivitas di sebuah kedai kopi di bilangan Pasar Senggol riuh, tapi tidak ada saling senggol. Secangkir kopi hitam menjadi penghangat tubuh di pagi itu. Kopi khas tersaji di meja, ditemani sejumlah panganan khas bugis ala rakyat biasa. Hangatnya kopi disempurnakan dengan kepulan asap dan aroma nikotin mengepul tanpa dosa menuju ujung langit.

Sejumlah lelaki paruh baya menyeruput kopi sambil melepas ketegangan sebelum memulai aktivitas di pagi itu.
Tidak seperti biasanya, berada di kedai kopi di pagi hari. Yah, seorang teman datang dari Kota Batam, dan ingin menikmati hangatnya kopi hitam di sebuah kedai kopi di Kota Parepare.

Sekitar pukul 09.00 Wita, sudah berada di Warkop yang menyajikan kopi khas dari berbagai penjuru negeri. Tanpa sengaja bertemu dengan teman komunitas penulis gelar diskusi yang dikemas Bincang Buku. Diskusi yang dikemas santai itu, ternyata bahas soal Buku Detik-Detik Menegangkan yang ditulis BJ Habibie.

Editor Buku Detik-Detik Menegangkan dan buku Habibie Ainun, Andi Makmur Makka hadir sebagai narasumber.
Saya dan teman dari negeri penawar rindu, sebutan Kota Batam itu, duduk menikmati diskusi hangat, tanpa sekat ala rakyat sambil menikmati secangkir kopi hitam.

Diskusi itu digelar bertepatan Milad Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Para komunitas penulis gelar Bincang buku, Detik-Detik Menegangkan, Jalan Panjang Menuju Demokrasi peringati Milad Habibie dengan sebuah diskusi santai. Teman saya tertarik dengan tema diskusi itu, ia lama tinggal di Kota Batam. Diskusi itu bahas berbagai isu hangat mulai pembangunan Institut Teknogi Habibie (ITH) yang belum beroperasi, hingga cerita detik-detik menegangkan setelah BJ Habibie dilantik menjadi Presiden.

Andi Makmur Makka, bercerita saat BJ Habibie setelah dilantik menjadi Presiden. Saat itu, menegangkan, Habibie dikaitkan berbagai isu seperti isu SDM (semua dari Makassar). Bahkan, saat itu, Habibie didesak mundur dari jabatannya sebagai presiden.  “Pak Habibie tidak mundur dan tidak mau maju menjadi calon presiden. Beliau meminta putra terbaik bangsa maju dan menjadi Presiden,” katanya.

Menurut penulis Buku Rumpana Bone itu, bangsa Indonesia memulai sejarah demokrasi saat Habibie menjadi Presiden. Di saat kepemimpinan Habibie Undang-Undang (UU) Partai Politik disahkan. Pemilu 1999 diikuti puluhan partai politik. “Kebebasan pers dan berpendapat dibuka. Pak Habibie selalu berpikir untuk negara. Meski digoyang berbagai isu-isu tak sedap seperti SDM (semua dari Makassar), tetap berpikir untuk bangsa dan negara.
Ia mengakui, saat itu Habibie dikelilingi tokoh nasional asal Sulsel seperti Baramuli, A Galib, Marwah Daud Ibrahim, serta tokoh nasional asal Sulsel lainnya.

Peserta diskusi bernama Anwar Sadat Guna, mengatakan, Habibie sukses membangun Kota Batam sebagai kota industri terbesar di Asia Tenggara. Di Kota Parepare perlu dibangun yang menginspirasi keilmuan Habibie dan bisa dibanggakan rakyat Kota Parepare. Baru-baru ini, kata dia, Habibie mengunjungi Batam bersama putranya

Ilham Habibie. Habibie sukses membangun Batam dan menjadikan kota industri terbesar. Mendengar cerita itu, Makmur Makka mengatakan, Batam merupakan lokasi strategis dekat dengan Singapore dan Malaysia, dan berbatasan beberapa negara. Pak Habibie membangun sebuah daerah bukan membangun teknologi, tapi membangun Sumber daya manusia (SDM). Pengembangan sumber daya manusia membuat orang Indonesia pintar. “Jangan salah dalam kaprah, teknologi pesawat itu hanya wahana saja. Pak Habibie membangun SDM yang tangguh,” katanya. (ril/ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *