Selamatkan Pangan Lokal, Kajian Etnobotani Dilakukan di Kebun Raya Jompie – Pare Pos
Opini

Selamatkan Pangan Lokal, Kajian Etnobotani Dilakukan di Kebun Raya Jompie

Kartika Puspitasari

Laporan : Kartika Puspitasari
( Tim pendamping kebun raya daerah dari LIPI )

KEBUN RAYA merupakan kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ (di luar habitat aslinya) yang memiliki koleksi tumbuhan dengan 5 fungsi yaitu, konservasi, pendidikan, penelitian, wisata dan jasa lingkungan. Semua tumbuhan di dalam kebun raya terdata dan ditata berdasarkan pola pengelompokkan tertentu. Tumbuhan koleksi kebun raya merupakan tumbuhan yang ada di kebun raya dan sudah tercatat di unit kebun raya tersebut. Umumnya merupakan tumbuhan yang berasal dari habitat alami dan bukan jenis yang sudah umum dibudidayakan. Setiap kebun raya daerah memiliki prioritas koleksi yang berbeda berdasarkan endemisitas tumbuhan di daerah tersebut, kelangkaan, status konservasi, dan potensi ekonomi.

Kebun raya yang mulai dikembangkan di Pulau Sulawesi antara lain Kebun Raya Pucak, Kebun Raya Masenrempulu Enrekang, Kebun Raya Megawati Soekarno Putri, Kebun Raya UHO, Kebun Raya Kendari dan Kebun Raya Jompie Parepare.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Kebun Raya Jompie Parepare yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Luasan yang dimiliki sekitar 13.5 Hektare, terletak di pusat kota menjadikannya memiliki nilai lebih terkait dengan penambahan ruang terbuka hijau perkotaan. Letaknya yang sangat strategis menjadi salah satu destinasi wiatawa bagi pengunjung dari berbagai daerah, sekitar 3,5 km dari pusat Kota Parepare atau 156 Km dari Kota Makassar.

Penataan kembali Hutan Jompie menjadi Kebun Raya adalah cikal bakal berdirinya salah satu kawasan konservasi ex situ yang mengusung tema Tanaman Pesisir Wallaceae. Tumbuhan koleksi yang dapat ditemui di Kebun Raya Jompie sebanyak 48 famili, 140 genus, 159 spesies, dan 702 spesimen. Jenis pohon kehutanan mendominasi tumbuhan koleksi di Kebun Raya Jompie terdiri dari pohon berpotensi obat, pohon bernilai ekonomi, pohon berpotensi hias, pohon berpotensi reboisasi (penghijauan) bahkan pohon berpotensi pangan yang mulai dilirik terkait dengan program Sustainable Development Goals.

Salah satu fungsi Kebun Raya yang menarik adalah fungsi penelitian. Beragam penelitian telah dilakukan di Kebun Raya Jompie Parepare mulai dari penelitian tentang tanaman obat, mikroba tanah, potensi wisata dan emisi karbon. Studi pustaka, wawancara dan pengamatan secara langsung terus dilakukan guna menambah kelengkapan data di Kebun Raya Jompie Parepare.

Studi pustaka yang baru-baru ini dilakukan adalah tentang etnobotani pangan lokal pada tumbuhan koleksi Kebun Raya Jompie Parepare.
Etnobotani Pangan di Kebun Raya Jompie Parepare
Pangan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang tidak tergantikan oleh sumber daya lainnya. Pemenuhan pangan telah mendorong manusia untuk melakukan domestikasi berbagai jenis tumbuhan dan membudidayakannya dalam lahan-lahan pertanian atau lahan sekitar pemukiman untuk menanam tanaman pangan. Pangan dalam undang-undang nomor 18 tahun 2012 adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Pangan tidak saja dihasilkan dari lahan-lahan pertanian intensif, tetapi juga berpotensi dihasilkan dari kebun raya.
Studi pustaka dan wawancara yang telah dilakukan menunjukkan bahwa beberapa tumbuhan koleksi Kebun Raya Jompie berpotensi sebagai tanaman pangan dan mampu dimanfaatkan secara lestari. Tumbuhan koleksi yang berpotensi pangan di Kebun Raya Jompie sebanyak 16 jenis 89 spesimen dalam tingkat pertumbuhan pohon.

Keberadaan Kebun Raya Jompie Parepare dapat menjadi wadah bagi konservasi tanaman pangan lokal yang saat ini mulai sulit dijumpai di pekarangan dan kebun warga. Kebun Raya Jompie menjadi benteng terakhir cadangan genetika tanaman pangan lokal terutama tanaman pangan pesisir wallaceae. Kebutuhan pangan Indonesia yang semakin meningkat berdampak kepada pemenuhan lahan baru nasional yang semakin naik. Diperkirakan akan dibutuhkan seluas 4,7 juta lahan bukaan baru. Sebanyak 1,4 juta ha sawah baru diperlukan untuk mendukung produksi padi hingga tahun 2025; dan dibutuhkan sekitar 1,3 juta ha untuk jagung dan 2 ha untuk kedelai.

Dalam konteks perlindungan hutan dan konservasi keanekaragaman hayati, bisa jadi hal ini menjadi sebab potensial bagi perubahan tata guna lahan hutan di masa mendatang dan potensi kelangkaan tanaman pangan akibat pembangunan yang terus meningkat. Kebun raya menjadi solusi alternatif dalam hal konservasi tanaman berpotensi pangan melalui tumbuhan koleksi dengan mengetahui asal-usul tanaman secara jelas dan disesuaikan dengan tema dari masing-masing kebun raya guna mendukung ketahanan pangan.

Sumbangan lain yang diberikan adalah meningkatkan luasan ruang terbuka hijau di Kota Parepare, yang sesuai peraturan disyaratkan mencapai minimal 30% luas wilayah kota. Saat ini, ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Parepare belum menyentuh angka minimal yang disyaratkan, baru sekitar 24 persen (2.406 Ha) dari luas wilayah Kota Parepare (99,33 km2). Terdapat korelasi positif antar keberadaan Kebun Raya Jompie, luasan ruang terbuka hijau dan ketahanan pangan melalui konservasi tanaman pangan lokal. Kebun Raya Jompie Parepare diharapkan mampu menjadi wadah konservasi tumbuhan-tumbuhan bermanfaat bagi masyarakat luas sesuai dengan tema koleksi Pesisir Wallaceae sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!