Gerakan Membangun ‘EMAS’ di Bumi Massenrempulu, Ini Capaian Muslimin Bando – Pare Pos
Tomalebbi'ta

Gerakan Membangun ‘EMAS’ di Bumi Massenrempulu, Ini Capaian Muslimin Bando

H Muslimin Bando

Laporan: Hermansyah

Bupati Enrekang, Drs H Muslimin Bando,MPd tidak main-main untuk memajukan daerah yang dipimpinnya. Terbukti, sejak ia dilantik memimpin Bumi Massenrempulu 2013 lalu, ia langsung tancap gas. Muslimin Bando langsung menggelorakan Gerakan Membangun Enrekang Maju, Aman dan Sejahtera (EMAS) kepada seluruh aparat pemerintah dan masyarakat.

GUNA mensukseskan program Gerbang Emas, Muslimin menyusun dua skenario besar. Yang pertama adalah meningkatkan sumber daya manusia (SDM) seluruh masyarakat Enrekang. Termasuk para aparat pemerintah.
Hasilnya, setelah memberikan izin belajar bagi para pegawai, sudah ribuan PNS yang kini menyandang titel S2. Bahkan ada beberapa diantaranya yang meraih predikat doktor.

Selain itu, bupati yang akrab disapa MB ini terus menggenjot Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dalam kurun waktu kepemimpinannya, APBD Enrekang kini sudah menembus angka Rp1,2 triliun. Atau meningkat sebesar Rp690 miliar.
Pencapaian itu mengacu pada APBD di era kepemimpinan Bupati Ikbal Mustafa (almarhum) selama lima tahun sebesar Rp300 miliar. Selanjutnya, ketika La Tinro La Tunrung menjadi Bupati Enrekang, ia berhasil meningkatkan APBD dari Rp300 miliar menjadi Rp690 miliar. ”Saudara saya Puang Tinro 10 tahun memimpin Enrekang dari 2003-2013, mampu meningkatkan APBD dari Rp300 miliar menjadi Rp690 miliar. Berarti dia naikkan Rp390 miliar selama 10 tahun,” jelas MB.

Sementara pada dua tahun empat bulan kepemimpinan MB, telah meningkatkan APBD sebesar Rp600 miliar. Rinciannya, dari APBD 2013 di akhir kepemimpinan La Tinro sebesar Rp690 miliar, naik menjadi Rp800 miliar di APBD tahun 2014. Setahun kemudian, atau 2015, naik lagi hingga hampir mencapai Rp1 triliun. Dan tahun 2016 ini angka di APBD tertulis Rp1,2 triliun. ”Pada ketuk palu penetapan APBD 2016, Kabupaten Enrekang menetapkan APBD sebesar Rp1,2 triliun. Ini belum termasuk APBD Perubahan. Berarti dalam kurun waktu dua tahun empat bulan, kami mampu menaikkan APBD sebesar Rp600 miliar,” kata MB.

Selain keberhasilan menggenjot peningkatan APBD hingga naik dua kali lipat, MB juga mampu menorehkan prestasi dengan mengantarkan daerah ini meraih 46 penghargaan selama empat tahun kepemimpinanya. Baik tingkat nasional maupun level provinsi. Salah satunya adalah penghargaan tertinggi bidang Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Selain itu, juga meraih juara satu tingkat nasional sebagai Kabupaten Sehat tahun 2015, serta juara satu Kabupaten Peduli HAM selama dua kali berturut-turut, yakni 2014 dan 2015.
Untuk tahun 2016 saja, tercatat ada 20 penghargaan yang telah diraih. Tiga diantaranya pada skala nasional. Masing-masing juara II Pemanfaatan Pekarangan Rumah Hatinya PKK tingkat Nasional. Juara II Cipta Menu B2SA (Berimbang, Bergizi, Sehat dan Aman). Diraih pada Hari Pangan Sedunia Tingkat Nasional ke-36 di Jawa Barat, baru-baru ini. Menjadi KWT terbaik nasional pada Lomba Gotong Royong. ”Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pemerintah pusat sudah mengakui apa yang dilakukan Pemkab Enrekang selama ini sudah benar,” ujar mantan guru dan loper koran ini.

