Melirik Potensi Ekonomi Kabupaten Enrekang

by

Kabupaten Enrekang adalah daerah perbukitan dan pegunungan (85%) dengan produksi tanaman perkebunan budidaya berkualitas eksport seperti kopi, coklat, lada,dll. Sangat strategis sebagai daerah penyangga turis sebelum menuju Kabupaten Tana Toraja, untuk itu perlu dikembangan konsep rest area bertaraf internasional sambil menikmati pemandangan alam dan berswafoto di pengunungan bambapuang dan keelokkan gunung nona.

Penulis : Nursaid.                               (Pegawai KPPN Parepare)

Selayang Pandang Kabupaten Enrekang Kabupaten Enrekang dengan ibukota Enrekang terletak sekitar 235 km dari utara Makassar, mempunyai wilayah tofografi yang bervariasi berupa perbukitan dan pengunungan (85 %), lembah dan sungai dengan ketinggian 43 – 3.293 MPL dan tidak mempunyai wilayah pantai. Letak geografis disebelah utara berbatasan dengan Kab.Tana Toraja, disebelah timur berbatasan dengan Kab. Luwu, disebelah Selatan berbatasan dengan Kab. Sidrap, disebelah barat berbatasan dengan Kab.Pinrang.

Terdapat 12 Kecamatan (Enrekang, Maiwa, Alla., Anggeraja, Baraka, Curio, Bungin, Malua, Cendana, Buntu batu, Masalle, dan Baroko) 17 kelurahan dan 112 Desa, Kabupaten ini adalah salah satu daerah di Provinsi Sulsel yang memiliki khas tersendiri, karena berada diantara kebudayaan bugis, mandar, toraja yang secara garis besar ada 3 rumpung bahasa, duri, enrekang dan maiwa, bahasa duri biasanya dituturkan di wilayah kecamatan baraka, alla, malua, buntu batu, masalle, baroko, curio dan sebagian penduduk di kec. Anggeraja. Sedangkan bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di kec. Maiwa dan Bungin. Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di kec.Enrekang, Cendana serta sebagian penduduk di kec. Anggeraja berdasarkan kondisi sosial budaya tersebut beberapa masyarakat menganggap perlu penggantian nama kab.Enrekang menjadi Kab. Massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung.

Sedangkan kata Enrekang berasal dari kata endeg yang artinya naik dari atau panjat atau kata lain dari “endekan”. Luas 1.786 km2 dengan wilayah daratan sangat kecil (sekitar 15%) lebih banyak buki-bukit dan gunung (85%) Kecamatan Alla Kab.Enrekang berbatasan langsung dengan Kab. Tana Toraja Sulsel dan ditargetkan menjadi sentra perekonomian di kabupaten ini karena lokasinya yang strategis sebagai jalur peredaran hasil bumi, makanya didirikan STA (sub terminal agro) Sumilan di desa Sudu yang terkoneksi dengan daerah tetangga antara Kec.Alla, Baraka, Baroko, Buntu Batu, Malua, Bungin, Curio, Anggeraja dan Masalle. Di sisi lain ada sub sektor peternakan, dimana ternak kambing merupakan salah satu primadona masyarakat dengan populasi kambing 41.375 ekor diperkirakan menghasilkan 8000-10.000 ternak kambing setahun, yang tersebar pada kec.Alla, Anggeraja dan Baroko. Untuk itu telah dibentuk kelompok tani Sipakanana di Desa Bolang dengan terus bertambah setiap tahunnya.

Pengungan Bambapuang sebagai Obyek wisata alam unggulan. Kabupaten Enrekang mempunyai wilayah pegunungan bambapuang yang merupakan pemandangan alam yang sejuk dan asri dengan lokasi pelintasan jalur darat menuju kab.Tanah Toraja yaitu 18 km ke arah utara Kab. Enrekang dengan ketinggian sekitar 800 MPL (meter dari permukaan laut) disini kita dapat mengambil gambar atau berswafoto dengan keindahan gunung buttu kabobong alias “ gunung nona”. Walaupun saat ini telah ada dibangun villa-villa dan tempat untuk berswafoto namun belum bertaraf internasional seperti jembatan kaca di Makale Kab.Tana Toraja, jadi perlu terus dikembangan obyek wisata alam pegungunan yang bertaraf internasional seperti di Selekta Kota Batu Jawa Timur.

Dinas Parawisata setempat perlu membuat suatu kawasan “rest area, agrowisata kopi dan wisata kuliner” bertaraf Internasional, sehingga para turis lokal maupun manca negara tidak hanya mengenal tana toraja saja, karena sebenarja sejak jaman Belanda sumber kopi berkualitas ada di Enrekang. Di Kabupaten lain seperti di Malino Kab. Gowa oleh Pemda setempat telah mencanagkan “beautiful malino” sebagai agenda parawisata tahunan, di tempat lain seperti kab. Bulukumba selain wisata “pantai bira” juga telah di buat wisata gunung dan tebing “ Appalarang” yang elok dan asri, begitu pula di Kab. Bantaeng telah dibuat kawasan bukit berbunga plus bunga sakura dari Jepang.

