Kasus Stunting Turun hingga 13 Persen, Ini Imbauan Wabup Enrekang

by

PAREPOS.CO.ID, ENREKANG–Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Enrekang menggelar Bursa Inovasi Desa (BID). Wakil Bupati (Wabup) Enrekang, Asman membuka kegiatan tersebut di Desa Patondon Salu, Kecamatan Maiwa, kemarin.  Wabup mengatakan, pemerintah terus berupaya dan melahirkan inovasi-inovasi untuk menekan angka kasus stunting (permasalahan gizi pada anak) di Kabupaten Enrekang. Salah satunya membentuk tim terintegrasi terpadu yang menggaet beberapa elemen untuk terlibat dalam penanganan stunting tersebut,” kata Asman.

Wabup juga meminta para pemerintah desa turut andil dalam penanganan stunting di desanya masing-masing.”Stunting saat ini merupakan tantangan besar untuk menekannya,” ujar Asman. Apalagi, kata dia, Kabupaten Enrekang saat ini menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi di Sulsel.”Ini merupakan tantangan kita dan tanggung jawab kita bersama. Karena itu semua elemen harus terlibat, termasuk pemerintah di desa,” jelas Asman.

Asman menjelaskan, Enrekang merupakan penghasil sumber daya alam yang baik, mulai dari tanaman sayur-sayuran yang bergizi dan lainnya. Sehingga tidak seharusnya Enrekang menjadi daerah yang memiliki angka stunting tertinggi di Sulsel. Olehnya itu, perlu langkah kreatif untuk menekannya. Salah satunya adalah dengan mengajak kepala desa untuk membuat peraturan desa(Perdes). “Perdes yang dimaksudkan adalah tentang penanaman bibit pohon dan tanaman sehat ketika ada ibu hamil yang melahirkan. Sehingga bermakna bagi anaknya yang akan memulai kehidupan yang baru, agar bisa mencintai lingkungan dan menghasilkan sayuran yang bernutrisi,” imbau Asman.

Kepala Bappeda Enrekang, H Baba selaku dinas promotor mengatakan keseriusan pemerintah dalam penangan stunting tersebut sudah realisasikan dengan membuat ratusan jamban di 117 desa yang tersebar pada 12 kecamatan di Kabupaten Enrekang. Menurutnya, tidak hanya itu, juga ketersedian pangan dan air bersih serta sanitasi sudah tersentuh di masyarakat. “Saat ini kita terus melakukan upaya melalui beberapa OPD untuk menekan angka stuntung ini. Alhamdulillah, tahun 2018, jumlah stunting turun hingga 13,6 persen dibanding tahun 2015 mencapai 53,7 persen,” pungkas H Baba. (her/ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *