Kenakalan Remaja, Kenapa Mesti Menyalahkan Sekolah?

  • Bagikan

Oleh: Anisah Fitri
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam IAIN Parepare

Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang dimana masa ini berisiko akan kegoncangan jiwa, eksplorasi dan pengembangan diri seorang anak. Masa remaja juga sering dianggap sebagai masa pencarian identitas, mulai dari berusaha menjelaskan siapa dirinya, apa dan bagaimana peranannya dalam kehidupan.

Pada usia ini juga terjadi proses perubahan pada kepribadian seorang anak, perubahan tersebut justru menjadi tantangan dan kekhawatiran bagi orang tua di usia anak seperti ini karena seorang anak kadang tidak mampu mengendalikan diri, sehingga bisa lepas kontrol dan terjerumus pada perilaku menyimpang yang disebut sebagai kenakalan remaja.

Kenakalan remaja ditandai oleh dua karakteristik, yaitu adanya keinginan untuk melawan dan adanya sikap apatis (acuh atau cuek) yang disebabkan rasa kecewa terhadap suatu kondisi yang terjadi di dalam masyarakat.

Remaja adalah suatu fase perubahan seseorang yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis dan perubahan sosial. Pada usia remaja, seseorang sudah tidak bisa dikatakan sebagai anak-anak lagi, tetapi juga belum bisa disebut dewasa.

Remaja pada umumnya memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar sehingga ia sangat cepat mencontoh dan mencoba hal baru yang dilihatnya tanpa memikirkan baik atau buruknya hal tersebut. Kecenderungan tidak suka berpikir panjang, sehingga menyebabkan perilaku yang menyimpang terhadap norma-norma dan adat istiadat dalam masyarakat.

Tawuran, balapan liar, minum minuman keras, bullying, hingga pada penggunaan narkotika atau narkoba dan pergaulan bebas merupakan beberapa bentuk kenakalan remaja yang sering ditemui saat ini. Kenakalan remaja ini sering sekali terjadi pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Perkembangan teknologi yang begitu cepat merupakan satu dari banyaknya faktor penyebab kenakalan remaja. Banyaknya konten-konten yang berkeliaran didunia maya yang menyebabkan semua kalangan dapat melihat dan mengeksplorer hal-hal yang ada didalamnya, sehingga berakibat pada terjadinya perilaku menyimpang dikalangan remaja.

Kenakalan remaja yang terjadi saat ini tentu mengganggu ketentram dan kenyaman hidup masyarakat, karena pada kenyataannya perilaku menyimpang ini terjadi di lingkungan masyarakat. Namun kenakalan remaja yang terjadi saat ini, justru sangat disayangkan karena masyarakat sepenuhnya menyalakan sekolah tanpa mengetahui bahwa keberadaan anak-anak di sekolah hanya 8 – 9 jam dan sisanya mereka melakukan interaksi justru kebanyakan pada lingkungan masayarakat dan lingkungan keluarga.

Di sekolah anak-anak memang didik dan diberi pengajaran dengan baik, namun diluar dari sekolah seorang guru sudah tidak dapat lagi melakukan kontrol terhadap setiap anak dan memastikan perilaku dan pergaulan anak selalu pada kegiatan positif.

Sehingga guru selaku pendidik tidak semestinya disalahkan dan menanggung beban akibat bahwa kenakalan remaja terjadi karena ketidakmampuan guru pada saat di sekolah dalam mendidik. Membimbing dan memberi pengajaran terhadap remaja.

Pendidikan di usia remaja tidak menekankan pada pembentukan karakter, namun proses pendewasaan. Oleh karenanya, jika kenakalan remaja yang terjadi saat ini yang justru malah menyalahkan sekolah tentu hal tersebut tidak dapat dibenarkan dan tidak tepat, karena pada dasarnya pada proses pembentukan karakter seorang anak yang menjadi faktor penting adalah lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam hal ini lingkungan masyarakat yang menjadi tempat pergaulan seorang remaja.

Karakter terbentuk akibat adanya kecenderungan mengikuti perilaku yang dilihat oleh seorang remaja serta dari lingkungan tempat remaja tersebut bergaul, seperti pengaruh teman sepermainan. Teman sepermainan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap karakter seorang remaja, karena pergaulan seringkali mengubah jati diri seorang remaja yang awalnya pendiam menjadi pembangkan, yang awalnya betah di rumah menjadi sering keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya tanpa tujuan.

Melihat fenomena kenalakan remaja saat ini, perlu kerjasama antara keluarga, masyarakat dan sekolah untuk sama-sama menanggulanginya, bukan justru menyalahkan satu sama lainnya. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan nonformal tentu perlu melakukan pendekatan terhadap remaja, memberi perhatian, serta memberi sejumlah aturan atau batasan dengan cara berdiskusi dengannya.

Kemudian, pihak sekolah akan bertindak untuk mengawasi dan memberi edukasi dan bimbingan. Dengan terjalinnya kerjasama seperti ini, maka mampu meminimalisir terjadinya perilaku menyimpang yakni kenakalan remaja.

Akhir kata mencari jati tidak harusnya dilakukan melalui proses keburukan, menggali potensi dan kapasitas diri guna mengetahui ada potensi apa pada diri yang nampak lebih baik. Pengalaman kelam yang seharusnya tak dialami harus dijalani hanya demi sebuah eksistensi, eksistensi yang hanya akan membawa nama buruk bagi orang tua dan juga diri sendiri.

Mencari jati diri adalah proses dimana ia menemukan passion yang ada dalam dirinya, dan sesungguhnya tidak ada passion atau jati diri manusia yang menuju kepada kebatilan saja. Bentengi diri dengan iman dan pendidikan serta proteksi dari orang tualah yang dapat memutuskan mata rantai kenakalan remaja. (*)

  • Bagikan

Exit mobile version