Oleh : Dr. Rosdinaman Budi, SE,.M.M
Masa menjelang lebaran menjadi periode yang diharapkan oleh pelaku usaha untuk meningkatkan bisnis mereka, karena biasanya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Selama periode ini, perputaran uang cenderung meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa seiring dengan meningkatnya aktivitas belanja, perjalanan wisata, dan konsumsi barang serta jasa.
Lebaran menjadi momen penting bagi sektor ritel, pariwisata, akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi. Aktivitas mudik yang melibatkan ratusan juta orang juga memberi dampak berantai pada sektor sektor tersebut.
Tradisi Lebaran di Indonesia, sebagai perayaan puncak setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan, memiliki dampak ekonomi yang signifikan dan multidimensional di berbagai sektor. Perubahan perilaku masyarakat selama Ramadan, mulai dari tingkat konsumsi harian hingga perubahan jam kerja, berakumulasi dan mencapai puncaknya pada perayaan Idul Fitri, menciptakan dinamika ekonomi yang unik.
Tradisi mudik, atau pulang kampung, yang menjadi bagian integral dari perayaan Idul Fitri, merupakan contoh nyata bagaimana sistem budaya dan religi di Indonesia mempengaruhi pergerakan ekonomi dari satu daerah ke daerah lain. Berbagai sektor ekonomi merasakan dampaknya. Fenomena ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai sosial, spiritual, dan psikologis yang terkandung dalam tradisi mudik memotivasi jutaan orang untuk melakukan perjalanan tahunan.
Perputaran ekonomi yang terjadi selama periode Lebaran tidak hanya terbatas pada sektor transportasi dan konsumsi rumah tangga, tetapi juga merambah ke sektor-sektor lain seperti pariwisata, perhotelan, dan industri kreatif.
Momentum ini ditandai dengan peningkatan aktivitas perdagangan ritel, jasa transportasi, dan sektor keuangan, yang secara kolektif memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Lonjakan permintaan akan barang dan jasa selama periode ini mendorong peningkatan produksi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat dan daya beli konsumen.
Hal ini juga didorong oleh pemberian tunjangan hari raya kepada pekerja, yang secara signifikan meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun, penting untuk dicatat bahwa dampak ekonomi dari tradisi Lebaran juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global, kebijakan pemerintah dan lain-lain.
Secara lebih luas, digitalisasi ekonomi yang semakin pesat juga turut mengubah lanskap ekonomi Lebaran. Perdagangan daring, misalnya, telah memungkinkan konsumen untuk berbelanja dari mana saja dan kapan saja, meningkatkan efisiensi dan kenyamanan.
Pemanfaatan platform e-commerce juga dapat membantu memperluas jangkauan pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi mereka. (*)