Saatnya Umat Bersatu

  • Bagikan

(100 Tahun Tanpa Khilafah)

Oleh

Dianayu Lestari

(Aktif di Komunitas Muslimah Cinta Al-Qur’an)

Dunia masih diam menyaksikan aksi genosida sejak 7 Oktober 2023 terhadap masyarakat yang mayoritas Muslim di Palestina. Bukti yang sangat nyata berbicara bahwa kaum Muslim tidak bisa berharap banyak terhadap para penguasa negeri – negeri Muslim manapun sekarang ini.

Mereka hanya mengecam tapi tidak berani melawan kebiadaban penjajah Zionis Yahudi. Bahkan memfasilitasi masuknya bantuan dari berbagai belahan negeri pun para penguasa negeri-negeri Muslim tidak berdaya. Membagikan sebungkus roti atau segelas air pun mereka takut. Bagaimana dengan badan-badan yang katanya dibentuk untuk menjaga perdamaian dunia?

PBB, OKI, Liga Arab dan badan-badan internasional lainnya? Bagaimana ujung aksi “free Palestine” dari seluruh kaum Muslim maupun non Muslim yang berempati berhasil menjadi top tranding berhari-hari di media-media sosial?

Betapa semua sama merasakan bahwa tidak ada ‘siapa-siapa’ yang bisa membela kaum Muslim di Palestina. Mereka dibantai tanpa ada kekuatan kaum Muslim yang bisa melindungi. Petugas medis di Gaza mengatakan, mereka tidak mampu mengatasi banyaknya korban luka serius, yang terjadi ketika jumlah korban tewas dalam perang selama hampir lima bulan telah melampaui angka 30.000, menurut otoritas kesehatan Palestina. (Nidal Al- Mughrabi-01/03/2024, Reuters.com).

Palestina adalah tanah yang diberkahi oleh Allah Swt. Banyak para Nabi yang tinggal di sana, kiblat pertama ada di sana, banyak sekali mukjizat yang terjadi di bumi Palestina banyak peristiwa penting yang terjadi di sana.

Meskipun sekarang bumi yang diberkahi itu sedang dijajah oleh Zionis, tetapi tidak mengurangi keberkahan dan keimanan mereka kepada Allah Swt., kelak Palestina menjadi bumi yang merdeka. Apa yang menimpa kaum Muslim di Palestina selalu menjadi pelajaran untuk diambil hikmahnya.

Lebih dari itu bahwa ada kewajiban yang harus disadari semua kaum Muslim, bahwa ada kewajiban yang wajib ditegakkan oleh kaum Muslim. Bukan sebatas melahirkan sebanyak – banyaknya hafid/hafidzah melainkan bersamaan dengan itu juga ada kewajiban untuk mewujudkan institusi adidaya yang mampu menjadi penjaga, pembela, pelindung bagi umat manusia, Muslim maupun non Muslim di seluruh dunia, dari kebiadaban para penjajah.

Telah 100 tahun (masehi) lamamya kaum Muslim seluruh dunia tidak hidup dalam naungan institusi Khilafah Islamiyah sejak runtuhnya pada 3 Maret 1924M (bertepatan dengan 28 Rajab 1342H). Kaum Muslim telah terpecah menjadi lebih dari 57 negara, sebagian negara hidup dengan diatur oleh ideologi kapitalis sebagian diatur dengan ideologi Sosialis.

Telah 100 tahun lamanya kehidupan Islam tidak berwujud sebagai sebuah ideologi yang mengatur kaum Muslim agar bisa merasakan Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk semua penghuni semesta). Islam dibenak mayoritas kaum Muslim saat ini adalah sekedar tuntunan untuk mejalankan ibadah ritual terkait Aqidah saja.

Islam mempunyai segenap aturan-aturan bagaimana mengatur seluruh aspek kehidupan (syari’ah) baik sistem ekonomi agar semua sejahtera, sistem kemasyarakatan agar tidak ada ketimpangan sosial, aturan-aturan yang mengatur sistem hubungan internasional dengan negara-negara bangsa lain agar kaum Muslim tetap mandiri dan disegani oleh negara bangsa lain, maupun aspek lainnya.

Tidak ada aspek kehidupan yang tidak ada aturannya dalam Islam (syari’ah). Aturan-aturan Islam bahkan terus diopinikan oleh musuh-musuh Islam sebagai ajaran ekstrim yang bahkan ditakuti oleh banyak kaum Muslim sendiri (Islam phobia).

Dr Mushthafa Hilmi dalam kitabnya, Nizhaam al-Khilafafah fii al-Fikri al-Islaamii, menyatakan, “Persatuan umat itu mengharuskan mereka dihimpun dalam satu sistem pemerintahan, yaitu Khilafah.”

Keterpecahbelahan kaum Muslim dan tidak adanya kepemimpinan Islam saat inilah masalah utama sulitnya mewujudkan kembali institusi Khilafah Islamiyah yang akan meniadakan sekat-sekat anatara kaum Muslim di seluruh dunia dan berada dalam satu komando (Khalifah).

“Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai….(TQS Ali Imran[3] : 103), “Yang diperintahkan ini adalah jalanku yang lurus. Karena itu ikutilah jalan tersebut dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu mecerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian adalah diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa (TQS. Al An’am [6] :153).

Menurut Ibn Taimiyah dalam As-Siyaasah asy-Syar’iyyah, hal 161 dan Dhiya’ad-Din ar-Rais, Al-Islaam wa al Khilaafah, hal.99, menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah adalah kewajiban agama yang paling agung dan aktivitas taqarrub kepada Allah,SWT yang paling utama.

Pemahaman, perasaan kerinduan dan kesadaran yang sama akan tegaknya institusi syari’ah bagi kaum Muslim ini harus terus sama-sama didakwahkan. Khilafahlah yang akan menyatukan seluruh kaum Muslim di seluruh dunia, menerapkan syari’ah Islam secara menyeluruh dan menjadi kekuatan adidaya yang melindungi kaum Muslim dan seluruh manusia dari segala ancaman penjajahan.

Wujud Islam sebagai sebagai rahmatan lil ‘alamin di semua aspek kehidupan hanya bisa dirasakan dan dijangkau kaum Muslim jika institusi Khilafah ini ada. Inilah Solusi yang dibutuhkan oleh kaum Muslim Palestina dan kaum Muslim seluruh dunia. It’s time to be one Ummah. (*)

  • Bagikan

Exit mobile version