Produksi Pesisir untuk Dunia

  • Bagikan


Proses produksi abon di Rumah Abon Ikan Ummi, di Jalan Keterampilan, Kelurahan Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Kota Parepare. -Halim-

Tempat dan alat produksi masih sederhana. Di sebuah rumah di Jalan Keterampilan, RT 01 RW 02 Kelurahan Cappa Galung, Kecamatan Bacukiki Kota Parepare. Di tempat itu, perempuan yang tergabung dalam kelompok Rumah Abon Ikan Ummi, memproduksi ikan tuna menjadi abon. Ada 10 orang anggota kelompok, dikomandoi Juniati sebagai ketua.

Walau di ruangan sederhana, berukuran 4X6 meter persegi, namun aktivitas produksi, menurut Juniati lancar. Di tempat itu dilakukan penghalusan ikan, penggorengan dan pemerasan. Pencucian ikan dan pengemasan dilakukan di ruangan lain.

Aktivitas itu sudah dilakoni sejak 2014. Produksinya masih kecil-kecilan, sebab menggunakan alat produksi seadanya alias tradisional. Beruntung, kelompok ini masuk daftar penerima bantuan dari Coastal Community Development-Internasional Fund for Agricultural (CCD IFAD) yang berpusat di Roma Italia. Diikutkan pelatihan dan dibantu alat produksi.

Ada beberapa pelatihan yang ditawarkan saat itu. Namun kelompok Juniati memilih produksi abon. Karena sudah ada dasarnya. Kelompok ibu-ibu rumah tangga, tetangga Juniati pun digembleng pada pelatihan yang dilaksanakan selama beberapa hari. Setelahnya diberi bantuan alat produksi.

Usai pelatihan, menurut Juniati yang ditemui, belum lama ini, mencoba alat yang diberikan. Membeli ikan tuna 5 kilogram yang pada tahun 2014 harganya Rp200 ribu. Diproduksi dengan bekal hasil pelatihan pun berhasil. Kelompok ini bersuka cita. Walau pemasarannya masih di lingkungan sekitar. Dan hasil produksi tak semuanya laku.

Namun produksi terus dilakukan. Masih dengan 5 kilogram ikan. Pemasarannya mulai menyebar di empat kecamatan di Parepare. Bacukiki, Bacukiki Barat, Ujung dan Soreang.

Hingga Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (PKP) melahirkan inovasi, Berdaya Srikandi Oleh Srikandi, di mana kelompok Juniati masuk sebagai salah satu bagian pembinaan. Karena produksi abonnya dilakukan kelompok perempuan.

"Pendampingan total diberikan. Mulai produksi, pengemasan dan pemasaran. Termasuk pentingnya mengantongi sertifikasi halal. Sangat beryukur, karena bukan saja produksi meningkat, pemasarannnya pun boleh dikatakan mendunia. Terima kasih pendamping dari Dinas PKP dan instansi terkait lingkungan Pemerintah Kota parepare," ungkap Juniati yang ditemui di rumah tempat produksi abonnya, Selasa 21 Juni 2022.

Juniati mencontohkan salah satu hasil pendampingan waktu produksi. Dalam 100 kilogram ikan yang menghasilkan 47 Kg abon, hanya diproduksi dalam waktu 6-7 jam. Padahal sebelumnya sampai 12 jam. "Diberikan tips olahan yang cepat dan hasil yang bagus," ujarnya.

Selain itu soal kemasan. Dari satu menjadi empat. Ada 1 kilogram, 500 gram, 250 gram dan 100 gram. "Ternyata memang betul, permintaan beragam, dari empat kemasan itu. Sebelum pandemi Covid-19, ada salah satu usaha travel umrah memesan 250 gram sebanyak 800 bungkus. Dibawa ke Arab Saudi untuk kebutuhan jemaah dan katanya, buat oleh-oleh di sana," kata Juniati.

Bukan itu saja, Juniati lupa sudah beberapa kali produksinya dibawa keluar negeri. Ia hanya ingat bahwa ada program pertukaran mahasiswa seperti Malaysia, Australia, dan Belanda. "Mereka memesan lumayan banyak, pengakuannya ada pesan khusus dari Australia untuk dibawakan abon. Anaknya kuliah di sana, dan teman-temannya, katanya suka abon Parepare. Alhamdulillah," Juniati semringah.

Ia berharap ke depan, produksi abonnya akan mendunia. Juga produksi lainnnya binaan dari inovasi Berdaya Srikandi oleh Srikandi.

Selain kelompok Rumah Abon Ikan Ummi, ada 12 kelompok binaan di pesisir lainnya. Dengan berbagai macam produksi. Untuk konsumsi dan non komsumsi. Seperti bakso ikan, keripik ikan, siomay, otak-otak dan lainnya. Sementara non konsumsi seperti bros, bingkai foto, lampu dinding, tirai, hiasan dinding dan banyak lagi (lihat boks).

Nah, apa yang melatarbelakangi lahirnya inovasi yang memberdayakan perempaun pesisir itu? Menurut Kepala Dinas PKP Parepare, Wildana, pihaknya melihat potensi pesisir Kota Parepare yang cukup besar, namun terkendala sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan fasilitas yang kurang memadai. Produksi olahan makanan dan kerajinan tangan pun apa adanya. Bertahun-tahun itu terjadi.

Makanya, pihak Dinas PKP, tambah Wildana, menyadari harus ada gebrakan. Mendukung dan memfasilitasi masyarakat yang hanya memanfaatkan sebagian potensi sumber daya alam itu. Yang dibidik adalah kaum perempuan, di mana suaminya sebagian besar adalah nelayan. Maka dibuatlah Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan Parepare Nomor 10 Tahun 2017 tentang Standar Operasional Pelayanan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kota Parepare.

Itu menjadi dasar lahirnya inovasi Berdaya Srikandi Oleh Srikandi yang dilaunching pada 1 Agustus 2018. Tujuan utamanya, meningkatkan partisipasi kerja dan peningkatan produktivitas perempuan pesisir. Pihak Dinas PKP melihat, rendahnya partisipasi angkatan kerja perempuan pesisir di Parepare disebabkan rendahnya keterampilan teknis produksi olahan dan budi daya perikanan serta keterampilan manajerial usaha.

"Juga dalam penggunaan teknologi produksi, pengemasan sampai pemasaran. Makanya dibuat inovasi pemberdayaan perempuan (srikandi) pesisir oleh sarjana perempuan (srikandi) lokal Parepare. Berdaya Srikandi Oleh Srikandi adalah inovasi pemberdayaan dibangun dengan kedekatan jenis kelamin/gender dalam pembinaan dan pendampingan secara langsung dari perempuan untuk perempuan," ujar Wildana, beberapa waktu lalu.

Dikatakan, pelaksanaan inovasi ini menggunakan pendekatan edukatif-fasilitatif terintergrasi dengan pemanfaatan perempuan sebagai pembina dan pendamping kepada perempuan pesisir. Yakni pemanfaatan sarjana perempuan lokal sebagai pembina dan pendamping langsung di lapangan sebanyak 12 orang.

"Pelatihan keterampilan teknis dan praktik penggunaan teknologi produksi yang berulang. Juga studi tiru kepada lebih dari 360 orang yang telah berhasil dalam produksi dan pemasaran, sehingga mampu menjadi tenaga kerja terampil dan produktif dengan mengubah cara kerja tradisional ke teknologi produksi tepat guna," tandas Wildana.

Dikatakan, inovasi Berdaya Srikandi oleh Srikandi mampu meningkatkan kapasitas keterampilan teknis dan manajerial usaha, sehingga dalam kurun waktu 2 (dua) tahun mampu menggerakkan partisipasi kerja dan produktifitas kelompok perempuan pesisir lebih dari 360 jiwa serta sebagian besar menuju pada kemandirian usaha kelompok.

Top Inovasi

Pada Tahun 2020, inovasi Berdaya Srikandi oleh Srikandi meraih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik, dan Wali Kota Parepare, Dr HM Taufan Pawe menerima penghargaan dari Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB), Tjahjo Kumolo.

Menurut Taufan, penghargaan itu menggembirakan karena Inovasi Berdaya Srikandi Oleh Srikandi, setelah tembus Top 45 Inovasi, lolos masuk Top 12 Inovasi tingkat dunia di ajang United Nations Public Service Awards (UNPSA) 2021. UNPSA adalah penghargaan inovasi pelayanan publik internasional yang diadakan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

KemenPAN-RB melakukan seleksi terhadap inovasi pelayanan publik yang memenuhi syarat dan kriteria serta mempunyai potensi keberhasilan. Berdaya Srikandi Oleh Srikandi inovasi Pemkot Parepare dinilai memenuhi syarat dan kriteria.

Tak berhenti di situ. Pada Tahun 2022, inovasi ini kembali mendapat pengakuan tingkat nasional. Program Berdaya Srikandi Oleh Srikandi yang dijalankan Pemkot Parepare lolos menjadi finalis Top Inovasi Pelayanan Publik Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) di Lingkungan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, BUMN, dan BUMD Tahun 2022.

Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik atau KIPP ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Berdaya Srikandi Oleh Srikandi masuk dalam kategori kelompok khusus bersama tiga kota lainnya di Indonesia. Kota Parepare bersama Kota Surabaya, Bandung dan Surakarta terpilih menjadi finalis dari 98 kota se-Indonesia.

(Muh Nur Halim)

  • Bagikan