Menuai Sorotan, Dua Agen LPG Salurkan 1.120 Tabung Bersubsidi di Parepare

by

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE –Setelah menjadi sorotan terkait kelangkaan dan mahalnya tabung bersubsidi di Kota Parepare. Dua agen resmi yakni PT Salmah Utama Gas Pare dan PT Awal Sejahtera dengan kawalan aparat TNI dan Polri, LSM dan SKPD terkait menggelar Operasi Pasar (OP).

Hal itu sebagai solusi yang tepat mengatasi kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram (kg) yang terjadi beberapa pekan terakhir di wilayah Kota Parepare. Sebanyak 1.120 tabung elpiji bersubsidi disalurkan. PT Salmah Utama Gas Pare sebanyak 560 tabung dan PT Awal Sejahtera sebanyak 560 tabung.

Warga antrean untuk mendapatkan satu tabung 3 kg, dimana harus menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Seperti di area Kantor Kelurahan Lakessi, Kecamatan Soreang. Bahkan dalam OP tersebut, tampak Plt Kepala Dinas Perdagangan (Disperindag) Parepare, H Laetteng, Sekretaris Disperindag Parepare, Hj Sitti Rahma, Babinsa Lakessi, Pelda Nasir, Bhabimkatibmas Lakessi, Aiptu Nawir dan Lurah Lakessi, Awal mengawal pelaksanaan OP tersebut.

PT Salmah Utama Gas Pare yang menyalurkan sekitar 240 tabung dengan sasaran  ke Jalan Sulawesi, Kelurahan Ujung Sabbang, Kecamatan Ujung.
Plt Kadisperindag Parepare, H Laetteng mengatakan, operasi pasar yang dilakukan sebagai solusi nyata mengatasi kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram di sejumlah titik dalam wilayah Kota Parepare.

“Kita rencanakan OP selama dua hari sebelum hari H lebaran Idul Adha, yakni tanggal 9 dan 10, dan lebaran, yakni tanggal 12 dan 13. Namun tetap melihat kondisi terkini. Apalagi penambahan kuota melalui operasi pasar hasil kesepakatan dengan Pertamina,” kata Laetteng disela-sela operasi pasar di wilayah Kelurahan Lakessi.

Dia menilai, kuota elpiji 3 Kg untuk Kota Parepare sudah lebih dari cukup. “Saya baru di Dinas Perdagangan, tapi beberapa hari ini saya amati, memang titik rawannya ada ditingkat pangkalan. Karena distribusi tabung ke masyarakat adalah pangkalan,” katanya.
Kendati demikian, kata Laetteng, pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan penggunaan elpiji 3 Kg sesuai peruntukannya.

“Kelangkaan ini akan menjadi evaluasi kami, terutama apa penyebabnya. Setelah dievaluasi, kita simpulkan untuk mencari solusi-solusi yang tepat yang nantinya akan dibahas secara bersama-sama di semua stakeholder terkait,” ujarnya.

Dia mengimbau, penggunaan elpiji 3 kg yang memang bukan peruntukannya agar memiliki kesadaran diri. “Kita tidak bisa awasi 24 jam. Terutama pendistribusian elpiji ke luar Parepare di waktu tengah malam yang tidak terpantau sama sekali. Makanya selain kita maksimalkan pengawasan, kita juga minta adanya kesadaran dalam peruntukan elpiji tersebut bukan pada tempatnya,” harap Laetteng.

Selain itu, Laetteng juga meminta Pertamina untuk melakukan tindakan tegas terhadap agen-agennya yang nakal dalam mendistribusikan elpiji 3 Kg. Begitu pun dengan agen agar memberikan sanksi terhadap pangkalan nakal, terutama jika secara terbukti melakukan penjualan kepada warga yang bukan warga Parepare. “Kita juga mencoba memikirkan langkah pengawasan yang efektif untuk menjaga jatah Parepare tidak dijual ke luar daerah. Misalnya warna tabung elpiji 3 Kg untuk Parepare beda dengan warna tabung untuk jatah Pinrang atau Sidrap. Ini untuk memudahkan pengamatan secara kasak mata. Namun ini semua akan dikomunikasikan dengan Pertamina selaku pihak berwenang,” katanya. (mat/ade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *