Darurat Kesehatan Mental pada Kalangan Muda

  • Bagikan

Oleh: Vithra Riani Ayuningtias
Mahasiswi Prodi Bimbingan Konseling Islam IAIN Parepare

Di tengah euforia awal tahun yang bagi sebagian orang merupakan momen menyenangkan dan bahagia, namun ada beberapa kisah memilukan yang terjadi, diantaranya pasangan muda ditemukan tewas pada 3 Januari 2023 di sebuah kamar hotel.

Hal ini sontak menjadi pembuka mata kita mengenai kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia khususnya bagi kalangan muda. Bercermin dari banyaknya kasus bunuh diri sebelumnya, dirasa cukup untuk mengalihkan perhatian kita pada pentingnya untuk menjaga serta mengetahui bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang dianggap sepele.

Kalangan remaja dan dewasa awal, merupakan kalangan yang gampang terganggu kesehatan mentalnya dan menjadi hal yang sering di anggap sepele oleh kebanyakan orang.

Bahkan pandangan masyarakat terkait kesehatan mental sering kali di salah artikan menjadi gangguan jiwa, yang dimana kesehatan mental juga mencakup hal-hal kecil di antaranya cemas serta stres. Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak dapat dipisah dari diri individu, baik sehat secara psikologis, emosional ataupun sosial.

Tidak hanya itu bagaimana seseorang berpikir, merasa, bertindak, hingga pembuatan keputusan merupakan bagian dari kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental yang terjadi pada kalangan muda, biasanya dipicu oleh perubahan pola dan gaya hidup, beban pekerjaan, hingga pengalaman masa lalu.

Berdasarkan hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) menunjukkan bahwa lebih dari 19 juta orang dewasa di atas usia 15 tahun menderita penyakit emosional dan/atau mental. Selain itu, lebih dari 12 juta orang dewasa di atas usia 15 tahun menderita depresi.

Seseorang dengan gangguan kesehatan mental tidak menunjukkan gejala yang mencolok, hanya saja kita tak mengetahui apa yang terjadi dibalik layar ketika mereka menyandiri. Hal yang seperti ini yang kerap muncul dipikiran seseorang bahwa itu merupakan hal yang biasa saja dan akan hilang dengan sendirinya.

Lalu jika seseorang tak menjaga kesehatan mental mereka, akankah muncul hal-hal yang akan memberi dampak negatif? Jawabannya ya, persentase terjadinya gangguan atau penyakit mental akan meningkat.

Contohnya seperti yang dibahas diawal mengenai kasus bunuh diri, yang merupakan perbuatan yang sengaja dan secara sadar dilakukan mengambil nyawa sendiri.

Hal tersebut terjadi dengan berbagai penyebab misalkan mereka tak mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan yang terjadi ataupun tidak dapat menghadapi atau menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.

Ketegangan dan kecemasan yang berkepanjangan, yang menghambat aktivitas dan menurunkan kualitas fisik, adalah salah satu gejala depresi. Manajemen stres dapat digunakan untuk mencegah depresi. Setiap orang mengelola stres dengan cara yang unik.

Beberapa orang mencapai ini dengan terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan seperti hobi, kegiatan santai, tumbuh lebih dekat dengan komunitas agama atau spiritual mereka, atau dengan berbagi pengalaman mereka dengan orang lain.

Bagaimana cara kita menanamkan bahwa menjaga kesehatan mental tiap pribadi itu penting? Dapat dilakukan dengan mulai menghargai diri sendiri, jika bukan kita siapa lagi yang dapat menghargai diri sendiri?

Di tengah banyaknya standarisasi serta tuntutan yang dipikul, orang lain akan mengharapkan yang terbaik bahkan tanpa memberi apresiasi, selanjutnya yakni memahami bahwa setiap tingkah laku memiliki penyebab, dorongan untuk melakukan aktualisasi diri merupakan salah satu cara menjaga kesehatan mental, karena kita mencapai kebutuhan menggunakan kemampuan yang dimiliki dan tidak dipaksakan.

Selain itu, meningkatkan religiusitas tiap pribadi individu dapat menjaga kesehatan mentalnya. Diyakini bahwa meningkatnya keyakinan beragama ini akan membawa efek tenang, dapat dilakukan dengan doa, ritual, meditasi dan lain sebagainya yang berupa bentuk relaksasi tubuh.

Di saat mereka menganut ajaran kepercayaan tertentu, banyak individu berkumpul. Hal ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan saat orang-orang saling membantu.

Memiliki tempat untuk dikunjungi dan seseorang untuk diajak bicara dapat membantu mengobati depresi karena berpikir bahwa kita bukanlah satu-satunya yang akan berjuang.

Menyadari kesehatan mental membutuhkan mempertimbangkan tingkat religiusitas seseorang dan pentingnya keberadaan mereka. Hal ini dapat dicapai dengan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan atau kegiatan konstruktif lainnya untuk membangun kehidupan dan mencapai kesehatan mental.

Di samping itu, pemerintah perlu lebih fokus pada kesehatan mental, terutama untuk kalangan muda, dengan meningkatkan layanan kesehatan mental berbasis masyarakat, terutama bagi orang tua, yang masih merupakan sebagian besar populasi orang tua Indonesia dan seringkali tidak menyadari lingkungan anak-anak mereka dan kebutuhan kesehatan mental.

Banyak orang tua yang menganggap enteng gangguan kesehatan mental ini, yang mengakibatkan anak mereka memendam sendiri hal-hal yang menyebabkannya depresi karena ketidakpedulian orang tua.

Dalam kalangan muda, kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga. Masalah kesehatan mental dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan menyebabkan masalah di dalam keluarga, di tempat kerja, dan di masyarakat.

Jika merasa mengalami masalah kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor. Ini merupakan langkah yang bijaksana untuk memperoleh dukungan dan menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. (**)

Editor: PAREPOS
  • Bagikan

Exit mobile version