Kelangkaan Benur Windu, Ini Penyebabnya di Pinrang – Pare Pos
Ekonomi

Kelangkaan Benur Windu, Ini Penyebabnya di Pinrang

Petani tambak memperlihatkan Benur Udang

PAREPOS.CO.ID, PINRANG– Petani tambak di Pinrang semakin termotivasi untuk membudidayakan udang windu. Selain pertumbuhan cepat, juga harga jual bisa menembus Rp 125.000/kilogram. Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah kelangkaan benih udang windu (benur) di usaha pembenihan (hatchery) dan di usaha penggelondongan. Salah seorang pengusaha penggelondongan benur di Dusun Kae, Kecamatan Suppa Pinrang, H Beddu, mengakui, saat ini banyak petani tambak membutuhkan benur, namun belum bisa dipenuhi karena suplai benur dari hatchery langganannya belum ada produksi.

Untuk mengantisipasi permintaan benur di tingkat petani, ketua kelompok tani tambak di Lanrisang berinisiatif mendatangkan benur udang windu dari provinsi Lampung. “Kami datangkan dua juta ekor benur dari Lampung untuk memenuhi sebagian kebutuhan benur untuk petani tambak di Pinrang,” ungkap H Sudirman, salah seorang ketua kelompok tani tambak di Kecamatan Lanrisang. Kepala Dinas Perikanan kabupaten Pinrang, Andi Budaya Hamid mengatakan, produksi benur udang windu di pembenihan dan di penggelondongan, tidak mengalami penurunan atau sama dengan produksi pada musim-musim tebar sebelumnya.

Hanya karena permintaan benur oleh petambak semakin meningkat, sehingga pengusaha pembenihan dan pengusaha penggelondongan tidak mampu memenuhi kebutuhan petani tambak. “Meningkatnya kebutuhan benur udang windu saat ini karena ada perubahan pola budidaya yang dikembangkan petani tambak, khususnya di Kecamatan Lanrisang, Mattirosompe dan di kawasan pesisir lainnya di Pinrang. Pada umumnya petambak sekarang memanen udangnya setelah dipelihara sekitar 50 hari karena sudah bisa diserap oleh pasar ekspor dengan ukuran size 60-100 ekor/kilogram,” ungkap Andi Budaya.

Petani tambak udang windu di Pinrang, tambahnya, pada umumnya melakukan budidaya secara sederhana dengan kepadatan tebar 1-2 ekor per meter persegi atau sekitar 10-20 ribu ekor per hektare. Karena kepadatannya tergolong masih rendah, sehingga petambak hanya mengandalkan makanan alami berupa plankton, tanaman air, cacing tanah dan phronima Suppa. “Makanan alami inilah yang mampu mempercepat masa panen udang windu,” katanya.
Dengan kepadatan 10-20 ribu ekor per hektare, kata Andi Budaya, petambak bisa panen sekitar 150-250 kilogram per hektare per siklus.

Prev1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!