Gagas Pengurangan Emisi Karbon di Giat Migas, Tiga Mahasiswa Sabet Penghargaan

  • Bagikan

World Health Organization memprediksi pemanasan global akibat emisi karbon dapat mengakibatkan 250 ribu kematian manusia per tahun antara 2030 hingga 2050. Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, sektor energi, yang termasuk di dalamnya usaha penyedia migas, menyumbang 47 persen emisi karbon nasional.

Laporan: Ita M. Hanika                          (Manajer Humas Universitas Pertamina)

Mendukung upaya G20 dalam mengurangi emisi karbon, tiga mahasiswa Universitas Pertamina mengajukan gagasan integrasi penggunaan energi surya dalam kegiatan hulu migas. Inovasi besutan Arief Akhmad Syarifudin, Christianov Agassi Batistuta Sumolang dan Inggrialianthari Rezkhi Trinugrahandini ini diyakini dapat menurunkan CO2 hingga 14 ribu ton per tahun.

“Umumnya metode Thermal Enhanced Oil Recovery atau TEOR dalam pengambilan sisa minyak, menggunakan pembakaran gas. Proses ini menyumbang emisi karbon yang cukup besar. Kami menggagas ide penggunaan energi surya menggantikan gas bumi dalam proses pembangkitan uap,” ungkap Arief dalam wawancara daring, Kamis 24 Maret, lalu.

Metode TEOR dilakukan untuk mengoptimalkan pengambilan sisa minyak yang tidak terkuras. Dilakukan dengan cara menginjeksi uap ke dalam reservoir untuk memanaskan minyak berat (heavy oki) agar kekentalannya berkurang. Alhasil, minyak lebih mudah diangkat ke permukaan.

“Inovasi yang kami ajukan adalah penggunaan Concentrated Solar Power (CSP) yang terdiri dari kumpulan reflector (heliostat) yang berfungsi memantulkan sinar matahari ke central tower (receiver). Panas yang terkumpul di tower akan digunakan untuk memanaskan molten salt sebagai media fluida yang kemudian digunakan untuk memanaskan air menjadi uap. Uap ini akan diinjeksi ke dalam reservoir untuk proses TEOR,” tutur Arief.

Untuk mengatasi masalah ketergantungan cuaca dari energi surya, lanjut Arief, tim melakukan intermittent injection. “Istilah lainnya adalah injeksi selang seling. Jadi, pada malam hari injeksi uap dengan temperatur tinggi akan diganti dengan injeksi air panas. Setelah dilakukan simulasi menggunakan perangkat lunak, efektivitasnya ternyata tidak jauh berbeda dengan injeksi uap temperatur tinggi,” ujar Arief.

Solusi Efisien Raih Penghargaan

Berdasar analisa nilai keekonomian, Arif dan tim menghitung inovasi mereka dapat mengefisiensikan biaya produksi migas hingga 50 persen. Sehingga inovasi ini menawarkan solusi pengurangan emisi karbon dalam kegiatan migas, yang sekaligus juga lebih efisien secara ekonomi.

Inovasi yang dirancang oleh tim dari mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina tersebut berhasil meraih juara 1 di ajang bergengsi tahunan, Oil and Gas Intellectual Parade (OGIP) 2022, yang diselenggarakan oleh UPN Veteran Yogyakarta, pada 5 Maret 2022 lalu.

Inovasi ini juga meraih penghargaan di ajang Annual Petroleum Competition and Exhibition (APECX) 2021. APECX merupakan acara tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers, Universitas Gadjah Mada (SPE UGM-SC).

Bagi siswa-siswi SMA yang ingin berkarir di industri migas masa depan sebagai reservoir engineer, production engineer, drilling engineer maupun wirausaha energi, dapat menjadikan Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina sebagai pilihan.

Saat ini, kampus besutan PT Pertamina (Persero) tersebut kembali membuka pendaftaran Seleksi Nilai Rapor (Non Tes) dan Ujian Masuk Online untuk Tahun Akademik 2022/2023. Universitas Pertamina juga menyediakan beragam beasiswa dengan total nilai Rp 16 Miliar. Informasi lengkap terkait program studi serta syarat dan ketentuan pendaftaran dapat diakses di laman https://universitaspertamina.ac.id/pendaftaran.(*)

  • Bagikan