Pencinta Alam Hadir Guna Menumbuhkan Solidaritas dan Anti Kekerasan – Pare Pos – Online
Opini

Pencinta Alam Hadir Guna Menumbuhkan Solidaritas dan Anti Kekerasan

Mantan Ketua Umum Mapala STAI DDI Pangkep, Periode 2009-2011
Laporan: Ardi Wiranata
Organisasi berlabelkan pencinta alam kini diterpa dengan kisruh tak sedap. Pasalnya, beberapa waktu lalu, pelaksanaan  pendidikan latihan dasar out door TGC XXXVII Mapala Universitas Islam Indonesia atau UII Yogyakarta, bagi angggota baru yang akan bergabung dalam organisasi itu. tiga orang calon anggota barunya tewas setelah mendapatkan beberapa pukulan fisik dari seniornya, seperti yang dilansir dari pemberitaan Tempo media, edisi Minggu 29 Januari 2017, dikabarkan juga 10 orang calon anggota muda dari Mapala tersebut yang berhasil lolos dari pendiksaran itu masih dirawat di rumah sakit Yogyakarta karena mengalami luka-luka dan shock akibat dari perlakuan seniornya.
Hal itu berdampak pada perekrutan anggota baru di lingkup organisasi pencita alam yang lainnya. Tentu saja berdampak, Seperti organisasi Mapala di salah satu perguruan tinggi Kabupaten Pangkep yang tengah gencar melakukan perekrutan Anggota baru, namun harus mengurungkan niatnya dikarenakan kisruh tersebut merasuki pikiran Mahasiswa(i) yang hendak bergabung dalam organisasi tersebut. Sebut saja Indar (22) Mahasiswa semester awal di kampus itu, yang awalnya berniat bergabung dalam organisasi Mapala, namun mengurunkan niatnya. “Mapala ternyata hanya mengedepankan kekerasan, bukan kedamaian”.Menurutnya. Ia menarik kesimpulan dari yang terkabarkan, pasca Insiden Diklatsar TGC XXXVII Mapala UII Yogyakarta.
Sungguh miris, dan sangat disayangkan prilaku oknum yang mengatas namakan dirinya kader Mapala, namun tak mencerminkan dirinya Layaknya sebagai Mahasiswa pencinta alam. Bukankah ! tujuan dari terbentuknya organisasi pencinta alam sebagai wadah penyambung dalam mengajak seseorang melestarikan alam, mencintai lingkungan, dan menghargai sesama, sebagai mana disebut Pencinta alam. Landasan dasar tujuannya.
Dalam insiden tersebut, saya turut prihatin dan turut berduka. Sekaligus mengecam tindakan kekerasan yang berlebihan dalam proses perekrutan anggota baru untuk masuk dalam organisasi pencinta alam. Saya yakin tidak semua organisasi pencinta alam mengedepankan kekerasan fisik, karena saya pernah melalui proses itu dan berjuang sesuai tujuan dasar dari pada organisasi pencinta alam itu sendiri.
Organisasi pencinta alam, sejatinya, menanamkan kecintaan terhadap Alam semesta, melestarikan lingkungan alam, menghargai sesama manusia, dan menumbuhkan rasa solidaritas persaudaraan dan menjadikannya sebagai satu kesatuan. Sebaliknya, bukan malah memberi pendidikan kekerasan secara fisik yang dapat menciptakan generasi pemberontak dan pendendam, Bahkan harus menjadikan nyawa seseorang sebagai tumbal.
Tidak dipungkiri proses perekrutan anggota baru untuk masuk dalam organisasi pencinta alam, tidaklah begitu mudah secara serta merta langsung menerima anggota baru. Melainkan harus melalui proses, yang telah diatur dalam AD/ART organisasi, yang dinamakan pendidikan latihan dasar. pembimbingan materi teori (In door), Seperti materi, Mountenering (Perjalanan gunung hutan), Survival (cara bertahan hidup), Navigasi (mencari arah), Caving (susur gua) dst. Kemudian melanjutkan pendidikan penerapan teori secara langsung dilapangan (Out door), dimana pendidikan out door sendiri, melihat kecakapan calon anggota baru dalam menerapkan materi yang diterima dari pendidikan In door. Tentunya, dalam pendidikan Out door dalam pengawasan Panitian yang telah dibentuk dan didampingi Instruktur senior yang telah berpengalaman. Semoga tak ada lagi korban jiwa. Dan katakan tidak untuk kekerasan fisik berlebihan dalam mendidik penerus pelanjut pencinta alam. Salam lestari, tetap kibarkan jiwa alam dalam misi pelestarian alam. (*)

Most Popular

To Top