Di wilayah daerah masenrempulu ini, terdapat beberapa obyek wisata yang perlu juga di perkenalan kepada turis lokal maupun manca negara antara lain : Permandian alam lewaja, dengan jarak tempu sekitar 6 km dari Kota Enrekang, ke arah timur dapat di tempuh dalam waktu 15 menit, telah ada kolam dengan air yang jernih dan sejuk. Ada “ Air Terjun Lambai” dengan jarak tempuh 40 km dari Kota Enrekang, Obyek wisata Lo’ko Bubau yang merupakan salah satu Goa yang sangat menajubkan dengan stalaktit dan stalakmit yang sunggu mempesona, dengan jarak tempu 53 km dari Kota Enrekang. Sapo Kaluppini atau Rumah Kaluppini sebagai tempat pelaksanaan adat maccenreng manurung yang diadakan sekali dalam 8 tahun. Potensi wisata di kabupaten Enrekang sangat cukup menjanjikan.

Olehnya itu dibutuhkan keseriusan pemerintah daerah setempat untuk mengelola agar tidak mati suri, termasuk dalam hal promosi destinasi wisata harus diperkuat, karena sampai saat ini promosi potensi wisata yang ada masih kurang maksimal, contohnya adalah adanya obyek wisata : Kebun raya “Massenrempulu Enrekang” belum terkelola secara maksimal, apalagi jika dibandingkan kebun “raya bogor” misalnya. Perlu diketahui bahwa kabupaten ini banyak memiliki potensi, hanya saja belum dikelola secara maksimal, contoh lainnya adalah obyek wisata “Cekong Hill” dulunya orang ramai berdatangan karena promosinya bagus, tapi sekarang kurang terurus hal ini diakui oleh wakil bupati Enrekang yang baru “bapak Asman dan akan menggenjot potensi wisata yang ada yang merupakan bagian dari pendapatan asli daerah (PAD). Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Enrekang, Hamsir Lodang, wisman masih sedikit melakukan pendakian Ke Gunung Latimojong, wisata Dante Pine dan Buttu Macca,dll. Baru-baru ini Kementeriam Pariwisata (kemenpar) terus mengembangkan program wisata destimasi digital di Enrekang yang dipusatkan di kawasan wisata Dante Pine, kec. Anggeraja dengan melaunching Pasar Mamesa pada hari Minggu 9 Desember 2018. Kepala Pasar Mamesa Hadiono, Program ini sudah dibentuk kemenpar sekitar 52 wilayah di seluruh Indonesia, destinasi digital merupakan salah satu strategi kekinian Kemenpar untuk menggaet wisatawan, melibatkan kaum anak muda (milenial) sebagai penggeraknya dimana anak muda senang berswafoto dan menikmati pemandangan alam dan bersosmed ria, jadi ada penggabungan antara wisata alam, wisata kuliner khas Enrekang (nasu cemba, dangke,dll), dengan wisata seni budaya seperti musik bambu bas dan barutung yang sudah semakin langka. Sehingga kedepan Kabupaten ini dapat juga menjadi daerah tujuan wisata.

Pertumbuhan Ekonomi

Pada hari senin, 22 Januari 2018 Pemkab Enrekang melakukan rapat monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan triwulan IV TA 2018 , di Ruang Pola kantor bupati yang diwakili Bupati Enrekang, kepala BPS Enrekang Andi Rahmat, para kepala SKPD dan para camat setempat, beliau mengatakan bahwa selama tahun 2017 Pertumbuhan Ekonomi Kab. Enrekang mencapai 7,61%, sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Sulsel 7,51%, dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,41%. Selain itu IPM (indeks pembangunan manusia) di kab.Enrekang juga mencapai 7,79% dan berada pada urutan kelima se Sulsel dan hanya berada dibawah Makassar, Palopo, Parepare dan Luwu Timur. Hal ini membuktikan bahwa tingkat kesejahteraan di Kabupaten ini semakin baik dan terus ditingkatkan. Dalam rangka peningkatan PAD dan Pertumbuhan ekonomi di kabupaten ini Pemprov Sulsel mendukung Enrekang menjadi Distinasi Agrawisato Sulsel, hal ini disampaikan langsung oleh wagub Sulsel bapak Andi Sudirman Sulaiman dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Enrekang belum lama ini. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa Enrekang selama ini sudah dikenal sebagai pusat penghasil sejumlah komuditas pertanian unggulan, seperti senta utama sayur mayur ke kawasan timur Indonesia, seperti wortel, kentang, bawang merah, juga penghasil kopi terbaik dan beberapa komiditas buah seperti salak dan langsat/duku. Contohlah daerah lain di Indonesia yang telah mengembangkan konsep Agrowisata, seperti Kota Batu (ada kebun apel) dan Kab.Malang (ada kebun pepaya unggulan di Karang kates) di Jatim dan Lembang di Jawa Barat (ada kebun setroberi dan peternakan kelinci) konsep ini bisa ditiru dan diterapkan di Enrekang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Agrowisata dapat dikelola oleh masyarakat atau petani sedangkan pemkab menjadi fasilitatornya. Untuk mendukung program ini itu Pemprov Sulsel sudah menetapkan 10 titik perencanaan pembangunan rest area dan untuk tahap awal ada bantuan pemprov sebesar Rp.7 Milyar untuk pembangunan infrastruktur jalan. Selanjutnya Bupati Muslimin Banto telah mencanangkan agrowisata kopi di buka di kawasan Benteng Alla kecamatan Baroko, agrowisata durian di Desa Kaluppang kecamatan Maiwa.

