Hoax di Medsos, Pembelajaran Untuk Parepare – Pare Pos – Online
new-picture-7
Opini

Hoax di Medsos, Pembelajaran Untuk Parepare

La Ode Arwah Rahman

Penulis: La Ode Arwah Rahman
(Magister Ilmu Komunikasi, Penggiat Media Culture Study)

Sebuah pesan berantai berisi maraknya penculikan anak awal Maret lalu tiba-tiba saja merebak di media sosial (Medsos). Tak sedikit warga yang memercayai informasi sesat tersebut, termasuk mungkin kita yang berada di Parepare. Belakangan informasi ini diklarifikasi oleh Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai hoax.
Beberapa pekan sebelum itu, masyarakat Indonesia juga disuguhkan foto jabat tangan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Habib Rizieq Syihab. Foto yang menyebar di media sosial itu sempat viral, dan menjadi perbincangan hangat antar netizen meski hanya hoax.

Hoax atau hoaks sederhananya diartikan sebuah tipuan dan kebohongan yang menyamar sebagai kebenaran. Istilah ini populer di internet dan media sosial karena peredaran hoax memang lebih mudah berkembang di internet dan media social ketimbang di media-media mainstream.  Bersamaan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, fenomena hoax menyebar tak hanya di kalangan warga perkotaan, tetapi juga menyasar warga hingga di daerah pelosok, di desa-desa yang mungkin dengan kondisi jalanan masih berlubang. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Menarik mencermati hasil riset yang dilakukan Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) akhir Februari 2017 lalu. Mastel mengungkap bahwa  aplikasi  sosial media seperti LINE, WA, facebook atau telegram menjadi saluran hoax terbanyak yaitu 62,8 persen. Sementara media-media mainstream, meski ikut terpapar namun presentasinya kecil. Televisi misalnya hanya 8,70 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen.

Data ini penting untuk menjadi pembelajaran berharga bagi kita masyarakat Parepare dalam menyikapi informasi di media sosial. Ini tidak bermaksud mengatakan bahwa Medsos di Parepare memuat berita hoax, namun masyarakat harus diberikan perangkat kemampuan pemikiran untuk dapat memilah dan memilih informasi mana saja yang sehat dikonsumsi, sehingga tak menjadi korban berita hoax.

Prev1 of 4

Click to comment

Most Popular

bannerr_bitmap
To Top