Sementara pembangunan di bidang infrastruktur, MB fokus pada pembangunan jalan lingkar timur. Mulai dari Kecamatan Maiwa dekat perbatasan Kabupaten Sidrap, hingga ke Kecamatan Baraka. Untuk membuka akses desa-desa di sepanjang lingkar timur, disiapkan anggaran sebesar Rp180 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pada 12 kecamatan yang tersebar di Enrekang. “Insya Allah, akhir tahun 2017 masyarakat Enrekang akan menikmati infrastruktur jalan yang lebih baik dari tahun-tahun kemarin. Terutama jalan dari desa ke desa,” janji suami Hj Johra ini.

Ditegaskan MB, tidak perlu berlama-lama menjadi seorang bupati. Yang terpenting banyak berbuat untuk kemajuan daerah. ”Eda naparallu masai jadi bupati, yang penting buda dipugau. (Artinya kurang lebih; tidak perlu lama jadi bupati yang penting banyak bekerja). Yang jelas, kita bersyukur karena di kepemimpinan kami dengan Pak Amiruddin, kita diberi rezeki yang banyak. Baru dua tahun kita sudah bisa dapat uang Rp600 miliar, sehingga APBD kita menjadi Rp1,2 triliun,” terang MB.

Bidang pendidikan juga menunjukkan peningkatan prestasi. Kinerja para guru dan pengawas sekolah pada ujian kompotensi yang dilakukan Kementerian Pendidikan, Enrekang keluar sebagai juara tiga se-Sulsel.
Yang paling menggembirakan, lanjut bupati yang pernah menjadi guru ini, sebanyak 11 sekolah di Enrekang menerima penghargaan Adiwiyata dari Menteri Lingkungan Hidup. Mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA.
“Bulan ini kita yang terbanyak di Sulsel menerima penghargaan Adiwiyata,” ujarnya.

Selain itu, MB juga telah berhasil mencetak sarjana-sarjana baru dari kalangan pegawainya. Sedikitnya kurang lebih 1.000 orang yang telah menyelesaikan kuliahnya. Baik strata satu (S1) maupun S2. .”Sejak dilantik pada bulan Oktober 2013, visi misi saya yang utama adalah memberi peluang sebesar-besarnya bagi pegawai untuk melanjutkan pendidikannya. Caranya, dengan mengubah hari kerja dari 6 hari menjadi 5 hari. Sabtu dan Minggu libur. Itu kesempatan bagi pegawai untuk menuntut ilmu,” ujar bapak empat anak ini.

Sebelumnya, bidang kesehatan selalu menjadi sorotan. Itu sebagai dampak dari terjadinya kekurangan dokter. Akibatnya, banyak warga yang berobat keluar daerah. Merespons persoalan itu, MB kemudian mendatangkan empat dokter ahli dari Unhas. Olehnya, dokter ahli tersebut digaji dengan angka yang terbilang fantastis. Rp25 juta per bulan.
Bidang pertanian juga telah menunjukkan peningkatannya. Setiap tahun, produksi petani bawang merah mencapai 6.000 ton. Lahan pertanian yang tersebar di Kabupaten Enrekang seluas 6.000-7.000 hektare.
Omzet dari petani per satu kali panen mencapai Rp1,5 triliun. Melampaui PAD (Pendapatan Asli Daerah) Enrekang 2016 yang tidak lebih dari Rp1 triliun.
“Petani bawang kita dalam per hektarenya menghasilkan 10 ton. Sedangkan luas lahan pertanian bawang merah kita 6.000-7.000 hektare,” kata Muslimin Bando.
”Jika dikalikan dengan 6.000 ton dengan harga bawang merah sekarang Rp25 ribu, berarti uang yang masuk Enrekang melalui bawang merah mencapai Rp1,5 triliun. Lebih besar daripada PAD-nya Enrekang 2016,” tambahnya.

Atas capaian itu, menurut Muslimin, bank-bank yang ada di daerah ini memperoleh peringkat penabung terbesar. Selain itu, Bumi Massenrempulu juga masuk tiga besar penghasil bawang merah di Indonesia. Karenanya, Enrekang bisa penentu terjadinya inflasi.”Bukan hanya bawang. Tapi kita juga penghasil wortel, kol, kentang, cabe, kopi, lada, cengkeh dan masih banyak hasil bumi lainya,”jelasnya.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!