Kenang Habibie, Piala Habibie Cup I Didesain di Jerman

by
Chairman Fajar Group, HM Alwi Hamu dan BJ Habibie, bahas turnamen Habibie Cup I di Jakarta. Piala Habibie Cup I didesain di Jerman.

PAREPOS.CO.ID, PAREPARE — Jasa mendiang Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia bagi negara ini akan selalu dikenang. Namanya tak lekang dimakan zaman, Habibie tetap hidup di hati rakyat Indonesia.  Perjalanan sejarah terus mengukir namanya sebagai Teknokrat sejati dan lahirnya Undang-undang kebebasan Pers, sehingga diikonkan Bapak Demokrasi. Berkat kebijakannya rakyat Indonesia bisa mengungkapkan pendapatnya di muka umum.

Ambisius Teknologi dan Demokrasi ditintaemaskan sehingga didedikasikan untuk tanah air yang tak diragukan lagi. Beragam prestasi dan temuan di bidang riset dan pengembangan teknologi sudah ia sumbangkan bagi Indonesia dan dunia.  Sebut saja, teori untuk menghitung keretakan hingga pada tingkatan atom material konstruksi pesawat atau yang dikenal dengan teori Faktor Habibie.

Siapa sangka dalam perjalanan sejarahnya, Habibie justru memiliki perhatian besar terhadap olahraga Indonesia, termasuk melahirkan pesepak bola yang handal di negeri ini.  Jasa itu akan terus terpatri bagi pecinta dan pesepak bola di kota kelahirannya, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Turnamen sepak bola tertua di Sulsel, Habibie Cup diinisiasi Chairman Fajar Group, HM Alwi Hamu bersama Walikota Parepare, H Mirdim Kasim.

Keduanya membutuhkan tokoh nasional asal Parepare yang pas untuk jadi ikon turnamen itu. Hasilnya, pilihan pun jatuh kepada sosok BJ Habibie yang juga merupakan putra kelahiran Parepare. Tahun 1990-an, nama Habibie Cup disematkan pada turnamen sepakbola di wilayah Kota Parepare. Sejumlah tim-tim cakupan daerah di Ajatappareng dan sekitarnya ambil bagian dalam ajang itu, mulai dari Perspin Pinrang, Enrekang, PSM Makassar, Perssidrap Sidrap, Persim Maros, hingga tuan rumah turnamen, Persipare Parepare.

Format dari turnamen ini pun cukup unik. Tim-tim tersebut hanya akan bertanding dalam waktu yang singkat yakni selama 7 hari. Mereka pun hanya diperkenankan untuk memiliki waktu istirahat dua hari. Catatan sejarahnya, Persipare Parepare mencatatkan tim yang paling banyak meraih gelar juara. Tim berjuluk Laskar Madani itu tercatat meraih 11 kali gelar juara Habibie Cup. Sementara itu, PSM Makassar dan PS Sandeq Polmas berada di urutan kedua dengan koleksi 4 gelar.

Turnamen ini dicetuskan untuk menjadi ajang pencarian bakat-bakat muda pemain yang berada di Sulsel. Tak sia-sia, beberapa nama besar yang hilir mudik di kompetisi sepakbola Indonesia dan mampu tampil untuk Timnas Indonesia diorbitkan lewat Habibie Cup.  Nama-nama itu adalah Ronny Ririn, Irsyad Aras, Syamsul Chaeruddin, hingga Hamka Hamzah. Selain itu, ada juga pemain-pemain seperti Zulham Zamrun, Konate Makan, Firman Utina, Achmad Hisyam Tolle yang pernah berpartisipasi dan meramaikan turnamen yang udah digelar 21 kali tersebut.
Persipare masih mendominasi ajang ini dengan menjadi kampiun. Sisanya, gelar juara berhasil diraih beberapa klub secara bergantian, mulai dari PSM Makassar, PS Sandeq Polmas, Persipangkep, Persim Maros, Persijo Jonoponto, hingga Gasma Enrekang.

Melihat perjalanan panjang turnamen tersebut, tentu tak sedikit manfaat dari Habibie Cup. Wajar jika almarhum BJ Habibie dianggap banyak memberikan jasa bagi Indonesia. Turnamen Habibie Cup digelar pertama kali tahun 1990, diprakarsai Founder Harian Fajar, HM Alwi Hamu, Mirdin Kasim, dan wartawan senior Ibrahim Manisi.
Mantan kapten Persipare, Yan Ambasalu, menceritakan, ketiga pemrakarsa itu memiliki peran atas hadirnya Habibie Cup Sulsel. Ketiga orang itu langsung menemui Habibie untuk meminta izin untuk menggunakan namanya dalam kompetisi tersebut. Benar saja putra Parepare itu langsung menyetujui. “Ketika ide ada, Pak Mirdin Kasim, Pak HM Alwi Hamu, dan Pak Ibrahim Manisi, membutuhkan tokoh nasional asal Parepare yang pas untuk jadi ikon turnamen ini dan memilih Habibie. Mereka menemui Habibie dan meminta izin,” katanya, saat ditemui di Rumah Jabatan (Rujab) Wali Kota Parepare, Minggu, 15 September.

Yan Ambasalu mengatakan, awalnya turnamen itu hanya diikuti beberapa tim saja dari wilayah Ajatappareng dan sekitarnya meliputi Persipare Parepare, Perspin Pinrang, Enrekang, Barru dan Makassar. Kompetisi itu, dikenal di di berbagai daerah. Setiap tahun peserta kompitisi bertambah.  “Usia saya dulu waktu Habibie Cup I berusia 24 tahun. Banyak kenangan bersama skuad Persipare saat itu. Apalagi saat era Mirdin Kasim. Pokoknya kita sangat dilirik, sampai nasional. Animo masyarakat atas kompitisi Habibie Cup sangat tinggi,” jelasnya.
Mantan Kapten Persipare itu, menceritakan, Piala Habibie Cup I berbahan platinum merupakan pemberian hadiah dari Pak Habibie. Piala itu didesain dari negara Jerman. “Piala pertamanya itu didesain dari Jerman loh, itu merupakan hadiah dari Pak Habibie. Meskipun beliau tidak sempat hadir menyerahkan piala itu karena pada saat itu beliau sibuk di Jerman,” katanya.

Menurutnya, Habibie Cup ini harus terus bergulir, sebagai salah satu penghormatan masyarakat Kota Parepare untuk mengenang jasa-jasa dan dedikasi Habibie.  “Kita harus hadirkan sosok Habibie di sepak bola, dengan cara terus menggulirkan kompetisi Habibe Cup. Banyak daerah yang sudah pernah meminta kompitisi ini, saya harap setiap tahun harus digelar,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *