Pahit Bagi Petani, Pedes di Konsumen – Pare Pos – Online
new-picture-7
Metro Pare

Pahit Bagi Petani, Pedes di Konsumen

cabai

PAREPARE, Parepos.co.id — Harga cabai yang melambung di sejumlah daerah, tidak memberikan dampak yang baik bagi petani. Petani tetap menjerit karena harga cabai tidak mengalami kenaikan signifikan, sementara di pasar harga cabai semakin pedes.
Harga cabai di tingkat petani di Enrekang atau penghasil cabai dijual seharga Rp 20.000 sampai Rp 25.000 per kilogram (kg). Tapi, di Pasar Sentral Enrekang, cabai dijual Rp 60.000 per kg naik dari Rp 37.000. Sedangkan harga di pasar grosir Sudu masih berkisar Rp 40.000 per kg.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Enrekang, Hardi,SE mengatakan, saat ini harga cabai mengalami kenaikan akibat musim kemarau sehingga stok cabai kurang.

“Semua daerah mengalami kenaikan harga karena dipengaruhi musim kemarau. Kami belum mengambil langkah untuk menekan lonjakan harga cabai,” katanya.

Selain itu, kata dia, penyebab lain naiknya harga cabai karena pemasok cenderung mengirim dan mendistribusikan cabai antar daerah seperti Manado dan Kalimantan.

“Cabai mahal bu, karena banyak pedagang yang kirim ke daerah lain, jadi disini cabai kurang,” kata Wiah, seorang pedagang cabai.

Dinas Perindag Kota Parepare dalam laporan sembilan bahan pokok pangan (sembako) akhir-akhir ini, harga cabe dan sejenisnya normal-normal saja, bahkan ada beberapa hari harga cabe di Parepare mengalami penurunan dari sebelumnya.

Kepala Seksi Bina Perdagangan Dinas Perdagangan Muh Sabar HN ST, merilis harga cabai tertinggi di Kota Parepare berkisar Rp 42 ribu per kilogram (kg).

” Harga cabai di Parepare masih normal-normal saja, dibanding dengan daerah lain. Pasokan kita mencukupi,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Parepare HM Amir Sabbi, mengaku, pasca pasar murah digelar harga bahan pokok di Parepare stabil termasuk harga cabai.

Sedangkan harga cabai di Kabupaten Pinrang, naik dua kali lipat, di Pasar Sentral Pinrang, harga cabai naik dari Rp30 ribu menjadi Rp70 ribu per kg.

Seorang pedagang cabai di Pasar Sentral bernama Wulan, kenaikan itu terjadi sejak satu pekan yang lalu.”Biasanya harga cabai Rp 30 ribu per kg, naik menjadi Rp 70 ribu per kg,” katanya.

Wulan mengaku, kenaikan harga lantaran kurangnya pasokan cabai dari petani. Selain itu, kata dia, pengepul cabai, tengah mengirim cabai ke sejumlah daerah di Indonesia.

“Dampak dari kenaikan harga cabai, banyak pembeli beralih ke lombok botol. Jualan kami pun tak laku, bahkan ada yang hampir bonyok,” ucapnya.

Anggota kelompok tani Kelurahan Maccarina, Abduh Rahman mengatakan, harga cabai di kalangan petani ke pengepul di kisaran Rp 35 ribu per kg. Cabai tersebut kebanyakan dikirim ke Kalimantan.

Sementara itu, di Kabupaten Wajo harga cabai rawit berkisar Rp 40 ribu per kg. Harga tersebut sudah turun dari pekan sebelumnya mencapai 80 ribu per kg.

Pantauam PARE POS di Pasar Tempe, Sengkang, Senin, 9 Januari, menunjukan harga cabai sudah mulai turun.

Seorang pedagang di Pasar Tempe bernama Ibu Eni mengatakan, harga cabai saat ini memang telah mengalami penurunan, jika dibandingkan sebelum tahun baru yang harganya mencapai Rp80 ribu.

Pedagang lainnya, Indo Intang membenarkan, harga cabai rawit mengalami penurunan dari Rp80 ribu menjadi Rp 40 ribu.

Di Maros, harga cabai di Maros, mencapai Rp80 ribu per kilogram naik dari Rp20 ribu per kg. Seorang pedagang di Pasar Sentral Maros, Daeng Genda, mengatakan, harga cabai sejak tiga hari terakhir. Saat ini, harga cabai masih di sekitar Rp80 ribu per kg.

“Harga cabai naik terus, mulai Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per kilo. Tapi harga ini juga tinggi, kalau normalnya biasanya hanya belasan ribu sampai Rp20 ribu per kilo,” ujarnya.

“Pembeli juga mengeluh, meskipun mahal, tetap dibeli. Kita jual mahal karena stok dan pasokan kurang. Saya ambil stok dari Makassar dan sebagian juga dari Maros,” jelasnya.

Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke Balai Penelitian Serealia (Balitsereal) Barandasi, Kecamatan Lau, Sabtu, 7 Januari, mengatakan, rantai pasokan cabai telah dipangkas. Hal itu, kata dia, yang membuat lonjakan harga mereda dalam beberapa hari terakhir.

Menurutnya, salah satu penyebab harga cabai melambung tinggi di pasaran akibat akibat cuaca ekstrem atau La Nina. “Penyebabnya karena cuaca La Nina. Curah hujan mempengaruhi produktivitas cabai di seluruh Indonesia,” katanya.

Ketua Komisi II DPRD Wajo Asri Jaya Latief mengatakan, persoalan tinggi rendahnya harga cabai memang memiliki dampak. Ia menyarankan pemerintah membuat program pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk ditanami sayur mayur, seperti cabai.

“Nah, sekarang ini yang kurang seharusnya pekarangan rumah kita ditanami cabe dan sayur-sayuran. Sehingga untuk kebutuhan sehari-hari tidak musti kita beli lagi,”katanya. (tim)

Click to comment

Most Popular

bannerr_bitmap
To Top