Peran KPPN dalam penyaluran APBN untuk Kabupaten Enrekang

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Parepare kepada satker Instansi Vertikal Kementerian Lembaga (K/L). KPPN Parepare mempunyai wilayah kerja mulai dari Kab.Barru, Kota Parepare, Kab. Pinrang, Kab. Sidenreng Rappang dan Kab. Enrekang (wilayah Ajatappareng). KPPN selaku perpanjangan Menteri Keuangan selaku Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) dengan menyalurkan dana APBN instansi vertikal kementerian/lembaga yang mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran yang disebut DIPA.

Peran KPPN Parepare sangat strategis dalam pengelolaan dana APBN baik dari sisi penerimaan negara maupun dari sisi Belanja Negara. Dari sisi Penerimaan Negara senantiasa berkordinasi dengan KPP Pratama dan bank/pos persepsi terkait dengan aplikasi MPN-G2 dan setoran penerimaan negara lainya juga senangtiasa melakukan sosialisasi/bimtek/workshop secara berkala kepada para satker wilayah pembayaran KPPN dan juga membuka layananan CSO(HAI-CSO), ada mini treasury learning center (TLC) serta memanfaatkan SMS center dan gruop WA kepada stakeholders. Pelayanan di KPPN Parepare dilaksanakan dengan cepat, tranparan, akuntabel dan tanpa biaya sehingga proses percepatan penyerapan anggaran dapat tercapai sesuai target, secara tepat jumlah dan tepat sasaran.

Sejak TA 2017 telah pula menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana Desa untuk wilayah ajatappareng, kecuali Kota Parepare hanya mendapatkan alokasi DAK Fisik tidak mendapatkan alokasi Dana Desa. Total pagu DAK Fisik dan Dana Desa termasuk ABPN-P TA 2017 yang disalurkan di wilayah ajatapperang oleh KPPN Parepare sebesar Rp. 1.140.554.344.000,- realisasi s.d. Desember 2017 sebesar Rp. 1.076.679.804.519 sisa cukup besar Rp. 63.874.539.481,-. (hal ini disebabkan terlambatnya beberapa kontrak pekerjaan untuk alokasi DAK Fisik). Bagaimana jika ada pemda yang terlambat melakukan kontrak kegiatan DAK Fisik dan belum dialokasikan, solusinya bahwa kegiatan atas kontrak tertentu tersebut menjadi beban pemda itu sendiri ( masuk APBD). Sedang pada TA 2018 berdasarkan DIPA No.SP-DIPA-999.05.6.403647/2018 ini total DAK Fisik dan Dana Desa untuk wilayah ajatappareng (5 kabupaten/kota) Rp. 881.767.165.000,- (pagu DAK Fisik sebesar Rp.629.437.094.000,- + Pagu Dana Desa Rp. 252.330.071.000). Pada semester 1 TA 2018
realisasi s.d.30 Juni 2018 dari pagu DAK Fisik 629.437.094.000 realisasi Rp.129.961.108.000,- (20,65%), untuk Dana Desa dengan pagu Rp. 252.330.071.000 realisasi s.d. 30 Juni 2018 sebesar Rp.151.398.042.600,-(60,00). Untuk Kab.Enrekang telah tersalurkan posisi 30 November 2018 DAK Fisik sebesar Rp.117.835.368.350,-(89,25%) dan Dana Desa untuk 112 desa sebesar Rp.97.769.717.000,-(100,00%).
Untuk TA 2019 terdapat peningkatan alokasi Kab.Enrekang dana desa untuk 112 Desa sebesar Rp.115.526.328.000,- realisasi pada bulan Maret 2019 terserap Rp.23.105.265.000 (tahap I sebesar 20%). Sedangkan alokasi DAK Fisik TA 2019 untuk Kab.Enrekang sebesar Rp.111.201.517.000,- s.d. akhir Maret 2019 belum ada realisasi (0%).

Semoga pada masa yang akan datang Kabupaten Enrekang, yang mempunyai daerah perbukitan dan pengunungan (85%) semakin maju dan sukses menjadi Kabupaten yang memproduksi tanaman perkebunan berkualitas ekspor seperti kopi, coklat, lada,dll, dan menjadi sebagai kabupaten transit menuju Kabupaten Tana Toraja dengan rest area bertaraf internasional yang didukung dengan pemandangan alam dan tempat berswafoto di pengungungan “ Bambapuang” dan keelokan “gunung nona” sukses selalu untuk Kab. Enrekang yang dapat dikembangkan konsep “wisata alam pegunungan yang asri plus rest area bertaraf internasional” …….bravo…. .amin yra.(*/ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *