Tak Ada Support, Kopra Sulsel Kini Mati Suri – Pare Pos – Online
new-picture-7
Ekonomi

Tak Ada Support, Kopra Sulsel Kini Mati Suri

MAKASSAR, Parepos.co.id — Sejak Abad 17, Sulsel dan Indonesia Timur terkenal dengan perdagangan kopra. Kini komudintas unggulan lokal kopra mati suri. Tak ada lagi rakyat melirik kopra sebagai kekuatan ekonomi daerah.

Keprihatinan itu dilontarkan pengusaha sekaligus mantan Ketua HIPMI Sulsel Rusdin Abdullah melihat perkembangan komunitas kopra yang kian terpinggirkan oleh masuknya mekanisasi kelapa sawit.

Mengelilingi Sulsel siapapun pasti akan melihat dengan mata kepala tanaman pohon Kelapa tumbuh subur di mana-mana, baik di kawasan tepi pantai, pinggiran kota dan lebih banyak di daerah perbukitan dan pegunungan di desa-desa. Warga Sulsel yang mayoritas petani dan nelayan memiliki pohon Kelapa paling sedikit 30-100-an pohon di setiap kebun dan pekarangan rumah mereka. Meski ada tanaman komoditi andalan lainnya, seperti Kakao, Cengkeh, Kopi, Kemiri dan Jambu Mente, pada umumnya, warga menggantungkan ekonomi mereka pada hasil produksi kopra yang diolah dari kelapa-kelapa tersebut.

Dahulu, era 1970-an hingga awal 80-an produksi Kelapa di Sulsel sangat besar maka didirikanlah sebuah pabrik minyak goreng yang bahan dasarnya dari kelapa. Pabrik yang dirikan oleh pengusaha dari luar daerah itu, kemudian mati hilang tak berbekas. Kalaupun bangunannya masih ada mungkin saja tinggal puing-puing berkarat lumut diliputi debu. Selain itu, pernah juga terdengar pemerintah membangun pabrik sabut kelapa, namun kini juga tidak tahu seperti apa kabarnya.

“Saya masih ingat di Jl Urip Sumiharjo samping kantor Kajati Sulsel itu ada pabrik minyak goreng. Ada juga di Jl Kumala Makassar. Tapi pabrik itu kini mati tak tersisa,” kenang Rusdin.

Seiring waktu mengalir dan jaman yang terus berganti dengan pergantian masa kekuasan pemerintahan, kopra tak lagi menjadi komunitas perdagangan. Minyak goreng kini dikuasai pengusaha China dan asing. Coba lihat di Sumatera kawasan sawit nyaris mendominasi.

“Kita semua miris melihat situasi itu karena tak ada kepedulian pemerintah mengembalikan kejayaan kopra, padahal kita tahu kopra itu digerakkan oleh rakyat. Tidak seperti sawit digerakkan para pengusaha dan pemilik modal. Sebenarnya ini yang mesti dikembalikan. Harus ada semangat mengembalikan lokal komoditi,” kata Rusdin panjang lebar, Sabtu 7 Januari 2017.

Lalu bagaimana cara agar koprak bangkit lagi? “Kuncinya di pemerintah. Harus ada rule atau kebijakan ditelurkan pemerintah. Harus ada anggaran untuk mekanisasi. Harus ada pabrik pengolahan kopra modern dan harus ada kampanye kembali menggunanakan produk lokal,” ulas Rusdin.

Menurut politisi berlatar belakang pengusaha ini sekarang sudah saatnya petani kelapa di Sulsel bangkit merebut pasar di era pasar bebas ini. Untuk itu, dia berharap agar pemerintah wajib mencarikan pasar untuk membantu sektor ini , karena saat ini produksi kopra Sulsel terus terus. Sementara itu, nasib rakyat hanya menjadi kuda tunggangan pengusaha besar untuk meraup untung. (fnn)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

bannerr_bitmap
To Top