HM Yusuf Nonci Pejuang Perda HIV/AIDS di Kota Parepare – Pare Pos – Online
Tomalebbi'ta

HM Yusuf Nonci Pejuang Perda HIV/AIDS di Kota Parepare

Anggota DPRD Kota Parepare HM Yusuf Nonci

Anggota DPRD Parepare HM Yusuf Nonci bertekad perjuangkan warga yang berkaitan dengan Human immunodeficiency virus infection and acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS).  Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. HIV belum bisa disembuhkan secara cepat, tapi ada pengobatan yang bisa digunakan untuk memperlambat perkembangan penyakit tersebut, bahkan bisa disembuhkan bila dilakukan pengobatan rutin secara benar.

Pihaknya bersama rekan sesama anggota DPRD tengah menggodok rancangan peraturan daerah (Ranperda) inisiatif terkait penanganan masyarakat yang terdeteksi virus tersebut. Mengapa HIV/AIDS? Sebab Parepare saat ini merupakan urutan kedua daerah terbanyak penderita virus ini setelah Makassar. Dalam kurun tahun 2005 hingga 2016, angka kenaikan penderita HIV AIDS (Odha) mengalami kenaikan cukup signifikan. Tahun 2016 jumlah Odha bahkan sudah menembus angka 9.871 di Sulsel. Dari angka Odha ini, Kota Parepare menjadi daerah kedua terbesar penyumbang odha. Jumlahnya terdeteksi mencapai 500 orang. Dan yang terjangkit itu mereka yang usia produktif, 15 hingga 50 tahun, didominasi usia 20-40 tahun. “Kita berkesimpulan, penanggulangan HIV/AIDS sangat dibutuhkan melihat angka penyebaran di wilayah kita, ini memprihatinkan,” ujarnya.

Menurut kader partai besutan Oesman Sapta Odang , dari hasil kunjungan ke beberapa daerah yang telah memiliki Perda penanggulangan virus ini, terbukti dapat mengurangi angka penderita, artinya penyakit ini dapat diobati, asalkan mengikuti pengobatan secara rutin. Nah, dengan Perda ini nantinya akan diupayakan penanganan dan pengobatan penyakit ini gratis buat masyrakat. “Ratusan penderita HIV/AIDS dalam wilayah Kota Parepare akan mendapat jaminan perlindungan. Aturan terkait ini sementara dibahas dalam bentuk Ranperda,” beber anggota DPRD dua periode ini.

Jadi dalam regulasi itu nantinya, selain pengobatan bagi mereka yang terdeteksi, juga akan dilakukan tes darah gratis bagi warga Parepare guna mengetahui atau mendeteksi dini akan virus ini. Ada masyarakat yang kemungkinan terjangkit virus ini namun ia tidak mengetahui hal tersebut, selain itu, ada juga masyarakat yang sadar dirinya terjangkit tapi malu mengakui dan melakukan pengobatan. Sama halnya mereka yang ingin menikah, ketakutan akan menularkan penyakit tersebut ke pasangannya nantinya. “Memang, harus dilakukan secara persuasif dan pendekatan kepada warga, termasuk mengajak untuk periksa darah, hasilnya tentu dirahasiakan, dan hanya boleh disampaikan kepada yang bersangkutan dengan cara mendekati, dan selanjutnya dilakukan konsultasi serta diajak pengobatan secara rutin,” pintanya.

Lebih lanjut diurai Yusuf, virus ini diketahui menyebar melalui hubungan badan yang gonta-ganti pasangan, penggunaan narkoba dengan satu jarum suntik secara ramai-ramai, ibu melahirkan dan menyusui. Meski demikian, kabar baiknya adalah orang yang terdeteksi ternyata dapat sembuh, dan bisa pencegahan penularan walau berhubungan badan, melahirkan dan menyusui bagi wanita.
Guna mewujudkan Perda ini secepatnya, Pansus yang digodok Komisi II ini telah melakukan pencarian isu perda inisiatif sebagaimana mekanisme pembuatan setiap perda. “Pencarian isu dilakukan pansus ada dua tahap, yakni pencarian isu di luar dan dalam provinsi,” katanya. Dia menyebutkan, pansus telah melakukan pencarian isu tahap pertama ke Bali, Denpasar baru-baru ini. “Kenapa Bali? Karena daerah tersebut telah memiliki Perda penanggulangan HIV/AIDS sejak tahun 2013 lalu. Makanya banyak hal yang bisa menjadi referensi dalam pembuatan perda ini di Parepare,” jelasnya.

Dia menyebutkan, selama tahap pencarian isu di Bali, ada dua lembaga yang dikunjungi, yakni Kantor KPA dan Dinas Kesehatan daerah setempat. Sesuai data penderita HIV/AIDS di Bali memang banyak, tapi mereka di sana dapat jaminan perlindungan. Hak-hak mereka betul-betul terjamin, termasuk pengobatan dan jati diri penderita. Selain itu, Bali juga membuktikan mampu menekan bahkan mengurangi angka orang terinveksi penyakit ini, dibandingkan peningkatan penderita sebelum ada Perda. “Masyarakat di sana akhirnya mengetahui bahaya akan virus ini, sehingga mereka melakukan langkah pencegahan, dan jika sudah terlanjut terjangkit apa yang harus dilakukan,” ujarnya.  Yusuf menambahkan, perda ini juga nantinya akan mendeteksi mana saja masyarakat mengidap penyakit berbahaya itu. “Nah perda ini juga akan menjadi ketentuan bahwa penderita HIV/AIDS dilindungi dari segala aspek kehidupan, termasuk aspek sosial,” tandasnya.(*/ade)

Most Popular

To Top