Haji Mabrur atau Haji Mardud

by

Pelaksanaan ibadah haji tahun 1440 H telah usai, jemaah haji dari berbagai negara kembali ke negaranya masing-masing. Ibadah haji adalah perjalanan rohani ( Spritual Journey ), di samping berwisata ada nilai ibadahnya.

Oleh : M Shodiq Asli Umar               (Lurah Mallusetasi)

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula.

Pelaksanaan puncak haji 9 Dzulhijjah Wukuf di Arafah tahun ini jatuh pada 10 Agustus 2019. Menurut Menteri Agama Drs.H. Syaifuddin Zuhri jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini sekitar 214 ribu orang.

Pemerintah Saudi melalui Pusat Komunikasi Internasional merilis data penyelenggaraan Haji 2018. Total jamaah haji dari seluruh dunia yang datang ke Tanah Suci tercatat 2.371.675 orang.

Angka itu terdiri dari 612.953 jemaah Saudi dan 1.758.711 jemaah non-Saudi. Untuk kategori jenis kelamin, terdiri dari 1.327.127 jemaah laki-laki dan 1.044.548 jemaah perempuan. Demikian rilis yang diterima Media Center Haji (MCH), Ahad 26 Agustus, lalu.

Jemaah haji yang berasal dari Gulf Cooperation Council (GCC) atau negara di kawasan Teluk sebanyak 34.140 orang, negara-negara Arab 395.410, Afrika 166.083 orang, Eropa 88.601, Amerika dan Australia 24.992 serta Asia (termasuk Indonesia) 1.049.496 orang. Indonesia sendiri pada tahun ini mengirimkan 203.351 jemaah.

Haji Mabrur

Haji Mabrur atau biasa disebut haji makbul haji yang diterima. Semua doa bagi yang melaksanakan berharap menjadi haji mabrur namun mencapai itu tidak semuda yang diucapkan dimulut .

Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat) dengan penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata atas dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala atau balasan bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat mabrur.

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.’”

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jilani : Hakikat wukuf di Arafah adalah mengenal diri sendiri dengan mengakui segala kesalahan dan dosa, sebagaimana akar kata Arafah yang berarti ‘mengenal atau mengerti’. Ketika seseorang sudah mampu mengenal dirinya, lambat laun dia akan mengenal Tuhannya, Allah swt.

Berhaji bukan sekedar berpenampilan haji namun memahami hakekat diri sebagai hamba Allah dengan membuang sifat takabbur, sombong, perasaan lebih kaya, lebih hebat, lebih cantik agar nilai-nilai haji tertanam dengan baik dalam.diri kita.

Haji Mardud

Haji Mardud artinya haji yang ditolak atau tidak diterima. kalimat Haji mardud atau Umroh mardud, namun sedikit umat Islam yang memahami kalimat mardud itu sebenarnya. Walaupun sebenarnya istilah Haji mardud ini sering didefinisikan oleh orang awam dengan Haji yang tertolak. Prilaku orang yang ditolak hajinya dapat dilihat dari kehidupannya sehari-hari. Meskipun telah berkali-kali melaksanakan ibadah haji dan umroh namun tidak merubah prilakunya ke arah yang lebih baik.

Ciri orang yang Haji nya mardud ini memang sulit dilihat dengan kasat mata namun Kriteria Haji mardud atau tertolak ini lebih mudah dilihat dengan bahasa keadaannya, di antaranya adalah:

1. Mengandung riya : Unsur riya yang paling sering tampak di masyarakat Indonesia adalah panggilan “Haji” di depan nama. Misalnya sebutan pak Haji atau bu Haji. Kata “haji” diperlakukan sebagai gelar layaknya gelar akademik seperti sarjana. Banyak orang yang pulang berhaji merasa senang dipanggil Haji, bahkan mencantumkan gelar Haji di depan nama lengkapnya dan dipasang di ruang publik.

2. Menggunakan uang haram : Berangkat Haji dengan biaya hasil dari maksiat sudah bisa dipastikan hajinya tertolak. Misalnya biaya hajinya menggunakan uang hasil korupsi, merebut harta warisan, dan sebagainya. Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa saat berada di Makkah, Imam Ali Zainal Abidin tidak menunjukkan wajah bahagia. Ia malah meneteskan air mata. Sampai muridnya bertanya, “Kenapa guru menangis?” Ia menjawab, “Aku bersedih.” “Kenapa bersedih?’ tanya muridnya lagi. “Karena yang hampir aku lihat, Allah perlihatkan di hadapan mataku, hampir seluruh jamaah haji tersebut berkepala binatang.” Muridnya penasaran dan bertanya, “Sebab apa, Tuan Guru?”

Sang guru menjawab :
Pertama, mereka pergi menunaikan Haji dan Umrah bukan karena Allah.
Kedua, mereka berangkat Haji dan Umrah, namun ongkos yang mereka pakai dari hasil dosa dan kemaksiatan, misalnya dari hasil korupsi,mencuri dan sebagainya
Karena itulah, orang yang ingin meraih Haji mabrur, pertama-tama harus meluruskan niat Haji betul-betul hanya karena Allah. Tidak ada niat lain sedikitpun. Walaupun kita telah berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan ibadah Haji dan Umroh kita, dari awal sampai akhir semua dilakukan dengan benar dan khusyuk, kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa haji kita maqbul atau mabrur. Mengaku mabrur selepas berhaji dikhawatirkan termasuk perbuatan takabur atau ujub dan justru akan menghilangkan pahala berhajinya. Yang harus kita lakukan adalah jalankan semua ibadah sesuai dengan ketentuan secara khusyuk dan ikhlas, kemudian serahkan semua hasilnya kepada Allah SWT.

Dapat disimpulkan berhaji atau berumroh perlu meluruskan niat. Haji adalah perjalanan spritual ( Spritual Journey ). Almarhum KH.Zainuddin Badu salah seorang ulama di Kota Parepare pernah menyampaikan tentang haji dan umroh dan didengarkan langsung oleh penulis. Beliau mengatakan bagi yang berniat melaksanakan ibadah haji dan umroh hendaknya membersihkan niatnya karena yang mau dikunjungi adalah tempat suci dalam versi Bahasa Bugis Tanah Mapaccinna Allah Ta”ala. Jadi niat yang harus diluruskan pertama kali agar haji mabrur yang didambakan dapat diraih.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *